Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Seni arrow Tiga Pematung Beda Generasi
Tiga Pematung Beda Generasi PDF Print E-mail
Tuesday, 26 September 2006
s1Wiyoso Yudoseputro, 78 tahun, Agoes Saliem, 48 tahun dan Budi L.Tobing, 40 tahun.  Tiga orang pematung dari generasi yang berbeda namun berasal satu “akar”. Akar mereka adalah belajar dan kemudian mengajar di bidang seni rupa, dan sekaligus berprofesi sebagai pematung. Wiyogo adalah guru Agoes dan guru Budi. Pada suatu kesempatan mereka berpameran karya bersama di Jakarta.

s2 Pak Wi, panggilan akrab Prof.Dr.Wiyoso Yudoseputro, hampir 50 tahun setia pada bidang pendidikan. Selama kurun waktu yang demikian panjang, beliau mengajar sejarah seni dan budaya di Seni Rupa ITB, almamaternya, di Seni Rupa USAKTI dan di Seni Rupa IKJ. Sampai kini beliau masih pulang pergi dari Bandung ke Jakarta setiap minggu. Tak heran bila hasil karya seni rupa peninggalan nenek moyang kita telah menyatu dengan dirinya. Tokoh-tokoh legenda, dewa-dewa dari kepercayaan Hindu dan Budha, bentuk totem dan patung primitif, area yang ada di candi-candi dan motif hias masa lalu di seluruh Nusantara, menjadi ide dan inspirasi pada karya patungnya. 

s3 Mandala Gita Lalita (Keabadian keindahan lagu suci) misalnya adalah berupa patung kepala wanita yang berkesan magis, sedangkan Nagagini (istri Bima dalam fragmen Mahabharata) berupa patung dari akar kayu berbentuk ular naga yang diberi warna.  Seni mematung yang berlekuk-leluk dengan detail-detail rinci menjadi kekuatan pematung senior kita ini. Walaupun patung karya Wiyoso masih menampilkan seni masa lalu, karya tersebut dapat menjadi aksen kuat bila ditempatkan pada ruangan di rumah-rumah bergaya modern. Banyak pula desainer interior yang memilih arca antik atau replikanya untuk aksen pada pintu masuk atau untuk aksen pada ruangan. 

s4s5 Karya Agoes Saliem, berkesan lebih simpel tetapi tetap bernuansa modern dengan “memainkan” tekstur kayu yang alami. Pilihan favoritnya adalah kayu nangka yang keras dan tua atau bagian tengah kayu berwarna kuning gading dan anti ngengat dan rayap. Patung abstraknya menampilkan keindahan yang ditimbulkan oleh cungkilan kayu, serta proporsi tiga dimensi yang enak untuk dilihat. Ada kalanya karyanya diberi warna kontras untuk memperkuat bentuk.   

s6 Inspirasi berkarya diperoleh dari area sekitarnya yang menurutnya sederhana sekali seperti ketika melihat batang pisang yang sebagai tempat menancapkan anak wayang. Tanpa fondasi batang pisang, dalang tak bisa memainkan wayang kulit. Falsafah dari batang pisang dan anak wayang ini menurut Agus dapat diibaratkan pada kehidupan yang membutuhkan fondasi keluarga. Tekstur pada patungnya dapat diibaratkan pada gelombang kehidupan. Semuanya itu dituangkannya dalam Life.

 s7Pematung yang paling muda adalah Budi L.Tobing. Dia sering menggunakan materi yang lebih keras perunggu yang di electro plated untuk memberi nilai tambah. Bentuk figur yang digambarkannya terisnpirasi dari setiap peristiwa kehidupan manusia yang dilihatnya, terutama yang ada hubungannya dengan wanita. Selain dari bentuk tubuhnya yang indah wanita juga menyimpan “kekuatan” dan “ketahanan” yang lebih besar daripada pria. 

s8 Kebiasaan berpikir konseptual dan menganalisis teori seni secara sistematis berpengaruh pula terhadap olahan ide dan kreativitas ketiga pematung ini. Dengan demikian secara naluriah hal-hal yang erat kaitannya dengan kegiatan mematung seperti bentuk, komposisi, garis dan tekstur dikuasai mereka.  (Anur Erawati Mulhadiono)
 
< Prev   Next >