|
Dubai adalah cerita tentang sebuah kota dengan
ambisi besar untuk menjadi salah satu kosmopolitan atau kota dunia. Tayangan promosinya di saluran-saluran
televisi hebat sekali, demikian pula di media cetak. Diberitakan bahwa di sana ada reklamasi
berpola daun palem untuk permukiman, rekreasi dan perkantoran; ada arena balap
mobil Formula 1 berkonstruksi canggih, bangunan gedung pencakar langit yang
tertinggi di dunia, arena bermain ski dengan salju buatan dan tentu saja , Burj-al-Arab
yang digaungkan sebagai hotel termahal, tercanggih dan tereksklusif di
dunia.
Karena menggunakan perusahaan penerbangan Emirates
yang bermarkas di Dubai, saya sudah beberapa kali transit di Terminal Sheikh
Rashid, Bandar Udara Internasional Dubai dalam perjalanan ke Istanbul. Wujud bangunannya seperti lemang (makanan ketan
ala Sumatra Barat), berpenampang elips diisi 4 lantai kegiatan yang
berbeda. Dari luar terlihat polos dengan
deretan lubang kaca raksasa berwujud kubah bawang sedangkan di bagian dalamnya
amat mewah dan sedap dipandang. Terminal
ini terkenal dengan duty free shop-nya yang menjual barang-barang elektronik
dengan harga termurah di antara bandara internasional di dunia. Ada pula undian
yang berhadiah mobil termewah di dunia seperti Bentley, Rolls Royce, Ferrari
dan sejenisnya.
Perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan
sebelumnya karena saya benar-benar menuju ke kota Dubai dan tinggal di sana
selama 2 hari atas undangan dari Aga Khan Trust for Culture untuk membentuk
sebuah kelompok minat baru, yaitu kajian pendidikan tinggi bidang Arsitektur di
negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Apa yang dilukiskan dalam tayangan promosi
kota Dubai segera buyar setelah berada dalam perjalanan menuju ke hotel.
Lampu lalu-lintas terpasang di tiap
persimpangan jalan tetapi tidak terlihat ada pejalan kaki yang menyeberanginya
tatkala kendaraan berhenti menunggu lampu hijau. Jalur pedestrian di pinggir jalan tersedia
dengan cukup lebar namun tidak ada pohon peneduh di situ. Jalan-jalan di dalam kota dibuat lebar,
minimum 4 jalur, dan dilalui kendaraan yang berjalan dengan amat kencang
sehingga apabila terjadi kecelakaan biasanya memakan korban jiwa. Di sepanjang
jalan-jalan tersebut didirikan berbagai bangunan gedung yang tampaknya tidak
diatur untuk menghasilkan street picture yang menyenangkan melainkan dibebaskan
semau arsitek atau pemiliknya.
Sebagian besar penduduk kota Dubai adalah para
pendatang yang bekerja di sana. Mereka
pada garis besarnya terbagi dalam dua kelompok, yaitu para tenaga ahli dan para
pekerja kasar. Domisili masing-masing
juga berbeda, demikian pula fasilitas umum dan lingkung-binaannya. Kawasan
permukiman para pekerja kasar merupakan campuran ruko, rusun dan hotel kelas
melati sedangkan barang jualannya setara dengan barang yang dijual di Pasar
Tanah Abang, Pasar Senen atau pertokoan Pasar Pagi di Mangga Dua, Jakarta. Kawasan itu boleh dikatakan tidak memiliki
pohon peneduh maupun tanaman penghias lingkungan. Di malam hari kawasan itu ramai sekali
sehingga kendaraan bermotor harus dijalankan dengan perlahan-lahan karena orang
menyeberangi jalan sesuka hatinya. Mereka adalah para pekerja kasar yang akan
pulang ke negara masing-masing, baik untuk selama-lamanya maupun sekadar cuti. Kedatangan
mereka ke toko-toko di kawasan tersebut adalah untuk membeli oleh-oleh hasil
kerja mereka di perantauan.
Sebaliknya para tenaga ahli bermukim di
kompleks apartemen yang dijaga satpam dan terpisah dari pusat perbelanjaan
serta pusat rekreasi. Kompleks ini berada dalam satu kawasan yang dirancang
secara terpadu oleh para perencana dan arsitek bekerja sama dengan para
pengembang. Kawasan terpadu seperti itu sering
juga termasuk satu atau dua hotel mewah.
