|
Wednesday, 21 February 2007 |
Melengkapi akuarium dengan tanaman ada seninya. Bahkan mendesain
aquascape, begitu istilahnya, seperti layaknya membuat desain untuk taman.
Seni membuat taman di dalam air (aquascape) belakangan ini
menjadi populer dan merupakan hobi baru bagi kalangan tertentu. Melihat tanaman air dalam suasana yang khas seperti
sebuah taman rendam memiliki daya tarik tersendiri. Jernihnya air dan pantulan
cahaya lampu seakan-akan merefleksikan beragam jenis dedaunan yang bergoyang
lembut seiring dengan gerakan halus aliran air didalam akuarium. Berbeda dengan
akuarium pada umumnya, aquascape lebih mengutamakan pada perawatan tamannya
bukan kepada ikannya. Hal ini disebabkan karena tidak semua jenis ikan cocok
disandingkan dengan tanaman yang jumlahnya mendominasi isi akuarium. Ada jenis-jenis ikan yang
menjadi terganggu pertumbuhannya karena tanaman di sekitarnya, dan ada pula jenis ikan yang suka merusakkan
tanaman tersebut seperti jenis ikan mas koki.
Pada prinsipnya kehadiran tanaman menjadi bagian dari
keseimbangan ekosistem di dalam air. Secara sederhana hubungan keduanya
dijelaskan sebagai berikut. Ikan membutuhkan oksigen untuk pernafasannya dan
mengeluarkan karbon dioksida sebagai buangannya, sebaliknya tanaman menyerap
karbon dioksida tersebut sebagai bahan baku
selama proses fotosintesis untuk diubah menjadi makanan untuk membangun
tubuhnya. Hubungan yang saling menguntungkan tersebut berjalan secara natural
di alam. Keuntungan lainnya, tanaman
berfungsi sebagai biofilter yang menyerap kotoran dan urin ikan yang lambat
laun bisa berakibat racun untuk pertumbuhan ikan itu sendiri.
Tanaman air
tersebut ditanam seperti layaknya tanaman darat, yaitu di dalam media tumbuh
berupa pasir kuarsa yang dicampur dengan pupuk khusus yang diproduksi khusus untuk
aquascape. Supaya terlihat bersih dan tanaman tertahan didalam media tanam,
permukaan media dilapis lagi dengan pasir yang masih bersih (tanpa campuran
pupuk) dan permukaan tanah dibuat berkontur supaya tampak berdimensi. Susunlah tanaman
di dalam komposisi seperti layaknya komposisi di dalam taman. Ukuran, tekstur,
karakter tumbuh dan warna disusun bergradasi tinggi rendahnya sehingga terlihat
berdimensi dari setiap arah. Komposisi tanaman tersebut juga dapat dikombinasikan
dengan pelengkap materi keras dari batu dan kayu yang telah memfosil sebagai
ornamen. Pemakaian batu karang untuk akuarium air tawar ini tidak dianjurkan,
karena kandungan kapur yang tinggi dari batu karang tersebut dapat mempengaruhi
kualitas air yang berakibat negatif untuk pertumbuhan tanaman.
Lingkungan tumbuh dalam air diupayakan mendekati kebutuhan
tanaman. Kebutuhan cahaya misalnya diperoleh melalui sorotan lampu yang kualitasnya
menyerupai cahaya natural. Untuk aquascape sebaiknya digunakan lampu fluorescent yang berbentuk tabung yang memiliki beberapa keunggulan
seperti hemat energi dan cahaya yang dihasilkan merata tetapi tidak menimbulkan
panas. Kelemahannya adalah intensitas terbatas sehingga akan efektif bila ditempatkan
pada ketinggian maksimum 60 cm dari permukaan air akuarium. Sebagai contoh
adalah akuarium ukuran 70 x 70 x 60 cm (tinggi) menggunakan pencahayaan
berkekuatan 7000 Kelvin dengan kapasitas 150 watt yang dinyalakan selama 8 jam
sehari.
Suhu di dalam air dijaga agar tidak melebihi 26o C karena
lebih dari itu dapat menyebabkan tanaman tidak sehat pertumbuhannya bahkan
lambat laun menjadi mati. Untuk menjaga temperatur air perlu digunakan alat
tambahan yaitu chiller controlled yang berfungsi sama dengan Air Conditioned
(AC) dengan sistem portabel yang dihubungkan dengan air melalui pipa instalasi.
Kadar karbondioksida dalam air dijaga dalam kondisi seimbang supaya proses kehidupan
dalam air berjalan normal. Untuk mengontrol kadarnya digunakan indikator CO2
yang diletakkan di dalam air. Perubahan warna pada indikator menunjukkan kandungan
CO2 dalam air yang mungkin kadarnya cukup, lebih atau kurang.
Viva Rahwidhiyasa
|