Pemakaian hardmaterial secara cerdas bisa
dijadikan ikon untuk mempertegas karakteristik sebuah taman. Pengolahan elemen
ruang dan penempatan aksesori yang bernilai seni tinggi secara tepat merupakan
hal yang sering diimplementasikan pada rancangan taman di kawasan perkotaan. Kondisi
ini tampak kentara pada taman keluarga Rudiantara dan Rini di kawasan Menteng –
Jakarta Pusat.
Taman yang mengedepankan peranan hardmaterial ini dibuat
dengan bantuan I Nyoman Miyoga, desainer lanskap yang berdomisili di Bali. Taman
rumah tinggal yang kental dengan sentuhan Islami ini memiliki karakteristik
yang khas dan jarang dijumpai di tempat lain.
Ide awal perancangan taman ini bermula dari keinginan
keluarga untuk membuat rumah dan taman yang mempunyai sentuhan Islam. Keinginan
ini muncul karena keluarga ini terpesona dengan keindahan taman-taman di
negara-negara Islam yang sempat dikunjungi mereka. Taman yang teduh dan tenang
layaknya sebuah resor juga menjadi obsesi keluarga. Berhubung luas untuk taman
hanya 200 m2 maka konsep resor masih bisa diterapkan tetapi tidak terlalu
berkesan “liar”.
Miyoga mengakomodasi obsesi tersebut dalam sebuah konsep
rancangan taman tropis yang disesuaikan dengan konsep hunian di wilayah urban
(perkotaan). Konsep urban ini biasanya terbentur pada lahan yang terbatas,
sehingga perlu pengolahan cerdas yang lebih mengutamakan aspek praktis, aspek
fungsional tanpa mengabaikan aspek estetika. Elemen-elemen alam yaitu air,
batu, tanaman dan angin menjadi bagian dari perancangan. Lahan yang terbatas
disikapi dengan pengolahan elemen hardscape secara cerdik sehingga taman tampil
lebih elegan.
Kolam renang pada taman belakang merupakan “jiwa” dari
keseluruhan taman ini karena kehadiran kolam ini menjadi sumber “kekuatan” yang
membentuk suasana. Penempatan kolam renang yang berdampingan dengan ruang-ruang
komunal dalam rumah menjadi terasa efektif karena adanya interaksi antar ruang
dalam dan taman.
Bentuk kolam renang yang persegi memanjang sedikit
‘dimainkan’ dengan membuat pancuran bertingkat yang memberikan suara gemercik
sekaligus sebagai sumber putaran air yang memberi dinamika. Ide bentuk pancuran
meniru ide dari kolam air terjun di depan Istana Denmark yang mempesona. Posisi
pancuran sengaja tidak ditempatkan di tengah melainkan sedikit ke ujung pada
sisi sebelah kiri, karena justru pada posisi ini letak pancuran terlihat
simetris dari arah bukaan pada ruang makan.
Dinding tinggi yang berhadapan dengan bangunan diolah
maksimal karena merupakan orientasi pandangan yang dominan bila kita berada di
ruang dalam. Dinding tersebut juga menjadi latar belakang diantara komposisi
tanaman di depannya.
Struktur dinding ditutup dengan batu andesit yang disusun
horizontal seperti pasangan batu bata yang berselang seling. Dengan demikian
terbentuk ornamen berupa satuan batu andesit yang berbentuk lengkung dengan
pahatan alam.
Lahan tersisa untuk penempatan soft material sangat sempit,
hanya sekitar 150 cm jaraknya antara tepi kolam dan dinding. Agar efektif lahan
yang sempit tersebut dibuat bertingkat sehingga mampu menampung boks tanaman
lebih banyak. Dinding tinggi diimbangi dengan komposisi tanaman yang tinggi
seperti pandan Bali dan beberapa jenis palem yang keduanya memiliki perakaran
serabut sehingga tidak mengganggu struktur di sekitarnya. Adapun kamboja yang
ditempatkan di titik sudut dihadirkan untuk menjaga keseimbangan bentuk karena
ditanam menjulur ke arah permukaan kolam.
Taman depan dirancang lebih diutamakan untuk menjadi
penyangga (buffer) terhadap keramaian lalu lintas di luar rumah. Kebetulan
posisi rumah tepat berseberangan dengan pasar ikan hias yang memanfaatkan jalur
hijau di kawasan ini. Konsep taman diarahkan untuk memberi aura keteduhan di
seputar rumah. Konsep teduh ini diwujudkan dengan menempatkan tanaman pohon
yang kanopinya memberi keteduhan di sekitarnya. Posisi pintu masuk sengaja
dibuat tinggi yang diimbangi dengan pagar yang juga tinggi. Dengan cara ini bila kita berdiri pada posisi
teras, pemandangan yang terlihat adalah kanopi pepohonan.
Beberapa benda seni ditempatkan di luar yang merupakan
replika yang dicuplik dari beberapa buku dan rekaman video bangunan-bangunan
Islam. Benda seni ini dikreasikan oleh para perajin batu di Bali. Permainan
pola lantai, pengolahan dinding pembatas dengan hunian tetangga serta
penempatan aksesori berupa patung dan lampu taman menjadi aksentuasi dan bentuk
kreativitas yang memperindah penampilan taman ini.
Viva Rahwidhiyasa
Fotografer : A.Hakim dan Viva
Lokasi : Kel. Rudiantara dan Rini Menteng – Jakarta Pusat
Landscape Desainer :
I Nyoman Miyoga
Arsitek bangunan :
Lukman Bustomi dan Rahman.
|