|
Deburan ombak laut jernih, semilir angin sejuk
dan kesegarannya warna hijau
pepohonan tampak selalu menghiasi Pulau Weh. Lingkungannya yang masih sepi
menghadirkan suasana keheningan alam yang menjadikan tempat ini paling tepat
untuk mencari ketenangan serta menyegarkan kembali pikiran dan tubuh kita.
Pulau Weh yang terletak di ujung barat Pulau Sumatera
ini berhadapan langsung dengan Laut Andaman dan dikelilingi oleh 4 pulau kecil
lainnya yaitu Rondo, Seulako, Rubiah dan Klah. Di pulau yang luasnya 154 km2
ini hanya sedikit dijumpai dataran; sebagian besar adalah lahan berbukit-bukit dengan
puncak tertinggi 617 meter dari permukaan laut. Nama Weh yang berarti pindah, berasal
dari peristiwa terpisahnya pulau tersebut dari daratan Sumatera akibat letusan
gunung api yang terjadi puluhan ribu tahun lalu. Kini jejak-jejak keberadaan
gunung api itu masih dapat kita lihat dari adanya batu-batu besar yang berserakan
di seluruh pulau dan aktivitas vulkanik seperti semburan sulfur atau kolam
lumpur panas di beberapa tempat tertentu.
Pulau Weh sudah dikenal sejak tahun 1881. Ketika itu
pemerintah Hindia Belanda menetapkan Sabang (kota terbesar di Weh) sebagai stasiun
pengisian batu bara bagi kapal-kapal angkatan laut kolonial. Lokasinya yang
strategis di selat Malaka dengan kondisi perairan yang dalam dan terlindung,
membuat Sabang sangat sempurna sebagai pelabuhan alam. Kemudian pada tahun
1895, Sabang resmi menjadi pelabuhan bebas yang melayani kapal-kapal dagang dan
dikelola oleh pihak swasta bernama Sabang Maatschaappij. Sabang direbut oleh
Jepang pada tahun 1942 ketika pecah perang dunia kedua dan menghancurkan
berbagai fasilitas yang ada di sana. Oleh pemerintah Indonesia, Sabang
ditetapkan sebagai daerah perdagangan bebas pada tahun 1970, tetapi ditutup
pada tahun 1985 dan tahun 2000 dibuka
kembali sebagai pelabuhan bebas.
Pulau Weh dapat dicapai dengan menggunakan kapal cepat
selama 45 menit dari Ulee Lheu-Banda Aceh. Kapal cepat ini beroperasi dua kali
sehari yaitu pagi dan sore. Setelah sampai di pelabuhan Balohan, Anda dapat
mencapai kota Sabang dalam waktu sekitar 20 menit dengan kendaraan bermotor. Lalu
lintas yang lengang, jajaran pohon asam besar dan rindang di kiri kanan jalan
serta didukung pula oleh lingkungan yang bersih dan rapi, membuat kota Sabang
semakin asri. suasana asri kota Sabang.
Aktivitas perekonomian pun berjalan santai. Mulai buka di pagi hari. Toko-toko
di Sabang dibuka pagi hari dan ditutup pada siang hari dan baru dibuka kembali pukul 5-6 sore. Di kota ini, pemandangan indah
pulau Weh dapat kita lihat dari atas bukit bernama Sabang Hill. Di tempat terdapat
sebuah rumah tua peninggalan zaman Belanda yang sekarang telah berubah fungsi
menjadi hotel yang juga bernama Sabang Hill. Kita juga dapat menikmati pantai-pantai
indah di sekitar Sabang seperti pantai Kasih, Tapak Gajah, Sumur Tiga semuanya
berpasir putih dan pantai berpasir hitam bernama Anoi Itam di bagian selatan.
Di sepanjang pantai-pantai tersebut dapat dijumpai sisa-sisa perang dunia kedua
seperti benteng atau bungker yaitu lubang perlindungan di bawah tanah.
Daerah tujuan wisata utama di Weh berlokasi pada bagian
barat pulau, yaitu di kawasan Iboih yang dapat dicapai dalam waktu sekitar 1
1/2 jam dengan menggunakan kendaraan bermotor dari Sabang. Di sini terdapat
pantai pasir putih Gapang dan pantai Teupin Layeu sedangkan pulau Rubiah berada
di hadapannya. Alam nan tenang dan damai dengan laut jernih, indah dan kaya
akan berbagai jenis ikan merupakan pemandangan yang sangat mengasyikkan dilihat
dari kedua tempat ini. Perairan Pulau Rubiah yang terkenal akan keindahan
terumbu karangnya dari kekayaan jenis ikan, sangat ideal bagi kegiatan menyelam
dan snorkeling. Hewan laut besar seperti lumba-lumba, pari manta dan hiu paus
pada musim-musim tertentu juga dapat ditemukan di perairan ini. Fasilitas
wisata di kawasan Iboih tersedia cukup lengkap diantaranya pondok sederhana
untuk menginap, rumah makan dengan menu barat, penyewaan alat snorkeling, dive
shop, jalan setapak, penyewaan perahu dan glass bottom-boat. Dahulu ratusan
turis backpacker dan penyelam dari Eropa sering mengunjungi tempat ini. Namun sejak
diberlakukannya kondisi darurat militer di propinsi Aceh, tempat wisata ini
menjadi sepi. Keadaan ini makin diperparah dengan hantaman tsunami di Aceh pada
tahun 2004. Sekarang aktivitas wisata mulai pulih dan para turis mulai berdatangan
kembali sekalipun belum seramai dulu.
Tidak jauh dari Teupin Layeu terdapat kawasan lindung berupa
hutan lebat dalam kondisi cukup baik, yang menjadi tempat tinggal bagi monyet
ekor panjang, babi hutan, kalong dan beranekaragam jenis burung dan reptil. Di
ujung hutan ini, pada sebuah bukit bernama Ujung Ba’u, berdirilah tugu
kilometer nol Indonesia. Dengan menginjakan kaki di titik nol negara sendiri
sambil memandang lautan lepas dalam suasana sunyi yang sekali-sekali dipecahkan
oleh desiran angin di antara daun-daun pepohonan, menimbulkan perasaan bangga
dan menjadi pengalaman tidak terlupakan di Pulau Weh bagi penulis.
-Rifki Sungkar-
|