|
Friday, 10 November 2006 |
Taman seperti apakah yang paling pas sebagai pelengkap
bangunan bergaya neo klasik ? Taman keluarga
R.B. Pangaribuan yang diliput Griya Asri ini dapat dijadikan satu alternative
yang dapat menjawab pertanyaan ini.
Pertanyaan diatas ini muncul ketika keluarga muda dengan dua
putra ini hendak menyelesaikan proses pembangunan rumah barunya di kawasan
Bintaro – Jakarta Selatan. Berbagai referensi termasuk dari majalah Griya Asri
dibuka untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang taman yang cocok
diterapkan. Pada akhirnya pilihan jatuh pada Widjatmiko Heru seorang arsitek
lanskap untuk merancang pembangunan taman keluarga muda ini.
Rumah
klasik pada umumnya dilengkapi dengan taman yang kental dengan sentuhan formal
yang serba rapi dan simetris. Namun gaya semacam ini bagi pemilik rumah
tersebut dirasakan terlalu formal dan kurang sesuai dengan karakternya. Oleh
karena itu Heru memodifikasi tema formal taman dengan memberi sedikit sentuhan alami. Dalam hal ini pada
area tertentu komposisi formal dibuat lebih dominan, sedangkan pada area
lainnya didominasi dengan sentuhan yang lebih alami. Pembagian proporsi seperti
ini disesuaikan dengan fungsi, kebutuhan dan estetika terhadap sosok bangunan.
Seperti
yang terlihat pada taman depan, dominasi gaya formal pada ruang luar tampak
kentara. Bangunan dua lantai yang jauh lebih tinggi dari jalan terasa semakin
lebih tinggi dan tampak menonjol. Karakter fisik fasada seperti ini sengaja ditonjolkan
agar konsep rancangan taman depan terlihat lebih simpel. Untuk itu, taman depan
diarahkan sebagai unsur dekoratif pada fasada, dan diisi dengan tanaman-tanaman
yang memiliki aneka warna, tanaman berbunga dan tanaman yang dapat dibentuk
estetis. Dengan demikian keseluruhan komposisi tampak lebih indah. Pancuran
bertingkat yang ditempatkan tepat di muka pintu utama dan simetris di tengah menjadi
penegas untuk gaya taman ini.
Taman dalamnya
memberikan kesan yang berbeda karena dirancang dengan konsep yang berbeda pula.
Taman samping yang menghubungkan bagian depan dengan taman belakang, lebih
didominasi oleh sentuhan natural. Tanaman-tanaman tropis yang karakter
tumbuhnya liar, mengisi area di sepanjang dinding kaveling. Meskipun demikian setiap
kelompok tanaman berada pada komposisi yang teratur dan tampak indah. Tanaman
rendah yang tumbuhnya bergradasi diakhiri dengan lili paris (bakung) yang
berfungsi sebagai tanaman filler dan berfungsi sebagai penutup komposisi. Selanjutnya,
agar taman terasa lebih luas, komposisi tanaman ditarik ke arah tepi dinding dan
ke arah tepi bangunan, sehingga area rumput yang digunakan sebagai mini putting
golf pada bagian tengah menjadi terasa lebih lapang. Permainan warna pada area
taman samping ini tidak dihadirkan melalui tanaman bunga tetapi melalui tanaman
hias daun yang warnanya tidak hanya hijau monokromatik.
Taman belakang yang berfungsi sebagai area pribadi keluarga
juga dirancang sebagai taman aktif karena sering digunakan sebagai tempat beraktivitas
bagi keluarga di ruang luar. Kolam renang yang berbentuk persegi memanjang
menjadi bagian utama dari taman belakang ini. Suara air dan efek kesejukan yang
ditimbulkan oleh air menjadikan tempat ini sangat nyaman yang tidak hanya
dirasakan bila berada di taman tetapi juga dapat dirasakan dari arah ruang
keluarga yang berdampingan dengan kolam ini.
Taman
belakang selain untuk melengkapi kolam renang juga dipersiapkan untuk tempat
beraktivitas penghuni rumah. Hamparan rumput bertekstur halus mengisi area yang
lapang, dengan beberapa tanaman palem
sadeng sebagai peneduh yang ditanam berjajar. Selanjutnya, komposisi tanaman natural
mengisi sudut-sudut yang berdampingan dengan bangunan agar dapat memperlunak kesan
kaku dari sosok bangunan. Dengan konsep taman seperti ini aktivitas yang biasa
dilakukan keluarga di taman belakang menjadi lebih nyaman.
(Viva Rahwidhiyasa)
Fotografer : Ahkamul Hakim
Lokasi : Rumah Kel. R.B. PangaribuanBintaro – Jakarta Selatan
Arsitek Lansekap : Widjatmiko Heru dari PT. Agla Paradipta
Tama
|