Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Wisata arrow Terbuai Keheningan Alam Pulau Weh
Terbuai Keheningan Alam Pulau Weh PDF Print E-mail
Monday, 03 September 2007

bluegreen2 Deburan ombak laut jernih, semilir  angin sejuk  dan  kesegarannya warna hijau pepohonan tampak selalu menghiasi Pulau Weh. Lingkungannya yang masih sepi menghadirkan suasana keheningan alam yang menjadikan tempat ini paling tepat untuk mencari ketenangan serta menyegarkan kembali pikiran dan tubuh kita.  

Pulau Weh yang terletak di ujung barat Pulau Sumatera ini berhadapan langsung dengan Laut Andaman dan dikelilingi oleh 4 pulau kecil lainnya yaitu Rondo, Seulako, Rubiah dan Klah. Di pulau yang luasnya 154 km2 ini hanya sedikit dijumpai dataran; sebagian besar adalah lahan berbukit-bukit dengan puncak tertinggi 617 meter dari permukaan laut. Nama Weh yang berarti pindah, berasal dari peristiwa terpisahnya pulau tersebut dari daratan Sumatera akibat letusan gunung api yang terjadi puluhan ribu tahun lalu. Kini jejak-jejak keberadaan gunung api itu masih dapat kita lihat dari adanya batu-batu besar yang berserakan di seluruh pulau dan aktivitas vulkanik seperti semburan sulfur atau kolam lumpur panas di beberapa tempat tertentu.

gapangPulau Weh sudah dikenal sejak tahun 1881. Ketika itu pemerintah Hindia Belanda menetapkan Sabang (kota terbesar di Weh) sebagai stasiun pengisian batu bara bagi kapal-kapal angkatan laut kolonial. Lokasinya yang strategis di selat Malaka dengan kondisi perairan yang dalam dan terlindung, membuat Sabang sangat sempurna sebagai pelabuhan alam. Kemudian pada tahun 1895, Sabang resmi menjadi pelabuhan bebas yang melayani kapal-kapal dagang dan dikelola oleh pihak swasta bernama Sabang Maatschaappij. Sabang direbut oleh Jepang pada tahun 1942 ketika pecah perang dunia kedua dan menghancurkan berbagai fasilitas yang ada di sana. Oleh pemerintah Indonesia, Sabang ditetapkan sebagai daerah perdagangan bebas pada tahun 1970, tetapi ditutup pada tahun 1985  dan tahun 2000 dibuka kembali sebagai pelabuhan bebas. 

zeropointPulau Weh dapat dicapai dengan menggunakan kapal cepat selama 45 menit dari Ulee Lheu-Banda Aceh. Kapal cepat ini beroperasi dua kali sehari yaitu pagi dan sore. Setelah sampai di pelabuhan Balohan, Anda dapat mencapai kota Sabang dalam waktu sekitar 20 menit dengan kendaraan bermotor. Lalu lintas yang lengang, jajaran pohon asam besar dan rindang di kiri kanan jalan serta didukung pula oleh lingkungan yang bersih dan rapi, membuat kota Sabang semakin asri. suasana asri kota Sabang.  Aktivitas perekonomian pun berjalan santai. Mulai buka di pagi hari. Toko-toko di Sabang dibuka pagi hari dan ditutup pada siang hari dan baru  dibuka kembali  pukul 5-6 sore. Di kota ini, pemandangan indah pulau Weh dapat kita lihat dari atas bukit bernama Sabang Hill. Di tempat terdapat sebuah rumah tua peninggalan zaman Belanda yang sekarang telah berubah fungsi menjadi hotel yang juga bernama Sabang Hill. Kita juga dapat menikmati pantai-pantai indah di sekitar Sabang seperti pantai Kasih, Tapak Gajah, Sumur Tiga semuanya berpasir putih dan pantai berpasir hitam bernama Anoi Itam di bagian selatan. Di sepanjang pantai-pantai tersebut dapat dijumpai sisa-sisa perang dunia kedua seperti benteng atau bungker yaitu lubang perlindungan di bawah tanah.

sabang2Daerah tujuan wisata utama di Weh berlokasi pada bagian barat pulau, yaitu di kawasan Iboih yang dapat dicapai dalam waktu sekitar 1 1/2 jam dengan menggunakan kendaraan bermotor dari Sabang. Di sini terdapat pantai pasir putih Gapang dan pantai Teupin Layeu sedangkan pulau Rubiah berada di hadapannya. Alam nan tenang dan damai dengan laut jernih, indah dan kaya akan berbagai jenis ikan merupakan pemandangan yang sangat mengasyikkan dilihat dari kedua tempat ini. Perairan Pulau Rubiah yang terkenal akan keindahan terumbu karangnya dari kekayaan jenis ikan, sangat ideal bagi kegiatan menyelam dan snorkeling. Hewan laut besar seperti lumba-lumba, pari manta dan hiu paus pada musim-musim tertentu juga dapat ditemukan di perairan ini. Fasilitas wisata di kawasan Iboih tersedia cukup lengkap diantaranya pondok sederhana untuk menginap, rumah makan dengan menu barat, penyewaan alat snorkeling, dive shop, jalan setapak, penyewaan perahu dan glass bottom-boat. Dahulu ratusan turis backpacker dan penyelam dari Eropa sering mengunjungi tempat ini. Namun sejak diberlakukannya kondisi darurat militer di propinsi Aceh, tempat wisata ini menjadi sepi. Keadaan ini makin diperparah dengan hantaman tsunami di Aceh pada tahun 2004. Sekarang aktivitas wisata mulai pulih dan para turis mulai berdatangan kembali sekalipun belum seramai dulu.

aneuhitamTidak jauh dari Teupin Layeu terdapat kawasan lindung berupa hutan lebat dalam kondisi cukup baik, yang menjadi tempat tinggal bagi monyet ekor panjang, babi hutan, kalong dan beranekaragam jenis burung dan reptil. Di ujung hutan ini, pada sebuah bukit bernama Ujung Ba’u, berdirilah tugu kilometer nol Indonesia. Dengan menginjakan kaki di titik nol negara sendiri sambil memandang lautan lepas dalam suasana sunyi yang sekali-sekali dipecahkan oleh desiran angin di antara daun-daun pepohonan, menimbulkan perasaan bangga dan menjadi pengalaman tidak terlupakan di Pulau Weh bagi penulis.

-Rifki Sungkar-

 
< Prev   Next >