Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Seni arrow Narcissus Ala Widiyanto
Narcissus Ala Widiyanto PDF Print E-mail
Monday, 13 August 2007

f.-wiayanto Ketika memasuki ruang pamer Galeri Nasional di Jakarta tanggal 30 Juni 2007 yang lalu tercium semerbak wangi bunga narcis yang berwarna putih. Di ruang pamer itu ditampilkan 39 patung diantara bak-bak bunga di dalam ruangan. Patung-patung pria yang dipergakan ada yang bentuk badannya berotot layaknya pria, ada yang bentuk tubuhnya seperti wanita tetapi dia pria. Mereka adalah narcissus yang diekspresikan secara artistik oleh pematung  Widayanto.

Konon pada zaman Yunani kuno ada mitologi  yang menceritakan Narcis putra dewa air yang berwajah sangat tampan. Pada suatu perjalanan dia haus dan ingin minum di sebuah sungai yang airnya jernih maka tercerminlah wajahnya yang tampan. Ternyata dia jatuh cinta pada dirinya sendiri dan membanggakan ketampanannya secara berlebihan .

Akhir-akhir ini ada istilah metroseksual yaitu pria-pria mapan dan wangi yang tak mau kalah penampilannya dari wanita selebriti. Busana indah dan mahal, parfum semerbak mewangi, pemeliharaan tubuh di salon dan spa, semua tidak lepas dari kehidupannya sehari-hari. Di samping itu ada pula pria-pria yang disebut gay yang sudah tak merasa malu menampilkan diri secara genit. Gejala ini dikota-kota besar sudah dianggap sebagai suatu mode (fashion). Nah, gejala pria narcis ini yang menjadi inspirasi bagi F.Widayanto. yang ditampilkan dalam pameran ini.

just-landing Patung keramik yang bahan bakunya dari tanah dengan kadar kaolin yang tinggi dari Sukabumi diolah sendiri di bengkelnya di Tapos. Warna dasar adonan bahan mentah keramik (biskuit) adalah abu-abu, kemudian diberi finishing glasir beraneka warna dan berkilat yang juga hasil olahan Widayanto sendiri.

Gaya patung yang lemah gemulai dengan gerakan yang kadang-kadang sulit ditiru merupakan tantangan bagi seniman untuk mewujudkannya dalam berkarya. Patung-patung ini dibuat tanpa rangka, sehingga harus didapatkan titik keseimbangan yang menjadikan patung bisa berdiri tegak. Patung ini dibentuk langsung dengan tangan, walaupun telah dibuat modelnya dan diikuti oleh sketsa. Kita tak bias membayangkan bagaimana susahnya membentuk patung yang kaya gerak tersebut. Namun, bagi Widayanto alumni jurusan seni patung Seni Rupa ITB ini, proses berkarya menjadikan tantangan yang menarik. Hasilnya dapat membuatnya bahagia luar biasa. Pengalaman berkarya selama 24 tahun, dan hampir dua tahun sekali berpameran tunggal membuktikan bahwa Widayanto “terjun” secara total dalam seni keramik.

Pada pameran-pamerannya yang terdahulu pematung kita ini menampilkan sosok wanita untuk sosok pria menurut Widayanto lebih sulit membuatnya karena otot-ototnya yang lebih nyata. Sebagai aksesori pada patung pria yang bersolek, sering ditambahkan batu semimulia, kaca hias dan berbagai hiasan dari metal. Penampilan patung pria yang feminin ini memang terlihat “genit” tetapi tetap artistik

Berkarya dengan media keramik membutuhkan ketelatenan. Kepiawaian dan kesabaran yang tinggi. Misalnya untuk membakar patung pria Indonesia dengan suhu 1250 derajat celcius, tentulah cukup sulit. Proses pembakarannya harus dilakukan secara bertahap. Tidak mungkin sosok ini dibakar sekaligus. Calon patung harus dipotong menjadi bagian-bagian yang kemudian disambungkan kembali tanpa ada bekasnya. Tak heran bila Widayanto telah mempersiapkan pameran tunggal ini sejak tahun 2003. Pameran yang dibuka secara resmi oleh ahli pemasaran kondang Hermawan Kartajaya ini diperkirakan akan  membuka pangsa pasar yang baru. Menurutnya kalangan metroseksual adalah sosok yang paling diminati oleh konsumen yang mempunyai selera khusus.

Bagaimana wujud  karya spektakuler F.Widayanto ini, marilah kita nikmati melalui beberapa contoh karya di antara 39 karya yang dipamerkan. Semua patun dilengkapi dengan sertifikat asli yang ditanda tangani oleh F.Widayanto.

 
< Prev   Next >