Tempat lilin, jambangan bunga, piring, bejana, mangkuk dan benda-benda kecil lain, benda-benda berfungsi ataupun hanya sekadar penunjang keindahan ruangan ternyata sangat menentukan suasana sebuah ruangan. Benda-benda tersebut berfungsi seakan-akan “jiwa” dalam ruangan.
Rumah yang hanya berisi furnitur besar dan fungsional saja mungkin berkesan seperti gudang atau toko mebel. “Jiwa” yang terasa pada ruangan rumah Anda ternyata ditentukan oleh keberadaan aksesori atau pernak-pernik yang ada didalamnya.
Keindahan ruangan ditentukan oleh pemilihan dan cara memadu padankan benda-benda kecil tersebut sehingga menjadi kesatuan yang harmonis. Apalagi bila aksesorinya terdiri dari benda-benda seni (art craft) bermutu hasil kreasi seniman atau perajin yang dapat menghasilkan karya estetik. Berbagai materi seperti batu, keramik, porselen, kaca, kayu yang mempunyai karakter sendiri-sendiri secara kreatif dapat diolah menjadi art craft yang unik.
Dari zaman ke zaman para seniman atau perajin mengolah bahan baku secara berbeda, bergantung pada latar belakang budaya saat itu. Misalnya pada abad ke-15, para perajin mengolah kayu atau batu dengan mengukirnya pada permukaan. Keramik dihias dengan gambar bunga dan daun, atau peristiwa kehidupan sehari-hari yang digambarkan sebagai dekorasi. Pada era-era tertentu sesuai dengan perkembangan budaya dan selera, ketika itupun ukiran disederhanakan. Sebagai contoh di Eropa dikenal aliran art nuveau, sedangkan di Jawa diwujudkan dengan ukiran / hiasan gaya Semarangan. Kini di zaman modern yang serba simpel dan praktis ini, hiasan pada produk interior ditiadakan atau dipilihkan hiasan yang geometris. Untuk mendapatkan hasil yang indah, para perajin lebih memperhatikan bentuk dasar produk, garis, proporsi dan warna. Material gelas atau kaca dipakai dengan mengombinasikan bentuk dan warna. Irisan-irisan sebagai hiasan seperti dalam bejana kristal mulai ditinggalkan karena selain pembuatannya yang rumit pemeliharaannya juga lebih sulit.
Seni kerajinan masa lalu memang penuh ukiran dan dibuat lebih detail, juga banyak yang indah mempesona. Karena itu, dalam menata interior tidak ada salahnya apabila kita menggabungkan antara klasik / antik dengan yang baru. Perpaduan aneka benda-benda kecil dari berbagai zaman ini asal penempatannya serasi dapat menjadi daya tarik tersendiri. Benda dari kaca digabung menjadi satu kelompok atau benda dari keramik, patung batu atau arca replika wajah dewa Hindu dapat menjadi aksen. Bahkan tenong dari Palembang atau wadah dari Thailand yang penuh berhiaskan motif bunga dan sulur-suluran dapat menjadi latar belakang benda dari kaca yang transparan.
Dalam hal ini di butuhkan kepiawaian menata pernak-pernik pada interior agar keindahan dan suasana yang diciptakan di dalam ruangan tercapai sesuai dengan selera penghuninya. Setiap benda mempunyai daya tarik tersendiri. Dalam memadu padankan penunjang interior, yang harus dipertimbangkan adalah proporsi benda terhadap ruang, perbandingan antarbenda, bentuk dari setiap benda, cara pengelompokan dan kombinasi warna yang didapat dari komposisi tersebut. Dengan demikian pemakaian pernak-pernik benda etnik masih sesuai ditempatkan di dalam ruangan yang modern. (Anur E.Mulhadiono)
|