Umumnya kawasan-kawasan tersebut berada di daerah baru yang sedikit jauh
dari pusat kota sehingga tidak bising.
Salah satu kompleks mewah yang saya datangi
adalah Souk Medinat Jumeirah atau Pasar Kota Jumeirah. Di situ terdapat dua
hotel mewah bintang lima, sebuah apartemen dan sebuah pusat perbelanjaan yang memadukan
suasana kota Venesia, pasar tradisional Timur Tengah dan fantasia seperti yang
kita temukan di Dunia Fantasi Ancol, Jakarta. Salah satu hotelnya dirancang
bagaikan benteng-benteng berkonstruksi tanah lempung masa silam di Jazirah
Arab, dikombinasikan dengan nuansa air kota Venesia serta atmosfer Hindu
ditambah berbagai pernak-pernik rancangan modern ala Barat. Restoran di hotel itu semuanya menyajikan
makanan dan minuman dengan cita-rasa eksklusif dan penyajian yang
eksperimental. Pusat perbelanjaannya, di
lain pihak, menampilkan nuansa Timur Tengah dengan bahan kayu dan plesteran
kasar sebagai aksen sementara aneka barang dagangannya merupakan komoditi
super-eksklusif nan mahal!. Sebagai
pelengkap “plesiran” adalah hotel Burj al-Arab yang terletak di sebelah kompleks
ini. Di luar dugaan, hotel itu tidak spektakuler sebagaimana ditayangkan dalam
promosinya biasa-biasa saja
Cahayanya di malam hari pun tidak gemerlap,
bahkan cenderung redup. Seorang anggota
rombongan kami menjelaskan bahwa keistimewaan hotel itu terdapat di bagian
interiornya yang sangat spektakuler. Ada
bar & music lounge yang tergantung di sisi luar bagian puncak bangunannya
sehingga kita seakan melayang di angkasa dan, sebaliknya, ada restoran di bawah
permukaan laut. Sambil bersantap kita
dapat melihat aneka satwa lautan atau justru sebaliknya, ditonton para penghuni
laut tersebut. Namun kita harus menginap
di sana untuk dapat menikmatinya atau dibawa teman yang menginap di sana.
Dubai adalah sebuah kota yang didominasi jalan
raya dan kendaraan bermotor seperti kota-kota di Amerika Serikat. Tidak ada yang bepergian dengan sepeda di
sana karena jarak dari satu fasilitas umum ke fasilitas umum lainnya amat jauh.
Sebuah bangunan gedung biasanya sudah menyediakan berbagai fasilitas umum
sehingga para penggunanya tidak perlu lagi ke luar bangunan, atau berkendaraan
apabila ingin mencari suasana lain. Namun
sepeda motor, juga moge (motor gede) tidak terlihat di jalanan. Warga Dubai tampaknya tidak suka kepanasan
atau barangkali tidak suka tiupan angin mengandung pasir lembut yang dianggap
membahayakan kesehatan mereka apabila mengendarai sepeda motor. Kota ini tidak
seramai kota-kota dunia lainnya. Barangkali karena masih dalam tahap
pembangunan. Namun saya merasa warga kota ini tidak seramah kota-kota dunia di
Asia seperti Singapura, Kuala Lumpur, dan Tokyo. Untung banyak tenaga kerja
yang berasal dari Asia. Mereka murah
senyuman sehingga keramah-tamahan kota Dubai saat ini sepenuhnya “dikuasai oleh
para tenaga kerja tersebut, bukan oleh warga setempat. Keinginan untuk
mendatangkan para wisatawan ke Dubai kelihatannya masih jauh dari harapan. Selama berada di kota itu saya tidak pernah
melihat bus yang membawa rombongan wisatawan keliling kota dan menyinggahi
tempat-tempat tertentu di sana. Bahkan
rombongan kami pun dibawa ke kompleks Souk Madinat Jumeirah dengan kendaraan carteran
yang hanya dapat memuat 8 orang, sudah termasuk supirnya.
Berdarmawisata ke Dubai? Ah, plesiran saja laa!
|