|
Salah satu cirri kota metropolitan yang ada di dunia adalah
adanya beragam budaya, berpenduduk padat dan dihuni oleh berbagai bangsa dan
beragam etnis. Adanya sistem komunikasi
yang modern menyebabkan budaya asing menyebar dengan sangat cepat. Perpaduan
budaya yang beragam tersebut menjadikan gaya hidup orang-orang di kota
metropolitan menjadi unik.
Kelas sosial yang berbeda, jenis pekerjaan yang sangat
bervariasi, bercampur baur dengan tata kehidupan beragam dari kemajemukan
budaya tadi mengakibatkan gaya berpakaian, gaya berbicara, gaya menikmati hidup
dari beberapa golongan masyarakat metropolitan menjadi menarik dan khas. Biasanya
yang paling menarik dan khas bahkan aneh adalah gaya hidup kaum mudanya. Gaya
hidup kaum muda metropolitan yang khas inilah yang direkam oleh seorang seniman
Eko Priharseno, melalui seni populer metropolitan.
Dengan gaya bebas, karya yang diciptakan dengan menggunakan aneka
media yaitu cat akrilik, tinta cina, dengan teknik air brush, sablon dan teknik
cetak ini membantu kita melihat gaya hidup metropolitan menurut kaca mata Eko. Sindiran
tak langsung secara jenaka terhadap gaya hidup warga metropolitan digambarkan
melalui tarikan garis yang kuat dan tegas
dengan penguasaan teknis menggambar bentuk yang prima. Lukisan bergaya poster
ini berkesan modern.
Sebenarnya seni poster ini sudah dianggap sebagai karya seni
rupa sejak awal abad ke-20. Biasanya seni poster ini berupa poster promosi
produk atau event yang dibuat oleh seorang seniman lukis. Ternyata karya poster
unik tersebut saat ini sering diburu para kolektor karena keindahan dan
keunikannya.
Eko yang berlatar
belakang desainer produk yang juga desainer interior ini menyajikan gaya lukisan seperti poster yang ekspresif dalam gaya
modern kontemporer.
Kebiasaan mengolah komposisi warna dalam interior,
diterapkannya pada selembar kanvas sehingga aksen warna lembut atau warna
kontras di antara permainan garis-garis tegasnya dalam lukisan menjadi enak
untuk dilihat.
Beberapa contoh lukisan menggambarkan kritik sosial seperti
dalam The Hands speak louder than words. Masa kini tangan besi, kekerasan atau
main kakinya sendiri lebih ampuh dan lebih dominan dari kata-kata indah.
Atau dalam Living in Crossroad yang menggambarkan bahwa saat
ini peraturan banyak dilanggar. Bukankah bagian jalan ini hanya diperuntukkan
bagi untuk pejalan kaki yang ingin menyeberang jalan? Ekspresi kaum muda metropolitan digambarkan
dalam The Untitled Four. Lukisan yang lain silakan pembaca untuk menafsirkannya.
Karier Eko sebagai pelukis dipicu oleh terdapatnya kesulitan
kendala seorang desainer interior untuk mendapatkan hiasan dinding atau lukisan
yang ukuran, warna , bentuk dan objeknya
pas dengan gaya ruang yang didesainnya.
Kemudian si desainer interior ini mencoba mendesain lukisan
secara serius. Bahkan dia sempat berguru ke berbagai seniman dan menetap di
Bali beberapa tahun. Ternyata Eko yang dari kecil sudah gemar menggambar ini
sangat menikmati proses belajar melukis ini. Dia dengan bebas dapat
mengekspresikan apa yang dipikirkannya dan apa yang dirasakannya.
Tujuannya melukis adalah untuk mendapatkan lukisan yang
sesuai dengan dinding-dinding ruangan yang
didesainnya. Namun si pemilik rumah yang interiornya didesain Eko bebas untuk
memasang lukisan gaya pop ini atau memilih lukisan lain. Hal tersebut tidak menjadi masalah bagi pelukis ini ,
karena lukisannya yang berupa karya seni utuh itu juga dimaksudkan untuk dapat dimiliki
oleh para kolektor yang berminat.
Beberapa pameran digelar dan yang terakhir diselenggarakan
di Four Season Hotel, Jakarta. Sambutan masyarakat terhadap gaya lukisan yang bergaya muda modern kontemporer ini sangat baik. Beberapa lukisan yang
dipamerkan di Philo Art Space, Kemang, Jakarta ditampilkan pada halaman Griya
Asri ini.
|