Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Seni arrow Ketika Batu Dijadikan Patung
Ketika Batu Dijadikan Patung PDF Print E-mail
Monday, 04 June 2007

Basrizal Albara, adalah seseorang yang senang “memburu” batu-batuan alam dan fosil di gunung, pantai dan hutan di berbagai pelosok tanah air terutama pulau Jawa. Hasil “buruan” Albara ini sering harus diangkut dengan bantuan Derek dan truk khusus, karena hasil temuannya berat dan besar.

Bertempat di studionya di Yogyakarta, bongkah batu alam yang sangat besar ini dipecah dan diolah dijadikan patung dengan bantuan berbagai alat seperti pahat, gurinda dan amplas.  Albara membiarkan tesktur batu yang sudah menarik, sedangkan bagian yang kurang menarik dibuatnya menjadi menarik dan indah. Pekerjaan ini cukup menguras tenaga karena ada batu yang digerus dan dipatung menjadi guratan yang estetis. Dengan bebas dan sedikit “liar” Albara mengolah bongkahan batu granit, marmer, onyx sampai batu semi mulia menjadi patung yang unik.

Bila perlu Albara juga memperhatikan detail dengan rapi. Berbagai jenis fosil hasil temuannya yang bentuknya tak terlalu besar juga menjadi bahan kreasinya. Misalnya sebuah fosil batang pisang yang sudah membatu, dibentuk menyerupai perahu. Dengan sedikit olahan bentuk dan beberapa guratan pada fosil itu terbentuklah patung yang diberinya judul Bukan Perahu Nabi Nuh. Untuk patung yang bentuknya kecil Albara sengaja menggunakan tangan untuk memahat patungnya. 

Pada batu alam atau batu semi mulia yang bentuk dan teksturnya sudah indah secara alami,dibiarkan tampil apa adanya Albara kadang-kadang memberi sedikit sentuhan kecil dan memadukannya dengan batu lain sehingga terbentuklah bentuk-bentuk abstrak yang dihasilkannya seperti Bunga, Di Bawah Bulan, dan Abstraksi Alam.

Banyak batu alam yang dipakainya sebagai bahan dasar karya seninya seperti pada karyanya yang berjudul Mengukur Bayang-Bayang dan Joged Bersama. Sering pula bahan batu digabungkannya dengan metal seperti besi, timah putih dan bahan lain yang dirasakannya cocok dan memberikan aksen. 

Albara yang selalu ceria dan penuh semangat ini memang tidak banyak berteori dan berfalsafah tentang karyanya. Namun, pancaran aura semangat kerjanya dapat dirasakan lewat berbagai karyanya.  Dalam berkarya Albara sering menemukan idenya secara tiba-tiba dengan cepat ide tersebut dituangkan ke dalam materi yang teras tersebut.

Kecintaannya terhadap batu alam telah bersemi sejak masa kecil yaitu saat ia tinggal di lingkungan alam yang masih asli di Bengkalis (ALbara lahir 30 April 1966). Selanjutnya, pada usia 17 tahun, Albara masuk Sekolah Menengah Seni Rupa di Padang dan pada tahun 1988 ia meneruskan sekolahnya ke Jurusan Seni Murni (patung) di FSRD ISI Yogyakarta. Albara yang selalu bekerja keras ditunjang dengan fisiknya yang sehat akhirnya menjadi seorang pematung yang produktif.  Pameran bersama sudah dilakukannya sejak 1991 di berbagai kota sedangkan pameran tunggalnya batu saja diadakan akhir tahun 2006 yang lalu. Lebih dari 40 patung berbagai ukuran dipamerkan dalam pamerannya yang terakhir ini. 

Batu-batu alam, fosil adalah hasil “buruan” yang ditangan Basrizal Albara dapat dijadikan beragam patung yang indah.  (Anur Mulhadiono)

 
< Prev   Next >