|
Wednesday, 14 May 2008 |
Akili Museum of Art yang berlokasi di kawasan Jakarta Barat yang diliput ini menerapkan konsep alun-alun Jawa untuk penataan bangunan-bangunan penunjangnya. Seperti halnya konsep sebuah alun-alun tradisional, semua bangunan berorientasi ke taman yang luas dan terbuka.
Keberadaan taman terbuka ini mempunyai daya tarik tersendiri pada
museum pribadi ini. Taman di desain simpel berupa lapangan rumput pada
permukaan tanah yang datar, yang mengingatkan kita pada konsep
alun-alun yang berada di pusat kompleks keraton.
Area museum ini dapat menampung berbagai macam kegiatan yang berbeda seperti sebagai museum untuk koleksi benda seni pemilik dan sebagai rumah istirahat di akhir pekan (week end house) bersama keluarga dan kolega. Kegiatan yang beragam ini ditampung oleh tiga massa bangunan yang terpisah. Setiap bangunan memiliki karakter yang berbeda.
Fungsi taman menjadi “penyatu” terhadap massa bangunan yang karakternya berbeda itu. Selain itu, taman juga menyatukan massa bangunan sehingga terasa lebih berkesinambungan melalui selasar dan taman di salah satu sisinya. Penempatan empat pohon kamboja di empat titik sudutnya terasa “monumental”. Keberadaannya selain sebagai penyeimbang terhadap skala bangunan dan luasan ruang juga menjadi daya pikat karena bentuk dan karakter tanaman yang artistik.
Penonjolan karakter tanaman juga dipertegas melalui keberadaan pohon ketapang kencana yang ditanam berjajar pada lahan memanjang di sisi kolam renang. Karakter pohon ini terasa unik dengan bentuk percabangan yang horizontal dan khas. Komposisi tanaman terhadap kolam renang menjadi pusat perhatian yang utama dari bangunan lounge and dining yang berada tepat di tengah. Seluruh bangunan yang menghadap ke taman dibiarkan transparan sehingga kehijauan taman menjadi bagian dari konsep interior yang dirancang dari ruang-ruang dalamnya.
Selasar yang menghubungkan antar massa bangunan dilengkapi dengan taman yang simpel dengan komposisi homogen tanaman Irish yang padat. Bila tertiup angin tanaman ini akan bergoyang bagaikan hamparan padi di sawah. Beberapa
kamboja meneduhi area di seputar selasar sehingga terasa nyaman ketika berjalan menyusuri selasar. Dinding masif yang menjadi pembatas kaveling diberi ornamen dengan tanaman dolar merambat berdaun besar yang terlihat indah dan dekoratif.
Secara keseluruhan, kehadiran tanaman terhadap ruangan-ruangan publik ini menjadi “oase” yang memberi keteduhan dan ketenangan. Tidak ada permainan warna dari tanaman. Semuanya serba hijau dan menyejukkan. Yang ada hanyalah beragam karakter tanaman dengan beragam tekstur dan gradasi warna yang berbeda. Karakter percabangan pohon, gerakan tiupan angin dan suara gesekan dedaunan yang muncul karenanya menjadi bagian dari konsep ruang luarnya. Di sini terciptalah keheningan yang total dan keteduhan yang ideal untuk melengkapi bangunan di wilayah urban.
Lokasi: Akili Museum of Art, Jakarta Barat
Arsitek Utama: Jeffrey Budiman
Arsitek Proyek: Mozes I. Mulyawan
|