Ada
warna oranye di dekat warna hijau, ada warna biru dipadu warna merah dan
kuning, ada juga warna jambon dikombinasikan dengan warna hijau. Semua warna
tersebut berada dalam posisi yang berseberangan atau menurut istilah awam
disebut warna bertabrakan. Di tangan Sam Bimbo warna-warna bertabrakan tersebut
menjadi harmonis karena kepekaannya dalam memilih setiap gradasi warna yang
dipadukan.
Kita mengenal Sam Bimbo sebagai seorang penggubah lagu, penyanyi
dan pemimpin kelompok musik Bimbo, yang terdiri dari Sam, Acil, Jaka dan Iin
Parlina. Kelompok yang berdiri akhir tahun 60-an ini telah merilis berbagai gaya lagu dan tema “gado-gado” yang enak di
dengar. Ternyata Sam Bimbo yang nama lengkapnya Raden Lukmansyah Kameswara Muhamad
Samsudin Dayat Harjakusumah juga piawai dalam melukis.
Sam kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan seni lukis
yang diselesaikannya pada tahun 1968. Dua orang pembimbingnya yaitu Prof Ahmad
Sadali (almarhum) dan Prof Srihadi Sudarsono, dua orang maestro seni lukis Indonesia,
telah memberikan ilmunya kepada Sam secara intens.
Sam berhasil menuangkan ekspresi jiwanya secara murni lewat
kanvas setelah proses merenung dan berkontemplasi. Namun, kadang-kadang di
menjumpai kegagalan atau ketidakpuasan. Sebaliknya membuat rencana dulu secara
matang dapat mengendalikan gejolak emosinya.
Dalam karya musik Bimbo terdapat beragam tema seperti
lagu-lagu bertemakan kehidupan sehari-hari, lagu cinta, balada alam semesta,
jenaka dan main-main, dan adapula yang bertema religius. Dalam bidang melukis Sam
tidak berfalsafah rumit dan panjang, tetapi menurut kata hati sesaat. Ada tema alam semesta dalam bentuk abstrak, ada tema sosial
dan peristiwa alam yang dahsyat seperti tsunami dan banjir dengan gaya realisme, ada tema
wayang yang dekoratif, ada sindiran politik dan yang mengesankannya adalah tema
religius berupa kaligrafi. Karya kaligrafi Sam memang unik, tetap dengan gaya perpaduan warna yang
berani namun dekoratif dengan garis dan
bentuk yang lugas.
Gambaran menyindir (sarkastis) tampak pada lukisan Jakarta
Banjir. Dengan jenaka digambarkan seorang gadis ( model), yang tinggal di kota metropolitan naik
gerobak yang didorong rakyat kecil. Banjir adalah juga kesempatan untuk mencari
nafkah. Ada
ikan arwana, ada penyu ada ikan hiu kecil. “Kalau banjirnya besar seperti
lautan tentu yang datang hiu yang besar” demikian kelakar Sam.
Pemandangan alam digambarkannay secara abstrak dengan
permainan warna ceria yang kontras tetapi harmonis, seperti dalam Landscape dan
Bukit Cipatat, Bandungku panas, dan Bunga. Dalam gaya abstrak ini Sam “bermain” dengan warna
melalui lapis lapis media yang ditumpuk menciptakanbarik-barik melalui goresan
dan sapuan kuas atau pisau palet serta mempermainkan komposisi bentuk dan warna
yang seimbang.
Suatu waktu Sam tertarik akan bentuk burung garuda, yang
sebenarnya bukan hanya lambang dari Indonesia saja tetapi juga
merupakan lambang perdamaian dari beberapa negara lain. Falsafah burung perkasa
yang kuat dan gigih mempertahankan prinsip bahkan rela mati demi perjuangan
yang suci, menarik untuk dilukiskan. Contohnya Jatayu dalam epos Ramayana yang
membela kesucian dewi Shinta serta garuda dalam gaya
pewayangan atau versi Bali digambarkan dengan beraneka gaya.
Kadang-kadang Sam ingin meninggalkan media akrilik yang
biasa digunakannya. Dia ingin bermain dengan media grafis dipadu dengan mounting
foto dan teknik cetak peperti dalam Diplomasi Ping Pong RRC dan Amerika, 1971,
atau dalam karya kaligrafi Surat
Al Ashr,2005.
Berbincang tentang lukisan kaligrafinya, Sam paling
bersemangat karena jiwa lukisannya sesuai dengan kehidupan keseharian yang
dijalaninya. Dia merasa bangga dengan menuliskan huruf Arab melalui garis dan
bentuk yang disederhanakan sehingga jelas dan lugas sehingga menjadi media
berkomposisi yang sangat dinikmatinya. Temanya sederhana seperti Salam, Inna
Sholati dan Surat
Al Ashr. Lukisan kaligrafinya yang dekoratif, sesuai untuk pajangan interior
rumah atau pajangan musala bergaya modern kontemporer.
Pameran tunggalnya yang digelar di Bentara Budaya Jakarta
awal Mei 2007 adalah Pameran tunggalnya yang ketiga. Konsentrasi mempersiapkan pameran
tersebut memberinya semangat baru dalam melukis. Dia berjanji tahun depan akan berpameran lagi dengan tema
yang lain.
Pameran lukisan Sam Bimbo tersebut mengawali peringatan 40
tahun Kelompok Bimbo berkarya yang pada acara puncaknya berupa Konser 40 tahun
Bimbo bagi Bangsa yang akan digelar di
Tennis Indoor Senayan, 22 Agustus 2007.
|