Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Wisata arrow Dubai,... Dubai
Dubai,... Dubai PDF Print E-mail
Saturday, 15 December 2007

dsc06422Dubai adalah cerita tentang sebuah kota dengan ambisi besar untuk menjadi salah satu kosmopolitan atau kota dunia.  Tayangan promosinya di saluran-saluran televisi hebat sekali, demikian pula di media cetak.  Diberitakan bahwa di sana ada reklamasi berpola daun palem untuk permukiman, rekreasi dan perkantoran; ada arena balap mobil Formula 1 berkonstruksi canggih, bangunan gedung pencakar langit yang tertinggi di dunia, arena bermain ski dengan salju buatan dan tentu saja , Burj-al-Arab yang digaungkan sebagai hotel termahal, tercanggih dan tereksklusif di dunia.

dsc06424Karena menggunakan perusahaan penerbangan Emirates yang bermarkas di Dubai, saya sudah beberapa kali transit di Terminal Sheikh Rashid, Bandar Udara Internasional Dubai dalam perjalanan ke Istanbul.  Wujud bangunannya seperti lemang (makanan ketan ala Sumatra Barat), berpenampang elips diisi 4 lantai kegiatan yang berbeda.  Dari luar terlihat polos dengan deretan lubang kaca raksasa berwujud kubah bawang sedangkan di bagian dalamnya amat mewah dan sedap dipandang.  Terminal ini terkenal dengan duty free shop-nya yang menjual barang-barang elektronik dengan harga termurah di antara bandara internasional di dunia. Ada pula undian yang berhadiah mobil termewah di dunia seperti Bentley, Rolls Royce, Ferrari dan sejenisnya.

Perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan sebelumnya karena saya benar-benar menuju ke kota Dubai dan tinggal di sana selama 2 hari atas undangan dari Aga Khan Trust for Culture untuk membentuk sebuah kelompok minat baru, yaitu kajian pendidikan tinggi bidang Arsitektur di negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam.  Apa yang dilukiskan dalam tayangan promosi kota Dubai segera buyar setelah berada dalam perjalanan menuju ke hotel.

dsc06426Lampu lalu-lintas terpasang di tiap persimpangan jalan tetapi tidak terlihat ada pejalan kaki yang menyeberanginya tatkala kendaraan berhenti menunggu lampu hijau.  Jalur pedestrian di pinggir jalan tersedia dengan cukup lebar namun tidak ada pohon peneduh di situ.  Jalan-jalan di dalam kota dibuat lebar, minimum 4 jalur, dan dilalui kendaraan yang berjalan dengan amat kencang sehingga apabila terjadi kecelakaan biasanya memakan korban jiwa. Di sepanjang jalan-jalan tersebut didirikan berbagai bangunan gedung yang tampaknya tidak diatur untuk menghasilkan street picture yang menyenangkan melainkan dibebaskan semau arsitek atau pemiliknya. 

Sebagian besar penduduk kota Dubai adalah para pendatang yang bekerja di sana.  Mereka pada garis besarnya terbagi dalam dua kelompok, yaitu para tenaga ahli dan para pekerja kasar.  Domisili masing-masing juga berbeda, demikian pula fasilitas umum dan lingkung-binaannya. Kawasan permukiman para pekerja kasar merupakan campuran ruko, rusun dan hotel kelas melati sedangkan barang jualannya setara dengan barang yang dijual di Pasar Tanah Abang, Pasar Senen atau pertokoan Pasar Pagi di Mangga Dua, Jakarta.  Kawasan itu boleh dikatakan tidak memiliki pohon peneduh maupun tanaman penghias lingkungan.  Di malam hari kawasan itu ramai sekali sehingga kendaraan bermotor harus dijalankan dengan perlahan-lahan karena orang menyeberangi jalan sesuka hatinya. Mereka adalah para pekerja kasar yang akan pulang ke negara masing-masing, baik untuk selama-lamanya maupun sekadar cuti. Kedatangan mereka ke toko-toko di kawasan tersebut adalah untuk membeli oleh-oleh hasil kerja mereka di perantauan. 

dsc06413Sebaliknya para tenaga ahli bermukim di kompleks apartemen yang dijaga satpam dan terpisah dari pusat perbelanjaan serta pusat rekreasi. Kompleks ini berada dalam satu kawasan yang dirancang secara terpadu oleh para perencana dan arsitek bekerja sama dengan para pengembang.  Kawasan terpadu seperti itu sering juga termasuk satu atau dua hotel mewah.  Umumnya kawasan-kawasan tersebut berada di daerah baru yang sedikit jauh dari pusat kota sehingga tidak bising.

