Maksud hati siapa tahu
Isi hati tak dapat di duga
Suasana hati jangan diterka
Namun bila suasana hati dicetuskan
Berupa kata berupa suara,
Jelas maksudnya
Berupa wujud nyata, namun abstrak
Marilah kita menduga,
Marilah kita mengerti,
Marilah kita mengapresiasi
Maksud, isi dan suasana hati
Baron Basuning (lahir
di Pagar Alam, Sumatera Selatan 1963)
Di era modern ini, para seniman seakan-akan berpacu untuk
menciptakan karya yang fungsional, simpel, praktis dan dinamis. Demikian pula
karya lukis bukan hanya berupa benda koleksi yang disimpan di museum, tetapi
juga dapat menyatakan identitas penghuni rumah tempat karya tersebut
difungsikan sebagai penunjang interiornya. Ada kebanggaan tersendiri bagi Baron Basuning
apabila karyanya dipilih untuk menghias dinding ruang tamu ataupun ruang tidur.
Sapuan warna cat akrilik dengan berlapis-lapis gelindingan
roller, melalui sapuan kuas yang lebar ataupun sapuan cat yang tipis-tipis lalu
ditumpuk agar menjadi lebih tebal, kemudian ditindih lagi, menjadi warna yang
lebih gelap dan menjadi pembatas bentuk. Selain itu, nuansa tebal dan tipisnya
sapuan yang sesuai dengan sifat cat akrilik menyatakan kesan dimensi. Kemudian
penambahan goresan. Lelehan dan kerokan menghasilkan barik-barik menarik.
Sebagai visualisasi bentuk dari media ekspresinya digunakanlah bentuk dasar
geometris dan persegi yang kadang-kadang ditambah dengan bentuk bulat. Berbagai
pengalaman yang mengesankan bagi Baron “diterjemahkan” menjadi bentuk kotak
yang saling silang dan saling tindih.
Namun, menurut Baron di balik bentuk kotak tersebut masih tersirat “jalan”
dan “ruang” yang luas. Permainan teknis warna dan sapuan yang disertai luapan emosi tersebut dapat
mengakibatkan karya ini seolah-olah bernyawa dan berbicara.
Sebagai seniman Baron tidak suka dibatasi oleh aturan,
karena dia lebih menginginkan kebebasan total dalam berekspresi dan menyatakan
suasana hati dan pikirannya melalui “permainan” imaji dengan bantuan lengan dan
tangannya.
Bagi pelukis abstrak seperti Baron agar tetap dapat setia di
bidang seni lukis diperlukan latihan untuk menghasilkan berbagai karya sehingga
dapat terus memperkenalkan diri kepada masyarakat. Dengan banyak berlatih
selain mengasah kepekaan rasa juga dapat melatih kepekaan terhadap komposisi
visualnya. Memang tidak mudah untuk “merebut” hati masyarakat pemerhati seni
lukis hanya dengan warna yang monokromatik dan komposisi bentuk geometris
tersebut. Warna yang lembut dengan komposisi bentuk yang sederhana ini
sebenarnya merupakan usaha Baron untuk melampiaskan gejolak perasaannya
terhadap gelora alam yang menjadi sumber inspirasinya, sekaligus berlatih untuk
mencapai keseimbangan dan keselarasan batin yang selalu ingin diraihnya.
Menjelang Ramadan yang lalu Baron menggelar pameran tunggal
bertajuk The Mind’s Eye di Nikko Hotel Jakarta. Untuk mempersiapkan acara
tersebut Baron mencari ketenangan sesaat agar dapat mengasah mata batinnya peka
dalam melihat segala peristiwa yang terjadi terutama peristiwa alam yang
menyengsarakan rakyat.
Sehubungan dengan itu objek lukisannya ada yang
menggambarkan semburan lumpur panas, tsunami, gempa bumi dan peristiwa alam
lain yang mengesankan baginya. Kecintaannya terhadap alam dan kehidupan manusia
ini dibuktikannya dengan aktif bergabung dengan LSM dan dengan M.S.World
Discover Expedition Society yang membuat ia sampai ke Alaska, Antartika,
Spanyol, Prancis, Brazilia, Argentina, India, China dan Afrika Selatan. Dalam
perjalanannya di mancanegara tersebut, ia sempat tinggal di Amerika, tepatnya
di California dan New York sejak tahun 1986 sampai 1993. Kecintaannya terhadap tanah airnya membuatnya
mengambil keputusan untuk tinggal di Jakarta
dan bergabung dengan Poros, sebuah lembaga NGO yang dipimpin Erros Djarot. Akhirnya Baron yang bekerja sebagai wartawan
bebas ini memutuskan untuk menjadi pelukis yang telah lama diidamkannya.
Kalau kita mengamati lukisan Baron, terlihat jelas
betapa bebasnya ia mengungkapkan imajinya yang mengandung berbagai pertanyaan
dan suasana hatinya. (Anur E. Mulhadiono)
|