| Bertualang di 'Hutan Tropis' |
|
|
|
| Tuesday, 01 August 2006 | |
|
Memiliki lahan yang luas dan penuh pepohonan yang rindang
sukar didapat pada hunian di wilayah urban seperti kota Jakarta. Keistimewaan
itulah yang terdapat pada taman rumah keluarga Arifin Panigoro yang berlokasi
di kawasan Jakarta Selatan.
Sudah beberapa tahun lahan disekitar rumahnya berupa ruang terbuka hijau berada, kini keluarga Arifin Panigoro memetik hasilnya. Hunian ini berada di lingkungan strategis yang mudah dijangkau dari berbagai arah di pusat kota, tetapi tetap terasa seperti berada di wilayah hijau yang teduh di pinggiran kota. Pohon buah-buahan yang telah sekian tahun ditanam kini telah tumbuh tinggi dan menciptakan atmosfer keteduhan di sekitar bangunan tropis yang hanya menempati sekitar 10 % dari total 6000 m2 luas total kaveling. Suasana teduh yang sudah terbentuk tetap dipertahankan, sedangkan taman yang berada di bawah keteduhan pohon diubah sesuai dengan perkembangan trend taman saat ini. Selepas menikahkan putranya yang terakhir, timbul keinginan Arifin untuk merenovasi dan mengubah konsep tamannya yang dirasa sudah ketinggalan zaman. Ingin mendapatkan suasana baru yang lebih segar Arifin meminta saran beberapa kerabat sampai akhirnya muncul ide untuk membuat taman tropis yang didominasi dengan koleksi unik tanaman palem dan tanaman tropis lainnya. Untuk merealisasikan keinginan tersebut Arifin bekerja sama dengan Berto dan Heri Syaefudin untuk merancang dan proses pembangunan tamannya. Kedua ahli taman ini membayangkan suasana hutan tropis untuk diterapkan. Sebuah mata air keluar dari satu titik. Airnya turun mengalir ke arah sungai yang berkelok-kelok dan area sekitarnya ditumbuhi tanaman tropis yang tumbuh liar di sepanjang aliran sungai. Di satu tempat aliran sungai melebar sehingga terbentuk kolam yang berisi ikan-ikan hias. Pengalaman kita menapaki bebatuan yang terselip diantara taman tersebut bagaikan kita bertualang di hutan tropis.
Dari arah
teras di samping rumah yang menghadap ke arah kolam renang, tampak sebuah
bangunan joglo yang digunakan untuk musala. Terdapat pula sebuah bangunan
sederhana dengan atapnya yang khas seperti bangunan rumah Kudus yang menjadi eye
catcher pada area ini. Seperti yang sudah diimajinasikan letak sumber aliran
seolah-olah sebuah mata air yang berada pada posisi kiri bangunan. Lalu air
mengalir seperti aliran sungai mengelilingi bangunan musala dan berakhir pada
sisi yang berseberangan. Pada satu ‘titik’ aliran sungai melebar membentuk
kolam yang letaknya tepat pada pertemuan dengan aliran kolam renang yang
posisinya lebih tinggi. Aliran kolam renang dirancang dengan sistem overflow
seakan-akan menyambung dengan aliran air sungai, meskipun kenyataannya keduanya
memiliki sistem sirkulasi air yang saling terpisah. Beberapa tanaman besar yang merupakan tanaman lama tumbuh di sekeliling bangunan musala. Beberapa jenis pohon terutama palem merupakan tanaman baru agar suasana hutan tropisnya lebih kentara. Tanaman pengisi (filler) yang berada di taman berperan besar untuk menciptakan suasana alamiah bagaikan di hutan tropis. Batu-batu yang membatasi aliran sungai disamarkan dengan tanaman yang tumbuhnya menjuntai supaya tidak terasa kaku dan masif. Komposisi semak seperti ini menyelimuti bangunan musala sehingga dari kejauhan hanya terlihat atapnya yang berwarna terakota menyembul diantara pepohonan, terlihat sangat natural. Menapaki bebatuan yang menutup hampir seluruh permukaan tanah mengikuti jalur jalan kecil mengantarkan kita ke arah sudut-sudut lainnya pada taman. Tidak jarang kita harus merunduk ketika melewati tanaman gantung yang daunnya sudah menjuntai. Kadang-kadang kita harus melompat dari batu ke batu lainnya ketika menyeberangi aliran sungai yang sempit, atau melewati jembatan kayu yang dibawahnya mengalir air yang lebih deras. Menelusuri taman di kediaman Arifin Panigoro ini rasanya bagaikan kita bertualang pada sebuah hutan tropis berukuran mini. Viva Rahwidhiyasa |
| < Prev | Next > |
|---|


















