“Maju, mundur, pindah kiri,
pindah kanan”, demikian instruksi pemandu yang harus diikuti oleh
peserta arung jeram saat menembus derasnya gemuruh air sungai Citarik.
Olahraga arung jeram yang dianggap banyak orang menyerempet
bahaya tersebut kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat
modern. Jenis olahraga ini banyak diminati eksekutif muda yang ingin mengalami
suasana yang lain. Berolahraga ini memang memerlukan keberanian yang memicu
adrenalin. Adrenalin adalah hormon dalam tubuh kita yang dikeluarkan ekstra
ketika kita menghadapi sesuatu yang luar biasa seperti berolahraga arum jeram
tersebut.
Bagi mereka yang baru pertama kali berarum jeram perasaan
was-was itu pasti menyelinap. Mereka takut menghadapi kemungkinan terlempar
dari perahu yang diombang ambingkan arus. Karena itu pengarung jeram dituntut
selalu waspada untuk siap menerima situasi yang tak terduga.
Sebelum masuk perahu para rafter pemula terlebih dahulu
diberikan briefing (taklimat) oleh instruktur.
Dalam briefing tersebut para rafter diharapkan tetap waspada dan
mengikuti aturan. Namun, sebenarnya setelah mengarungi jeram-jeram sungai deras
di atas perahu karet itu tidaklah seseram yang dibayangkan. Bahkan muncul
keinginan untuk mengulang kembali nikmatnya berarung jeram.
Muatan perahu biasanya terdiri atas lima penumpang plus satu
pemandu yang bertindak sebagai instruktur. Semua penumpang harus tunduk pada
aba-aba pemandu yang duduk di belakang perahu.
Di Jawa Barat banyak sekali tempat-tempat untuk berolahraga
arung jeram ini. Salah satu diantaranya yang cukup populer adalah Sungai
Citarik, yang berlokasi tidak jauh dari kota Sukabumi. Selain airnya relatif
jernih, jeramnya juga tidak terlalu berbahaya untuk pemula atau bahkan bagi
yang tidak pandai berenang sekalipun. Menurut banyak orang yang telah sering
mengikuti olahraga arung jeram, Sungai Citarik dikenal sebagai tempat yang
mengasyikkan dan menarik. Sambil berarung jeram para penumpang bisa melihat
keindahan tebing-tebing yang ditumbuhi pepohonan bambu dan pohon-pohon besar. Di
sungai ini kita bisa melihat biawak berenang dan bahkan ada yang sedang
berjemur di atas batu yang berlumut.
Salah satu manfaat olahraga ini adalah dapat membangun
semangat kerjasama. Diantara para penumpang perahu dituntut kerjasama dalam
menghadapi berbagai kemungkinan bahaya yang menghadang. Semangat kerjasama ini
kalau diterapkan dalam dunia kerja akan berdampak positif. Itulah sebabnya
jenis olah raga ini banyak dimintai pimpinan perusahaan atau instansi dengan
tujuan agar karyawannya dapat meresapi arti sebuah kerjasama.
Salah satu penyelenggara olah raga arung jeram di sungai
Citarik ialah PT.Lintas Jeram Nusantara. Paket yang ditawarkan oleh Arus Liar
adalah berbagai fasilitas seperti tempat menginap di Nusa Traditional Cottages
penyediaan pemandu, asuransi, pemberian sertifikat, perlengkapan arung jeram
dan penyelenggaraan api unggun dimalam hari. Di penginapan Nusa terdapat 10
rumah gubuk berupa rumah panggung yang masing-masing berukuran 4 x 2 meter. Satu
gubuk berkapasitas empat orang. Rumah panggung tersebut terbuat dari bambu dengan atap serap. Suasana di tempat ini
sangat nyaman dengan lingkungan hijau dan alamiah. Pohon-pohon peneduh tumbuh
subur dan terawat baik. Jalan dari satu gubuk ke gubuk lain dihubungkan dengan
jalan kecil bebatuan. Ada juga gubuk yang di depannya berdiri tegak bebatuan
sesuai dengan kontur yang ada.
Berada dalam gubuk itu saja sudah mempunyai sensasi
tersendiri. Dari sini terdengar bunyi aliran sungai bagaikan musik alam. Selain
gubuk terdapat pula tempat
peristirahatan khusus, yang digunakan untuk makan sambil lesehan. Area ini juga
digunakan untuk ruang pertemuan yang berkapasitas 40 orang.
Paket lainnya yang ditawarkan Arus Liar ialah outdoor
management training, camping ground, trekking trip, paint ball, offroad trip. Semua kegiatan ini banyak dimintai
karena dapat mengusir rasa kejenuhan yang sering melanda manusia kota.
Ir. RA Amalia Yunita, general manajer PT Lintas Jeram
Nusantara, pengelola biro wisata arung jeram, Arus Liar menyatakan bahwa
kecelakaan dapat terjadi kalau operator pengelolanya tidak dilengkapi
pengetahuan arung jeram dan peralatan yang tidak sempurna karena setiap sungai
memiliki tingkat kesulitan berbeda-beda.
Menurut American Whitewater Affiliation's (AWA), ada enam
kelas sungai berdasarkan tingkat kesulitannya dilihat dari besar-kecilnya riam.
Sungai Citarik termasuk kelas III plus
atau termasuk kelas intermediate. Aliran sungai beriam sedang dan tidak
beraturan.
Olahraga arung jeram mulai berkiprah di Indonesia pada tahun
1992. Awalnya bisnis ini sudah dimulai oleh Sobek International di penghujung
1980-an. Ketika itu Sobek telah menggarap jeram Sungai Alas di Aceh. Sobek
International bermarkas di Colorado, AS, yang terdiri dari sekumpulan rafter
profesional yang telah melanglang buana mencari jeram potensial untuk
dikomersialkan. Mulanya, peminat arung jeram kebanyakan para ekspatriat dan
wisatawan asing yang sudah mengenal lebih dulu olahraga itu di negeri asalnya.
Sekarang peminatnya sudah merambah berbagai kalangan.
(Didan N. Sardjono)
|