Issues
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
November, 2007
-
October, 2007
-
September, 2007
-
August, 2007
-
July, 2007
|
| Arsitektur |
Desain hunian ini diupayakan arsiteknya merespons perubahan cuaca
dan sekaligus menyuguhkan “permainan” massa bangunan yang dinamis melalui
konsep susunan bidang penyekat (layering the bounderies).
Gagasan desain ini bertitik tolak dari keinginan pemilik rumah
untuk memiliki hunian modern dan natural yang berbeda dari rumah tinggal pada
umumnya di Surabaya, Jawa Timur. Dilihat dari kondisinya, lahan yang memanjang
ke belakang seluas 875 m2 ini berada di huk / persimpangan jalan dan satu sisi panjangnya
menghadap ke arah timur sehingga rentan terkena silau cahaya matahari. Untuk
merespons kondisi ini, pemilik memberi kebebasan merancang kepada tim konsultan
arsitektur dan interior R+DA bersama dengan tim pelaksana interior dari
SunFlower. Sebagai ide awal, arsitek Darnan dari R+DA mengusulkan wujud hunian
beratap datar yang merupakan terobosan baru di kompleks ini. Ide atap datar ini
didukung oleh pengolahan bukaan dan bidang penyekat pada massa bangunan. Konsep
ini terbukti dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan estetika yang bernilai
seni tinggi.
read more | | Interior |
Menikmati keindahan sebuah rumah tinggal berarti
mengapresiasi kreativitas arsitek yang telah mengakomodasi kebutuhan dan gaya
hidup penghuninya. Hal inilah yang terjadi pada karya arsitek Cosmas D.Gozali
di kawasan Jakarta Utara.
Arsitek muda Cosmas D. Gozali dari konsultan Arya Cipta
Graha ini memiliki ciri khas dalam merancang yaitu mengolah secara cerdas hubungan
antarruang. Konsep desain ini terwujud berupa penempatan courtyard atau void
menerus terbuka dari lantai dasar sampai ke atap rumah. Desain “rongga” yang
sering disalahtafsirkan orang sebagai buang-buang saja lahan padahal desain ini
efisien untuk kelancaran pengudaraan dan pencahayaan alami. Konsep ini cocok
dengan keinginan pemilik yang berencana membangun rumah baru pada lahan
berukuran 10m x 25m dan dikelilingi oleh rumah tetangga yang tinggi.
read more | | Taman |
Bangunan berarsitektur klasik tanpa pagar tersebut terlihat
asri dalam lingkungan taman bernuansa hijau monokromatik. Permainan tekstur
hijau aneka tanaman mengisi halaman sempit rumah real estat tersebut.
Sebagian besar tanaman yang mengisi halaman rumah ini sudah
tumbuh besar sehingga menyerupai hutan
yang menutupi sebagian besar tampak muka bangunan dua lantai tersebut. Pada
jajaran depan ditanam Callistemon prolific, kembang sepatu (Hibiscus
rosasinensis) dan Philodendron selloum berfungsi sebagai pagar di bagian depan rumah.
Adapun Podocarpus dan Callistemon menyelimuti fasada bangunan dan dinding yang
berbatasan dengan kaveling sebelah. Dengan demikian terbentuk komposisi tanaman
berbentuk tapal kuda yang mengelilingi taman depan, dengan sedikit area terbuka
berupa rumput di bagian tengah serta terdapat akses menuju ke area entrance.
read more | | Wisata |
Tampak deretan pegunungan terjal, tidak beraturan, dan sulit
untuk dilalui. Itulah kesan pertama saat memandang daratan pulau Flores. Sekalipun demikian kenyataannya gunung-gunung ini
menyimpan banyak hal mengagumkan, baik itu kawah-kawah gunung apinya maupun
desa-desa tradisional dengan beragam kerajinan tenun ikatnya .
Pulau Flores sudah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit
pada abad ke-14. Posisinya cukup strategis karena menjadi jalur lintasan
perdagangan kayu cendana dari pulau Timor ke Cina dan ke India. Hal ini membuat
kerajaan Gowa, kerajaan Ternate, Bangsa Portugis dan Belanda berebut untuk menguasai
pulau yang panjangnya 375 km ini. Para pendatang ini berusaha menanamkan pengaruhnya di wilayah
pesisir, tetapi hanya sedikit yang dapat menyentuh daerah pedalaman karena
terhalang oleh deretan pegunungan terjal tidak beraturan. Kini bagian dalam
Flores sudah lebih mudah dicapai dengan adanya jalan yang naik-turun membelah gunung
dan berkelok-kelok. Salah satu hal yang unik di daerah pedalaman ini adalah
kepercayaan tradisional yang tetap berakar kuat pada masyarakat penghuninya.
read more | | Lingkungan Hidup |
”It is my hope that we will rise as one to face this
challenge, and leave a better world for future generations”
Itulah kalimat yang pernah diucapkan Sekjen PBB Ban Ki-moon dalam
upaya memerangi perubahan iklim. Harapan itu pula yang mungkin ingin dicapai dalam
Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim dari tanggal 3-14 Desember 2007 di Nusa
Dua, Bali. Konferensi ini sangat penting karena
di dalamnya dibahas mengenai masa depan kelangsungan hidup umat manusia.
read more | | Gaya Hidup | Budaya minum teh sebenarnya bukan hal yang asing
di Indonesia. Menghidangkan teh pada pagi dan sore hari untuk sejenak bersantai,
sering dilengkapi dengan camilan ringan,
sudah sejak lama menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat kita. Teh
yang memiliki nama latin Camellia sinensis ini dipercaya memiliki banyak
manfaat berkat zat yang dikandungnya. Khasiatnya beragam mulai dari sekadar
pelepas dahaga yang membangkitkan kesegaran di kala penat dan juga memberikan
ketenangan di kala gundah, sampai khasiat vitamin dan antioksidan untuk
kecantikan, serta kemampuannya mencegah datangnya berbagai penyakit seperti
kanker, jantung, dan stroke.
read more | |

|