Cat minyak dan cat air adalah dua media untuk melukis di
atas kanvas dan di atas kertas. Anggapan
bahwa karya dengan media cat minyak lebih bermutu dan lebih berharga daripada
karya cat air sebenarnya tidaklah benar. Apapun materi yang digunakan untuk
berkarya, hasil akhirnyalah yang menentukan. Kualitas ekspresi, teknik,
komposisi, warna yang memancarkan “jiwa” dan pesona pada lukisanlah yang
menentukan mutu sebuah karya.
Dalam karya seni, peran bahan dasar atau bahan baku memang
penting. Namun, yang lebih penting adalah daya pikat karya sehingga orang
tertarik dan ingin memiliki atau mengkoleksi.
Selera orang dalam mengapresiasikan karya seni memang berbeda. Hal ini
biasanya bergantung pada latar belakang budaya si penikmat. Selain itu latar belakang pendidikan,
pengalaman, intelektual, visi kepekaan seni, dan selera penikmat ikut
menentukan. Yang terpenting adanya empati si penikmat terhadap karya. Si penikmat dapat merasakan manfaat terhadap
karya tersebut seperti tertarik, senang, mempengaruhi jiwa dan terasa ada
kontak batin. Bagi si penikmat sensasi ini sudah lebih dari cukup, walaupun
tanpa memilikinya.
Beberapa waktu yang lalu di Agung Rai Museum of Modern Art
di Ubud, Bali telah dipamerkan karya para seniman yang tergabung dalam Asian
Water Colours Confederation. Dalam pameran yang ke delapan belas dari
organisasi ini, Indonesia diwakili oleh Indonesian Water Colours Society. Para
pelukis cat air dari sembilan negara termasuk Indonesia menggelar karya terbaik
mereka. Berbagai gaya, baik yang
naturalis, ekspresif, dekoratif, surealis, bahkan abstrak digelar. Ternyata
media cat air dapat menjadi media ekspresi yang efektif bagi para seniman yang
kebanyakan juga bisa berkarya melalui cat minyak. Teknik melukis dengan cat air,
tentu lain dengan cara melukis dengan cat minyak. Kalau pada teknik cat minyak
dapat menumpuk pigmen tanpa menampakkan warna sebelumnya, pada teknik cat air
mengandalkan sapuan transparan. Penumpukan sapuan cat akan mengubah sifat
permukaan. Boleh dikatakan menyapukan kuas dengan cat air tak boleh “salah”. Walaupun
dengan media cat air penggunaannya tebal mungkin juga didapatkan efek seperti
media cat poster. Namun, tentu saja si
pelukis ingin jujur dengan mengekspos media cat airnya. Memang di sanalah
keunikan media tersebut. Kelangkaan
ukuran kertas yang ada di pasaran untuk media cat air, yang biasanya di bawah
satu meter dapat juga mempengaruhi kebebasan berekspresi.
Negara Cina dikenal sebagai tempat teknik melukis dengan cat
air. Dalam pameran ini Cina mengirimkan karya terbanyak. Meskipun demikian mutu
karya para pelukis cat air dari Indonesia tak kalah indahnya.
Griya Asri memilihkan beberapa karya dari 158 karya
yang dipamerkan. Berbagai gaya dan nuansa serta tema merupakan hasil ekspresi
bebas para seniman yang ikut berpameran.
(Anur Mulhadiono)
|