Sejak dahulu kala, kulit binatang telah dimanfaatkan orang
untuk berbagai keperluan seperti kulit sapi untuk sepatu dan tas, kulit
binatang berbulu tebal untuk mantel pelindung dingin. Pada perkembangan
selanjutnya berbagai kulit binatang yang bermotif indah diambil untuk memenuhi
kebutuhan mode (fashion).
Yang dibahas di bawah ini adalah pemakaian kulit binatang
yang biasa dipotong untuk konsumsi manusia, yaitu kulit sapi dan kulit kerbau.
Kulit yang telah disamak, diproses, dan
diwarnai, pada umumnya dimanfaatkan untuk pembuatan sepatu, tas atau jaket.
Kemudian orang memanfaatkan kulit ini untuk berbagai keperluan yang lebih luas
seperti untuk pernak-pernik dan aksesori furnitur.
Dengan kreativitas dan sentuhan desain,
perajin furnitur dengan aksesori kulit ini menjadi lebih indah eksklusif. Perangkat
sofa berlapis kulit dari Inggris yang dikenal dengan kursi Chippendale dari
abad ke-18 masih merupakan koleksi yang membanggakan bagi pemiliknya. Untuk melekatkan
kulit ke materi kayu furnitur digunakan paku-paku yang sekaligus digunakan
untuk aksesori. Pada kursi Chippendale ini materi kulit merupakan bahan utama
disamping kayu mahagony.
Furnitur yang ditampilkan di sini bahan
utamanya adalah kayu. Kulit sapi hanya sebagai bahan tambahan untuk mempermanis
penampilan furnitur.

Kulit sapi yang diembos sehingga bagian permukaannya
menonjol dan dibuat seperti motif kulit
buaya , memberikan kesan eksklusif pada furnitur. Tiruan kulit buaya hasil tangan
tersebut dipotong berukuran 15x15 cm untuk memperindah penampilan sebuah dressoir
kayu yang berbentuk simpel modern. Kulit buaya dengan berbagai teksturnya yang berwarna antara cokelat tua dan cokelat
muda dalam penerapannya disesuaikan dengan bahan baku kayu yang kadang-kadang lebih gelap,
kadang-kadang lebih muda dari motif kulit buayanya. Tombol laci berbentuk
persegi berwarna putih dapat membantu memfokuskan pandangan kita pada tiruan
kulit buaya tersebut. Untuk meja teh atau meja samping dapat dibuat meja
menyerupai koper atau seperti peti dengan motif kulit buaya berpermukaan rata. Motif
kulit buaya diambil karena dianggap polanya sangat menarik, sedangkan bahannya
diambil dari kulit sapi. Seperti furnitur kulit berpaku dari Inggris, paku-paku
pada pangkal kaki meja buatan Spanyol ini dimaksudkan sebagai aksen. Paku paku
ini diatur membentuk pola yang unik.
Kulit sapi yang diubah seperti kulit
buaya ini, memberikan kesan yang alami dan eksklusif serta bernuansa seni. Dengan
tambahan aksesori pernak- pernik modern, ruangan menjadi berkesan
artistik.
Tiruan kulit buaya juga dapat dibuat dari bahan plastik yang
dibuat oleh pabrik Warna-warninya dapat diatur sesuai dengan selera perajin,
namun kesan alami tidak lagi terasa. Yang terasa adalah kesan modern futuristik. Kita
dapat menyimpulkan bahwa apapun gaya interior yang dikehendaki, desainer
furniturlah yang berperan penting. (Anur Mulhadiono).
Foto : Sjahrial Iqbal
Koleksi : Combi Furnitur, Gajahmada Plaza
|