|
Belajar dari Alam di Kaliandra |
|
|
|
|
Tuesday, 26 September 2006 |
Udara dingin pegunungan menyapa kedatangan
rombongan Griya Asri di kampung wisata Kaliandra (Pusat Pendidikan Alam
dan Budaya Arjuna). Perjalanan panjang yang melelahkan dari Jakarta – Surabaya
seakan-akan hilang ketika menghirup udara dingin yang segar itu. Suasana alam
pedesaan yang nyaman dan dikelilingi rindangnya pepohonan dan sambutan ramah
tuan rumah semuanya terasa menyenangkan.
Akhir-akhir ini objek wisata
alam seperti ini banyak dikunjungi kaum turis. Bagi warga kota kegiatan rutin
dan sangat padat yang dialami mereka dirasakan amat melelahkan dan menimbulkan
kejenuhan. Bagi mereka kegiatan pariwisata tidak hanya sekadar melihat
keindahan alam saja tetapi juga berinteraksi serta memahami alam lebih intens.
Pusat Pendidikan Alam dan
Budaya (PPAB) Kaliandra merupakan objek wisata yang berfokus pada alam dan
budaya Jawa Timur. Objek alam yang ditawarkan di sini berupa objek asli seperti
perkampungan Jawa yang berada di lereng pegunungan Gn.Arjuna. Kaliandra adalah
daerah yang berada di desa Dayurejo kecamatan Prigen, kabupaten Pasuruan – Jawa
Timur. Lokasi objek wisata yang bersebelahan dengan Taman Safari Prigen ini
berada pada ketinggian 850 m di atas permukaan laut, di kaki utara gunung
Arjuna. Secara selintas kilas tidak ada
yang istimewa dari objek wisata ini. Namun, setelah kita berada di sini dan
mengikuti setiap aktivitas yang ditawarkan, banyak hal dan manfaat yang dapat
dipetik dari kunjungan wisata ke sini.
Bangunan di dalam kompleks
ditata sebagaimana layaknya sebuah perkampungan
Jawa. Hal ini tampak pada taman gaya pedesaan yang lebih mengutamakan
aspek keteduhan daripada aspek keindahan. Bangunan tersebut menempati bagian
datar dari keseluruhan kaveling yang lahannya berkontur.
Gaya arsitektur Jawa yang ditampilkan
merupakan bagian dari konsep budaya Jawa yang ingin diperkenalkan kepada
pengunjung. Rumah joglo pada bangunan pendopo menjadi pusat aktivitas sosial
masyarakat desa Dayurejo. Mereka dilatih untuk terampil bermain musik gamelan,
menari dan kesenian Jawa lainnya. Dalam hal ini pengunjung juga dilibatkan
untuk saling berinteraksi dengan mereka.
Pengelola Kaliandra membuat
paket-paket wisata yang dikelompokkan berdasarkan usia dan kelompok komunitas
tertentu. Semua aktivitas tersebut bertumpu pada pendidikan lingkungan hidup
dan memperkenalkan budaya masyarakat di sekitarnya. Anak-anak diberikan
pengalaman yang baru ketika mengikuti kegiatan memanen sayuran organik atau
diberikan latihan memainkan musik gamelan. Kegiatan lain yang dapat dilakukan pengunjung
adalah jalan-jalan ke area kebun organik yang luasnya mencapai 15 ha, turun
naik bukit dan melewati jembatan bambu yang diselimuti tumbuhan pakis. Semua
kegiatan ini sungguh menyenangkan.
Selain tumbuhan produktif
seperti sayuran dan buah-buahan, yang semuanya dibudidayakan secara organik
(tanpa menggunakan bahan kimia buatan pabrik) juga tanaman obat keluarga
(toga). Tanaman obat ini diolah menjadi jamu dan obat-obatan tradisional yang
menjadi usaha sampingan di lokasi wisata ini. Pisang berlian, nangka dan nanas
yang menjadi produk unggulan desa Dayurejo diproses menjadi
keripik yang bebas bahan pengawet. Kopi hangat yang disajikan untuk para tamu pun merupakan olahan dari kebun
sendiri.
Setiap tamu disuguhi makanan
yang sehat karena diolah segar tanpa menggunakan bahan kimia. Meskipun begitu
makanan sehat itu diolah bervariasi seperti layaknya standar menu hotel
berbintang. Bila hasil kebun tidak dapat memenuhi kebutuhan logistik dapur,
pihak pengelola meminta pasokan dari penduduk sekitar tetapi tetap dengan
standar kualitas yang telah ditentukan yaitu harus serba organik.
Semua roda kegiatan dalam
kawasan wisata diupayakan selalu mengacu pada prinsip ramah lingkungan (eco-friendly). Untuk memasak di dapur
digunakan kayu bakar yang bukan merupakan barang langka di desa ini. Sumber air
berasal dari mata air gunung Arjuna yang kualitas airnya memenuhi standar
kualitas layak minum. Aliran air tersebut mengalir ke segala penjuru tanpa
menggunakan pompa listrik pendorong yang memanfaatkan gaya gravitasi karena
tanahnya yang berkontur. Perlengkapan penunjang di dalam vila diupayakan
menggunakan bahan daur ulang dan ramah lingkungan.
Griya
Asri banyak memetik manfaat dari
perjalanan ke Kaliandra ini. Dengan hanya beberapa hari menginap di lingkungan
bersih seperti ini kami merasakan kesegaran jiwa dan raga. Kesederhanaan di
Kaliandra dapat dijadikan refleksi diri agar kita bisa bercermin dari alam.
Suara gending musik gamelan masih sayup-sayup terdengar, mengiringi
langkah-langkah kami meninggalkan tempat yang eksotis ini.
Viva Rahwidhiyasa
Peliput : Djoni Waridan, Didan
Fotografer : Ahkamul Hakim
|