Wiyoso Yudoseputro, 78 tahun, Agoes Saliem, 48 tahun dan
Budi L.Tobing, 40 tahun. Tiga orang
pematung dari generasi yang berbeda namun berasal satu “akar”. Akar mereka
adalah belajar dan kemudian mengajar di bidang seni rupa, dan sekaligus
berprofesi sebagai pematung. Wiyogo adalah guru Agoes dan guru Budi. Pada suatu
kesempatan mereka berpameran karya bersama di Jakarta.
Pak Wi, panggilan akrab Prof.Dr.Wiyoso Yudoseputro, hampir
50 tahun setia pada bidang pendidikan. Selama kurun waktu yang demikian
panjang, beliau mengajar sejarah seni dan budaya di Seni Rupa ITB,
almamaternya, di Seni Rupa USAKTI dan di Seni Rupa IKJ. Sampai kini beliau
masih pulang pergi dari Bandung ke Jakarta setiap minggu. Tak heran bila hasil
karya seni rupa peninggalan nenek moyang kita telah menyatu dengan dirinya. Tokoh-tokoh
legenda, dewa-dewa dari kepercayaan Hindu dan Budha, bentuk totem dan patung
primitif, area yang ada di candi-candi dan motif hias masa lalu di seluruh
Nusantara, menjadi ide dan inspirasi pada karya patungnya.
Mandala Gita Lalita (Keabadian keindahan lagu suci) misalnya
adalah berupa patung kepala wanita yang berkesan magis, sedangkan Nagagini
(istri Bima dalam fragmen Mahabharata) berupa patung dari akar kayu berbentuk
ular naga yang diberi warna. Seni
mematung yang berlekuk-leluk dengan detail-detail rinci menjadi kekuatan
pematung senior kita ini. Walaupun patung karya Wiyoso masih menampilkan seni
masa lalu, karya tersebut dapat menjadi aksen kuat bila ditempatkan pada ruangan
di rumah-rumah bergaya modern. Banyak pula desainer interior yang memilih arca
antik atau replikanya untuk aksen pada pintu masuk atau untuk aksen pada
ruangan.

Karya Agoes Saliem, berkesan lebih simpel tetapi tetap
bernuansa modern dengan “memainkan” tekstur kayu yang alami. Pilihan favoritnya
adalah kayu nangka yang keras dan tua atau bagian tengah kayu berwarna kuning
gading dan anti ngengat dan rayap. Patung abstraknya menampilkan keindahan yang
ditimbulkan oleh cungkilan kayu, serta proporsi tiga dimensi yang enak untuk
dilihat. Ada kalanya karyanya diberi warna kontras untuk memperkuat
bentuk.
Inspirasi berkarya diperoleh dari area sekitarnya yang
menurutnya sederhana sekali seperti ketika melihat batang pisang yang sebagai
tempat menancapkan anak wayang. Tanpa fondasi batang pisang, dalang tak bisa
memainkan wayang kulit. Falsafah dari batang pisang dan anak wayang ini menurut
Agus dapat diibaratkan pada kehidupan yang membutuhkan fondasi keluarga. Tekstur
pada patungnya dapat diibaratkan pada gelombang kehidupan. Semuanya itu
dituangkannya dalam Life.
Pematung yang paling muda adalah Budi L.Tobing. Dia sering
menggunakan materi yang lebih keras perunggu yang di electro plated untuk
memberi nilai tambah. Bentuk figur yang digambarkannya terisnpirasi dari setiap
peristiwa kehidupan manusia yang dilihatnya, terutama yang ada hubungannya
dengan wanita. Selain dari bentuk tubuhnya yang indah wanita juga menyimpan
“kekuatan” dan “ketahanan” yang lebih besar daripada pria.
Kebiasaan berpikir konseptual dan menganalisis teori
seni secara sistematis berpengaruh pula terhadap olahan ide dan kreativitas
ketiga pematung ini. Dengan demikian secara naluriah hal-hal yang erat
kaitannya dengan kegiatan mematung seperti bentuk, komposisi, garis dan tekstur
dikuasai mereka. (Anur Erawati
Mulhadiono)
|