Setiap rumah tentulah mempunyai aneka perabot untuk memenuhi
kebutuhan penghuninya. Untuk menjadikan rumah tinggal bersuasana nyaman,
penghuni sering menambahkan pada perabotnya dengan pernak-pernik atau aksesori
interior. Salah satu upaya mencapai kenyamanan tersebut adalah mengisi dinding
dengan aneka lukisan.
Dahulu lukisan merupakan benda koleksi yang ditempatkan di
dalam ruang rumah tinggal untuk menunjukkan bahwa penghuni rumah adalah orang
terhormat. Lukisan menaikkan gengsi si pemilik rumah sebagai tanda bahwa ia
menghargai seni lukisan dan dapat membeli lukisan yang mahal.
Setiap lukisan zaman dahulu selalu berbingkai. Tanpa bingkai
lukisan terasa masih telanjang atau kurang lengkap. Bahkan bingkainya juga dihias, berukir bunga
dan hiasan lain yang dianggap menyatu, sesuai dengan mebel sekitarnya yang
sering pula berukir. Selain itu, penerapan passepartout (pasepartu) juga sering
dilakukan untuk memperlengkap pigura.
Seiring dengan perkembangan zaman, gaya hidup orang telah
banyak berubah. Penerapan desain yang canggih sudah mulai merasuk ke dalam
kehidupan para eksekutif ataupun kalangan menengah ke atas. Keindahan ruang
secara keseluruhan menjadi perhatian mereka. Pemilihan furnitur serta
pernak-pernik dan aksesori yang sesuai menjadi pilihan yang mendatangkan
kepuasan bagi pemilik rumah.
Dewasa ini banyak pemilik rumah yang menggunakan lukisan
sebagai penghias interior selain sebagai benda koleksi. Dengan demikian warna,
bentuk serta garis dalam lukisan baik yang berbingkai maupun yang tidak
berbingkai, disesuaikan dengan furnitur di sekitarnya. Sering pula lukisan tidak digantung di
dinding melainkan ditempatkan di atas kursi atau di atas sofa dan mungkin
tampak tidak utuh karena meletakkannya hampir setinggi furnitur di depannya. Komposisi
antara furnitur dan lukisan menjadi satu kesatuan yang harmonis sehingga dapat
membentuk suasana ruang yang diinginkan pemilik rumah. Ada pula lukisan yang
dibuat kemudian atas pesanan pemilik rumah setelah furnitur ditata dalam ruang.
Karena itu, sering identitas si pelukis tidak dicantumkan dengan jelas. Dalam
hal ini hasil karyanya bukanlah murni sebagai cetusan emosi dan isi hati
pelukisnya, tetapi merupakan karya yang disesuaikan dengan desain yang sudah
ada.
Contohnya seorang pemilik rumah bernama Rio Prahara sangat
menyukai lukisan abstrak hasil cetusan emosi Chandra Johan. Rio menempatkan
lukisan Chandra sebagai latar belakang furnitur. Penempatan lukisan sebagai penunjang
interior dapat disesuaikan dengan berbagai gaya seperti gaya oriental, gaya
modern, gaya klasik dan gaya elektik. Semuanya
dapat diciptakan sesuai dengan selera penghuni rumah. Dengan demikian, gaya
interior rumah secara keseluruhan dapat mengekpresikan gaya hidup penghuninya. (Anur Mulhadiono)
|