|
Ketika memasuki ruang pamer Galeri Nasional di Jakarta
tanggal 30 Juni 2007 yang lalu tercium semerbak wangi bunga narcis yang
berwarna putih. Di ruang pamer itu ditampilkan 39 patung diantara bak-bak bunga
di dalam ruangan. Patung-patung pria yang dipergakan ada yang bentuk badannya
berotot layaknya pria, ada yang bentuk tubuhnya seperti wanita tetapi dia pria.
Mereka adalah narcissus yang diekspresikan secara artistik oleh pematung Widayanto.
Konon pada zaman Yunani kuno ada mitologi yang menceritakan Narcis putra dewa air yang
berwajah sangat tampan. Pada suatu perjalanan dia haus dan ingin minum di
sebuah sungai yang airnya jernih maka tercerminlah wajahnya yang tampan. Ternyata
dia jatuh cinta pada dirinya sendiri dan membanggakan ketampanannya secara
berlebihan .
Akhir-akhir ini ada istilah metroseksual yaitu pria-pria
mapan dan wangi yang tak mau kalah penampilannya dari wanita selebriti. Busana
indah dan mahal, parfum semerbak mewangi, pemeliharaan tubuh di salon dan spa,
semua tidak lepas dari kehidupannya sehari-hari. Di samping itu ada pula pria-pria
yang disebut gay yang sudah tak merasa malu menampilkan diri secara genit. Gejala
ini dikota-kota besar sudah dianggap sebagai suatu mode (fashion). Nah, gejala pria
narcis ini yang menjadi inspirasi bagi F.Widayanto. yang ditampilkan dalam
pameran ini.
Patung keramik yang bahan bakunya dari tanah dengan kadar kaolin
yang tinggi dari Sukabumi diolah sendiri di bengkelnya di Tapos. Warna dasar
adonan bahan mentah keramik (biskuit) adalah abu-abu, kemudian diberi finishing
glasir beraneka warna dan berkilat yang juga hasil olahan Widayanto sendiri.
Gaya
patung yang lemah gemulai dengan gerakan yang kadang-kadang sulit ditiru
merupakan tantangan bagi seniman untuk mewujudkannya dalam berkarya.
Patung-patung ini dibuat tanpa rangka, sehingga harus didapatkan titik keseimbangan
yang menjadikan patung bisa berdiri tegak. Patung ini dibentuk langsung dengan
tangan, walaupun telah dibuat modelnya dan diikuti oleh sketsa. Kita tak bias
membayangkan bagaimana susahnya membentuk patung yang kaya gerak tersebut.
Namun, bagi Widayanto alumni jurusan seni patung Seni Rupa ITB ini, proses berkarya
menjadikan tantangan yang menarik. Hasilnya dapat membuatnya bahagia luar
biasa. Pengalaman berkarya selama 24 tahun, dan hampir dua tahun sekali berpameran
tunggal membuktikan bahwa Widayanto “terjun” secara total dalam seni keramik.
Pada pameran-pamerannya yang terdahulu pematung kita ini
menampilkan sosok wanita untuk sosok pria menurut Widayanto lebih sulit
membuatnya karena otot-ototnya yang lebih nyata. Sebagai aksesori pada patung
pria yang bersolek, sering ditambahkan batu semimulia, kaca hias dan berbagai
hiasan dari metal. Penampilan patung pria yang feminin ini memang terlihat
“genit” tetapi tetap artistik
Berkarya dengan media keramik membutuhkan ketelatenan. Kepiawaian
dan kesabaran yang tinggi. Misalnya untuk membakar patung pria Indonesia
dengan suhu 1250 derajat celcius, tentulah cukup sulit. Proses pembakarannya
harus dilakukan secara bertahap. Tidak mungkin sosok ini dibakar sekaligus. Calon
patung harus dipotong menjadi bagian-bagian yang kemudian disambungkan kembali
tanpa ada bekasnya. Tak heran bila Widayanto telah mempersiapkan pameran
tunggal ini sejak tahun 2003. Pameran yang dibuka secara resmi oleh ahli pemasaran
kondang Hermawan Kartajaya ini diperkirakan akan membuka pangsa pasar yang baru. Menurutnya
kalangan metroseksual adalah sosok yang paling diminati oleh konsumen yang
mempunyai selera khusus.
Bagaimana wujud karya
spektakuler F.Widayanto ini, marilah kita nikmati melalui beberapa contoh karya
di antara 39 karya yang dipamerkan. Semua patun dilengkapi dengan sertifikat
asli yang ditanda tangani oleh F.Widayanto.
|