Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Taman arrow Keheningan yang Menenangkan
Keheningan yang Menenangkan PDF Print E-mail
Thursday, 01 June 2006
Air jernih mengekspresikan suatu gambaran keheningan, kesucian dan kedekatan dengan alam. Kehadiran air pada taman seringkali menjadi "magnet" yang memberi pesona tersendiri.

Kehadiran air pada taman bisa berwujud dalam berbagai cara. Air mengalir dari pancuran tinggi ke kolam yang lebih rendah atau hanya sekadar kolam rendam dengan permukaan air yang diam tidak beriak. Kesemua bentuk konsep taman air tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu sebagai upaya untuk menghadirkan suasana tertentu yang ingin dimunculkan di tempat tertentu.

Sebuah taman yang berada di tepi pantai di Jimbaran-Bali, dimaksudkan berfungsi sebagai pelengkap bangunan yang digunakan sebagai wedding chapel. Pemandangan alam pantai menjadi tema utama yang ingin dimunculkan disini. Interaksi taman dan pantai menjadi prioritas utama pada awal perancangan konsep ruang luar bangunan. Batas kapling yang seolah-olah disamarkan merupakan upaya agar memberi kesan menyatu dan tanpa batas.

Bangunan chapel yang unik sudah merupakan pusat perhatian utama di sini. Bangunan menyerupai tenda berdiri kekar seolah-olah ingin menggapai tingginya langit yang biru.  Sesuai dengan fungsinya sebagai bangunan untuk kegiatan yang sakral diperlukan suasana hening dan tenang. Apalagi kalau suasana hening ini ditingkat oleh suara deburan ombak laut.

Kolam air tenang mengelilingi dua buah bangunan chapel sehingga massa bangunan yang berwarna putih terlihat menonjol seperti mengambang di atas air. Beberapa kamboja yang percabangan batangnya artistik menambah keindahan suasana sekitar chapel. Sebuah perdu berbunga ungu dari jenis Bougainvillea menjadi aksen diantara dominasi warna bernuansa putih dan biru. Selebihnya, sejauh mata memandang yang terlihat hanya permukaan air yang tenang seolah-olah saling bertumpang tindih dengan permukaan air laut yang tenang tanpa riak.

Massa bangunan lain yang letaknya terpisah-pisah tetap disatukan oleh taman air dengan konsep yang sama. Pohon-pohon asli yang dipertahankan keberadaannya ditempatkan pada “kantung-kantung” seolah-olah menyembul dari permukaan air yang tenang. Masih dengan  pola yang sama, sekelompok Bougainvillea warna ungu menjadi aksen untuk memberikan dinamika pada satu area pandang.

Pada area  penunjang aktivitas, kehadiran air muncul dalam konsep yang berbeda yaitu dalam bentuk pancuran. Gerakan air muncul dari media pancuran yang jatuhan airnya ditampung dalam media kolam di bagian dasar. Media pancuran dari batu candi hitam yang sudah terlihat tua dan berlumut memberi kesan natural hadir dengan varian bentuk yang memberi dinamika. Suara yang muncul karena pergerakan air tetap dibuat "minim" untuk tetap menjaga suasana hening taman air ini.

Kesan minimalis memang sangat terasa pada taman air di Jimbaran - Bali ini. Keheningan suasana yang mendukung fungsi utama bangunan merupakan prioritas utama dalam pengembangannya. Keheningan suasana di sekitar taman sungguh menenangkan pikiran, suatu suasana yang sesuai dengan fungsi wedding chapel di sana.

Viva Rahwidhiyasa

Peliput                     :  Yuli Andyono
Fotografer                : Ahkamul Hakim
Lokasi                      : Tirtha Bali – Uluwatu - Jimbaran - Bali
Landscape Desainer : Made Wijaya

 
< Prev   Next >