Gugusan pulau-pulau antara Pulau Sumbawa dan Flores memilik pemandangan sangat unik. Daerah ini berbukit-bukit terjal diselimuti savanna gersang kontras dengan pantai pasir putih dan laut biru di sekelilingnya. Sejak Jaman Jurasik 130-143 juta tahun yang lalu tempat ini dihuni oleh para naga dan kadal-kadal raksasa bernama komodo.
Kepulauan Komodo ini baru mulai dikenal dalam geografi pada awal tahun 1900-an. Setelah satu laporan seorang pelaut Belanda melaporkan penampakan kadal raksasa ini. Kemudian, sebuah ekspedisi pada tahun 1912 telah berhasil mengungkap keberadaan binatang langka tersebut di pulau ini pada tahun 1980 lokasi ini pun ditetapkan oleh Pemerintah menjadi Taman Nasional Komodo, mengingat kadal raksasa tersebut hanya terdapat di kawasan tersebut. Kawasan konservasi ini memiliki wilayah daratan seluas 60.300 hektare dan wilayah lautan seluas 121.400 hektare dengan pulau-pulau besarnya meliputi pulau Komodo, Rinca, Padar, Gili Motang dan Nusa Kode.
Taman Nasional Komodo dapat dicapai dengan cukup mudah melalui penerbangan dari Denpasar ke Labuan Bajo-Flores. Alternatif lainnya adalah ikut paket tur Komodo menggunakan jalur laut dengan perahu dari Bali atau Lombok . Labuan Bajo menjadi titik awal penjelajahan ke Komodo. Kota pelabuhan kecil ini memiliki fasilitas wisata yang cukup baik. Aneka kapal pesiar berlabuh di sini mulai dari kapal layar yacht, pinisi sampai small cruise. Penginapan pun banyak dijumpai di sini, ada yang terletak di kaki bukit, ada dekat pantai dekat ke pusat kota dan pelabuhan, atau pun di pulau. Di sini paket tur dan agen penyelaman juga cukup banyak, menjual berbagai paket kegiatan seperti menjelajahi pulau-pulau sekitar Komodo, menyelam, snorkeling atau tur di obyek wisata lain yang ada di daratan pulau Flores.
Penjelajahan Taman Nasional Komodo dapat dimulai dengan mengunjungi Loh Buaya di Pulau Rinca yang berjarak 1-2 jam perjalanan jika menggunakan perahu. Di daerah ini kita dapat melihat binatang Komodo berukuran sampai 3 meter dengan bobot 90 kilogram, untuk pengunjung yang ingin melakukan kegiatan trekking melintasi padang savanna lontar, melihat pemandangan spektakuler Pulau Rinca dari ketinggian, sebaiknya ditemani oleh polisi hutan. Selain dapat bertemu komodo, kita juga bias melihat rusa, kerbau liar atau kuda liar selama perjalanan. Di Loh Liang-Pulau Komodo, kadal-kadal raksasa yang nenek moyangnya hidup pada 50 juta tahun yang lalu itu, juga dapat dilihat walaupun mungkin tidak semudah di Rinca. Aktifitas trekking pun bisa dilakukan namun sedikit berbeda dengan di Rinca karena jalur yang dilaluinya berupa hutan. Di sini pengunjung memiliki kesempatan untuk melihat beragam burung (sekitar 128 jenis) yang menghuni taman nasional. Selain itu, bagi yang ingin melihat kehidupan tradisional masyarakat asli penghuni pulau Komodo kita dapat mengunjungi Kampung Komodo. Kampung nelayan ini diperkirakan telah ada sejak 100 tahun yang lalu, dihuni oleh orang-orang dari Bima. Dalam perjalanan pulang ke Labuan Bajo, kita dapat mampir sejenak ke Pantai Merah untuk snorkeling menikmati indahnya warna-warni terumbu karang dengan beragam ikannya.
Di bawah perairan kepulauan Komodo, terhampar dunia bawah laut yang menakjubkan, menjadi surga bagi para penyelam. Terumbu karang sehat dengan lebih dari 1.000 jenis ikan, menyediakan puluhan lokasi menyelam menarik. Selain itu di sini juga merupakan jalur migrasi ikan paus sehingga pada waktu tertentu paus sperma, paus biru, paus pembunuh dan berbagai ikan lumba-lumba kadang-kadang melintas.
Kombinasi keunikan daratan dan kekayaan lautan mendapat pengakuan dunia pada tahun 1986 Taman Nasional Komodo ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) oleh UNESCO. Sayang sekali, sebagaimana terjadi di kawasan konservasi di Indonesia lainnya, berbagai kegiatan merusak seperti pengeboman terumbu karang, penangkapan ikan dengan racun atau perburuan liar masih dijumpai pada taman nasional ini.
Rifki Sungkar
|