Salah satu bentuk rekreasi yang jarang dilakukan orang
adalah “terbang” dengan menggunakan pesawat ringan. Bentuk rekreasi yang
berhubungan dengan “terbang” di alam bebas ini memang belum menjadi bagian dari
wisata umum, tetapi sudah ada beberapa perusahaan terbang komersial yang
memfasilitasi rekreasi ini dengan memanfaatkan helikopter. Untuk ikut serta
dalam tur udara dengan jenis pesawat nonkomersial ini memang tidak ada jadwal
tertentu. Pengikut tur udara ini memerlukan kesiapan mental dan keberanian
ekstra yang memicu hormon adrenalin ketika berada pada ketinggian antara 2000 –
5000 kaki (dpl), melayang-layang bak burung, sambil menikmati pemandangan alam
perkotaan, pegunungan dan lautan.
Dengan menggunakan pesawat jenis “trike” atau sejenis
gantole bermesin tunggal, Griya Asri berkesempatan untuk turut serta dalam
touring Lido – Pangandaran, pulang pergi.
Tur yang diikuti oleh sekitar 28 pesawat sport jenis microlight ini
merupakan kegiatan rutin bagi para pencinta terbang, dibawah organisasi FASI
(Federasi Air sport Indonesia).
Pesawat microlight ini adalah jenis pesawat berpenumpang 2
orang dengan mesin tunggal, ada yang
bersayap gantole (flexible wing) dan ada juga yang bersayap fixwing. Daya
jelajah jenis pesawat super ringan dengan tangki penuh bahan bakar ini dapat
mencapai durasi terbang antara 3 sampai dengan 4 jam, dengan kecepatan
rata-rata antara 80 km/jam s.d. 150 km/jam. Jarak darat yang ditempuh untuk 1
leg penerbangan relatif cukup jauh, yaitu antara 80 km sampai dengan 150 km
atau 1 – 2 jam penerbangan. Setelah 2 jam penerbangan biasanya pilot dan
penumpang membutuhkan istirahat (landing) sejenak untuk meregangkan otot serta
melakukan biological break (ke toilet). Pada saat istirahat ini biasanya
dilakukan pemeriksaan kondisi pesawat serta pengisian bahan bakar. Karena itu lintasan tur ini juga bergantung
pada kesediaan landasan udara dalam trayeknya, sebagai stasiun untuk pengisian
bahan bakar dan istirahat.
Pada tur yang diikuti Griya Asri pada bulan April 2006 lalu,
trayek yang ditempuh adalah Lido – Bandung (Lanud Soelaiman) – Tasikmalaya
(Lanud Wiriadharma) – Landasan Pantai Pangandaran (dikenal sebagai Landasan
Susi, diambil dari nama ibu Susi yaitu pengusaha eksportir hasil laut yang
merintis penerbangan langsung untuk ekspor hasil laut dari pengandaran ke
Singapura dengan pesawat Cessna Caravan). Griya Asri pada perjalanan ini
menggunakan pesawat Trike Airborne dengan mesin Rotax –582 dengan pilot
Ir.Bambang R.D. Adapun kecepatan jelajah pesawat ini rata-rata 90 km /jam.
Perjalanan yang menempuh jarak darat kurang lebih 360 km ini
memakan waktu sekitar 4 jam, melewati beberapa kota, antara lain; Sukabumi,
Bandung, Cicalengka, Tasikmalaya dan beberapa gunung seperti Pangrango, Malangbong –
Papandayan serta laut selatan di Pangandaran.
Terbang di atas kota-kota Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya
akan terlihat jalan-jalan raya, jalan desa, jalan kereta, jembatan, terowongan,
pasar, rumah penduduk, masjid, sekolah, gedung, mal, stadion, seolah maket
hidup yang terhampar luas dengan kepadatan kota yang tinggi.
Ketika memasuki
wilayah pedesaan diantara kota-kota tersebut terlihat pemandangan area danau,
sungai, saluran irigasi, persawahan, perkebunan, hutan, tanaman industri, dan
empang penduduk yang rumah-rumahnya terlihat nyaman, lapang dan asri.
Diatas wilayah rural yang masih alami, sungai, air terjun,
hutan yang lebat, lembah, danau, gunung, bukit-bukit yang terjal terlihat hijau
rapat dan menakjubkan. Bahkan laut selatan yang biru terlihat diantara
pegunungan yang diselimuti awan merupakan pemandangan yang luar biasa indah.
