|
Tampak deretan pegunungan terjal, tidak beraturan, dan sulit
untuk dilalui. Itulah kesan pertama saat memandang daratan pulau Flores. Sekalipun demikian kenyataannya gunung-gunung ini
menyimpan banyak hal mengagumkan, baik itu kawah-kawah gunung apinya maupun
desa-desa tradisional dengan beragam kerajinan tenun ikatnya .
Pulau Flores sudah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit
pada abad ke-14. Posisinya cukup strategis karena menjadi jalur lintasan
perdagangan kayu cendana dari pulau Timor ke Cina dan ke India. Hal ini membuat
kerajaan Gowa, kerajaan Ternate, Bangsa Portugis dan Belanda berebut untuk menguasai
pulau yang panjangnya 375 km ini. Para pendatang ini berusaha menanamkan pengaruhnya di wilayah
pesisir, tetapi hanya sedikit yang dapat menyentuh daerah pedalaman karena
terhalang oleh deretan pegunungan terjal tidak beraturan. Kini bagian dalam
Flores sudah lebih mudah dicapai dengan adanya jalan yang naik-turun membelah gunung
dan berkelok-kelok. Salah satu hal yang unik di daerah pedalaman ini adalah
kepercayaan tradisional yang tetap berakar kuat pada masyarakat penghuninya.
Untuk melihat pedalaman Flores kita dapat memulai perjalanan
dari Labuan Bajo. Kota kecil yang dulunya merupakan pemukiman nelayan ini sekarang
berkembang menjadi tempat wisata karena berfungsi sebagai pintu gerbang
utama menuju Pulau Komodo. Berbagai
fasilitas akomodasi dan restoran tersedia cukup lengkap di kota ini. Di samping
itu, Labuan Bajo juga dapat dicapai dengan menggunakan alat transportasi penerbangan
dari Denpasar. Setelah mengunjungi pulau Komodo, sebagian wisatawan, terutama
wisatawan dari Eropa, melanjutkan kegiatan
dengan menjelajahi pedalaman Flores.
Ruteng merupakan daerah tujuan pertama yang dapat ditempuh
sekitar 4 jam melalui perjalanan darat dari Labuan Bajo. Kota yang didominasi
oleh suku Manggarai ini berada di pusat kawasan Manggarai, pada kaki gunung
dengan hamparan persawahan di sekelilingnya. Tidak jauh dari Ruteng wisatawan
dapat mengunjungi perkampungan tradisional dengan rumah adatnya yang unik dan melihat
suasana indah dan alami di danau Ranamese. Setelah bermalam di sebuah hotel
kecil di Ruteng, pada pagi hari wisatawan dapat mendaki Gunung Poco Ranaka
(2.140 meter) dengan menggunakan kendaraan bermotor, sambil menikmati
pemandangan spektakuler. Atraksi menarik lainnya adalah pertunjukan tarian ‘Caci’,
yaitu pertarungan antara dua lelaki dalam kostum tradisional; yang seorang
bersenjata cambuk sebagai penyerang dan seorang lainnya menggunakan perisai
untuk bertahan.
Persinggahan berikutnya adalah Bajawa dengan jarak tempuh 5 jam perjalanan
dari Ruteng. Kota berudara sejuk ini, berada pada ketinggian 1.100 meter di
atas permukaan laut, dikelilingi oleh gunung-gunung api. Bajawa merupakan pusat
dari kawasan Ngada yang dihuni oleh suku Ngada, salah satu suku paling
tradisional di Flores. Banyak kampung-kampung tradisional yang dapat dijumpai di sini, diantaranya adalah
kampung Bena. Kampung yang berlokasi tidak jauh di Bajawa ini masih memiliki rumah-rumah
tradisional lengkap dengan bebatuan
megalitnya. Selain itu barang kerajinan tenun ikat menarik dan unik juga dapat
diperoleh di Bena. Banyak wisatawan Eropa yang mengunjungi tempat ini sehingga fasilitas akomodasi dan restoran tersedia cukup
baik di Bajawa.
Jika ingin selingan untuk melihat pantai pasir putih maka
Riung adalah tempatnya. Hanya 2,5 jam perjalanan
dari Bajawa, wisatawan dapat bermalam di kota kecil di pesisir utara Flores ini.
Berbagai aktivitas dapat dilakukan di sini seperti berperahu menikmati keindahan
pulau-pulau kecil, mengamati kawanan kalong atau ber snorkeling melihat
keindahan terumbu karang. Dari Riung perjalanan dilanjutkan menuju kota Ende – yang
memakan waktu selama 4 jam, lalu ke Moni dengan jarak tempuh selama 2 jam. Desa
Moni adalah pintu gerbang menuju kawah tiga warna Kelimutu yang sangat terkenal.
Untuk mencapainya, Anda dapat naik kendaraan sampai mendekati kawah lalu diteruskan
berjalan kaki menanjak sekitar 1 kilometer. Setelah itu para wisatawan dapat melihat bentangan alam menakjubkan dari kawah
Kelimutu.
Penjelajahan di pulau Flores ini berakhir di kota terbesar
di pulau ini yaitu Maumere yang dapat dicapai sekitar 4 jam dari Moni. Di kota ini,
para wisatawan dapat bersentuhan kembali dengan dunia modern, sebelum akhirnya terbang
pulang menuju ke Bali.
|