Salah satu kompleks mewah yang saya datangi adalah Souk Medinat Jumeirah atau Pasar Kota Jumeirah. Di situ terdapat dua hotel mewah bintang lima, sebuah apartemen dan sebuah pusat perbelanjaan yang memadukan suasana kota Venesia, pasar tradisional Timur Tengah dan fantasia seperti yang kita temukan di Dunia Fantasi Ancol, Jakarta. Salah satu hotelnya dirancang bagaikan benteng-benteng berkonstruksi tanah lempung masa silam di Jazirah Arab, dikombinasikan dengan nuansa air kota Venesia serta atmosfer Hindu ditambah berbagai pernak-pernik rancangan modern ala Barat.  Restoran di hotel itu semuanya menyajikan makanan dan minuman dengan cita-rasa eksklusif dan penyajian yang eksperimental.  Pusat perbelanjaannya, di lain pihak, menampilkan nuansa Timur Tengah dengan bahan kayu dan plesteran kasar sebagai aksen sementara aneka barang dagangannya merupakan komoditi super-eksklusif nan mahal!.  Sebagai pelengkap “plesiran” adalah hotel Burj al-Arab yang terletak di sebelah kompleks ini. Di luar dugaan, hotel itu tidak spektakuler sebagaimana ditayangkan dalam promosinya biasa-biasa saja

meena-bazaar1Cahayanya di malam hari pun tidak gemerlap, bahkan cenderung redup.  Seorang anggota rombongan kami menjelaskan bahwa keistimewaan hotel itu terdapat di bagian interiornya yang sangat spektakuler.  Ada bar & music lounge yang tergantung di sisi luar bagian puncak bangunannya sehingga kita seakan melayang di angkasa dan, sebaliknya, ada restoran di bawah permukaan laut.  Sambil bersantap kita dapat melihat aneka satwa lautan atau justru sebaliknya, ditonton para penghuni laut tersebut.  Namun kita harus menginap di sana untuk dapat menikmatinya atau dibawa teman yang menginap di sana.

Dubai adalah sebuah kota yang didominasi jalan raya dan kendaraan bermotor seperti kota-kota di Amerika Serikat.  Tidak ada yang bepergian dengan sepeda di sana karena jarak dari satu fasilitas umum ke fasilitas umum lainnya amat jauh. Sebuah bangunan gedung biasanya sudah menyediakan berbagai fasilitas umum sehingga para penggunanya tidak perlu lagi ke luar bangunan, atau berkendaraan apabila ingin mencari suasana lain.  Namun sepeda motor, juga moge (motor gede) tidak terlihat di jalanan.  Warga Dubai tampaknya tidak suka kepanasan atau barangkali tidak suka tiupan angin mengandung pasir lembut yang dianggap membahayakan kesehatan mereka apabila mengendarai sepeda motor. Kota ini tidak seramai kota-kota dunia lainnya. Barangkali karena masih dalam tahap pembangunan. Namun saya merasa warga kota ini tidak seramah kota-kota dunia di Asia seperti Singapura, Kuala Lumpur, dan Tokyo. Untung banyak tenaga kerja yang berasal dari Asia.  Mereka murah senyuman sehingga keramah-tamahan kota Dubai saat ini sepenuhnya “dikuasai oleh para tenaga kerja tersebut, bukan oleh warga setempat. Keinginan untuk mendatangkan para wisatawan ke Dubai kelihatannya masih jauh dari harapan.  Selama berada di kota itu saya tidak pernah melihat bus yang membawa rombongan wisatawan keliling kota dan menyinggahi tempat-tempat tertentu di sana.  Bahkan rombongan kami pun dibawa ke kompleks Souk Madinat Jumeirah dengan kendaraan carteran yang hanya dapat memuat 8 orang, sudah termasuk supirnya. 

Berdarmawisata ke Dubai? Ah, plesiran saja laa!  

 
< Prev   Next >