Perbandingan bentang alam dan manusia yang berada di bawah
sana dengan kita yang berada di udara diantara keluasan langit dan gumpalan
awan sangatlah kontras, sangat mungkin akan timbul perasaan tidak berdaya atau
merasa “nothing” dan menekan rasa sombong, digjaya atau merasa kaya. Timbulnya rasa ini merupakan efek positif
bagi siapapun karena manusia sangat “kecil” dibandingkan alam yang maha luas dan
memilki hukum-hukum alam yang tidak akan dapat diatur manusia.
Rasa takut pada ketinggian mungkin juga timbul manakala
terasa adanya turbulensi yang menerpa pesawat atau kondisi kerapatan awan yang
kadang menerjang, Namun tersebut dapat diatasi manakala persiapan pesawat dan
pengetahuan tentang navigasi atau ramalan cuaca telah diketahui sehingga dapat
diantisipasi dengan mengatur route yang ditentukan sesuai dengan regulasi
penerbangan.
Risiko yang mungkin terjadi selama perjalanan merupakan hal
yang perlu diantisipasi agar dapat dihindari yaitu dengan kesiapan pesawat,
manusianya dan mengikuti semua prosedur & peraturan keselamatan penerbangan
yang ada. Hal yang paling penting adalah perlunya kesadaran bahwa dimanapun
kita berada selalu ada risiko besar bila tidak siap.
Kenyamanan dan pengalaman menikmati perjalanan udara ini
merupakan hal yang positif dalam mengatasi ego manusia yang seringkali merasa
“hebat” dan “besar”, karena dengan sudut pandang yang berbeda (bird eyeview)
maka timbul persepsi baru yang lebih proporsional dan bijak. (Ad)
Tips untuk terbang bagi “penumpang” Microlight
Kondisi badan sehat dan tidak takut terbang (fobia terbang).
Memakai pakaian yang layak untuk terbang seperti celana
panjang, jaket tebal, sepatu, sarung tangan, helmet dan headphone dg microphone
(headset) untuk berkomunikasi dengan Pilot dan menahan hempasan angin atau suhu
yang lebih rendah sampai dengan 10 0C jika ketinggian di atas 5000 kaki. Helmet
dan headset pada umumnya sdh tersedia di pesawat.
Tidak diperkenankan memakai aksesori yang mudah lepas
seperti slayers, hiasan-hiasan atau tali pakaian, agar tidak mengenai propeller
atau tersangkut pada mesin
Membawa barang seperlunya pada tas yang terikat kuat di
badan, agar tidak lepas, seperti kamera, botol minuman.
Bersikap tenang, tunduk pada ketentuan pilot / penerbangan
Terbang dengan microlite, menyadarkan kita betapa kecilnya
kita dibandingkan dengan kekuasaan sang Pencipta, oleh karena itu selalu berdoa
kepada Allah agar diberikan keselamatan dan kelancaran dalam penerbangan.
Di mana tempat-tempat untuk terbang dg Microlight
Di Jakarta dan sekitarnya tempat-tempat berikut memiliki
sarana untuk terbang dengan Microlight, baik sebagai penumpang (introductory
flight) atau bagi yang ingin serius belajar menjadi penerbang (Pilot Microlight):
Lido Solowing Club, lokasinya di landasan Lido (Lido Air Strip), kawasan Lido Bogor,
Jawa Barat.
Cibubur, landasan Cibubur (Cibubur Air Strip), kawasan Bumi
Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur
Landasan Pondok Cabe, Ciputat, Tangerang - Jawa Barat.
Landasan Udara Sulaiman, Bandung. Kawasan Kopo Bandung
Selatan.
Jika ingin mencoba terbang di sarankan untuk datang pada
akhir pekan agar tidak kecewa, karena kebanyakan penerbang microlite baru hadir
pada akhir pekan untuk melakukan hobby terbangnya. Tetapi di lokasi tertentu
seperti di Lido, biasanya meskipun pada hari kerja tetap ada penerbang yang standby.
Sebaiknya untuk mencoba terbang, dilakukan pada pagi hari
(sebelum jam 9 pagi), karena cuaca pada umumnya masih bagus serta belum ada thermal
karena pemanasan bumi oleh sinar matahari yang dapat menyebabkan turbulensi yg
membuat pesawat menjadi berguncang.
|