Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Seni arrow Cetusan Hati Baron Basuning
Cetusan Hati Baron Basuning PDF Print E-mail
Wednesday, 21 February 2007
Maksud hati siapa tahu
Isi hati tak dapat di duga
Suasana hati jangan diterka

Namun bila suasana hati dicetuskan
Berupa kata berupa suara,
Jelas maksudnya

Berupa wujud nyata, namun abstrak
Marilah kita menduga,
Marilah kita mengerti,
Marilah kita mengapresiasi
Maksud, isi dan suasana hati

Baron Basuning  (lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan 1963)

Di era modern ini, para seniman seakan-akan berpacu untuk menciptakan karya yang fungsional, simpel, praktis dan dinamis. Demikian pula karya lukis bukan hanya berupa benda koleksi yang disimpan di museum, tetapi juga dapat menyatakan identitas penghuni rumah tempat karya tersebut difungsikan sebagai penunjang interiornya. Ada kebanggaan tersendiri bagi Baron Basuning apabila karyanya dipilih untuk menghias dinding ruang tamu ataupun ruang tidur.

Sapuan warna cat akrilik dengan berlapis-lapis gelindingan roller, melalui sapuan kuas yang lebar ataupun sapuan cat yang tipis-tipis lalu ditumpuk agar menjadi lebih tebal, kemudian ditindih lagi, menjadi warna yang lebih gelap dan menjadi pembatas bentuk. Selain itu, nuansa tebal dan tipisnya sapuan yang sesuai dengan sifat cat akrilik menyatakan kesan dimensi. Kemudian penambahan goresan. Lelehan dan kerokan menghasilkan barik-barik menarik. Sebagai visualisasi bentuk dari media ekspresinya digunakanlah bentuk dasar geometris dan persegi yang kadang-kadang ditambah dengan bentuk bulat. Berbagai pengalaman yang mengesankan bagi Baron “diterjemahkan” menjadi bentuk kotak yang saling silang dan saling tindih.  Namun, menurut Baron di balik  bentuk kotak tersebut masih tersirat “jalan” dan “ruang” yang luas. Permainan teknis warna dan sapuan yang disertai luapan emosi tersebut dapat mengakibatkan karya ini seolah-olah bernyawa dan berbicara.

Sebagai seniman Baron tidak suka dibatasi oleh aturan, karena dia lebih menginginkan kebebasan total dalam berekspresi dan menyatakan suasana hati dan pikirannya melalui “permainan” imaji dengan bantuan lengan dan tangannya.

Bagi pelukis abstrak seperti Baron agar tetap dapat setia di bidang seni lukis diperlukan latihan untuk menghasilkan berbagai karya sehingga dapat terus memperkenalkan diri kepada masyarakat. Dengan banyak berlatih selain mengasah kepekaan rasa juga dapat melatih kepekaan terhadap komposisi visualnya. Memang tidak mudah untuk “merebut” hati masyarakat pemerhati seni lukis hanya dengan warna yang monokromatik dan komposisi bentuk geometris tersebut. Warna yang lembut dengan komposisi bentuk yang sederhana ini sebenarnya merupakan usaha Baron untuk melampiaskan gejolak perasaannya terhadap gelora alam yang menjadi sumber inspirasinya, sekaligus berlatih untuk mencapai keseimbangan dan keselarasan batin yang selalu ingin diraihnya.

Menjelang Ramadan yang lalu Baron menggelar pameran tunggal bertajuk The Mind’s Eye di Nikko Hotel Jakarta. Untuk mempersiapkan acara tersebut Baron mencari ketenangan sesaat agar dapat mengasah mata batinnya peka dalam melihat segala peristiwa yang terjadi terutama peristiwa alam yang menyengsarakan rakyat.

Sehubungan dengan itu objek lukisannya ada yang menggambarkan semburan lumpur panas, tsunami, gempa bumi dan peristiwa alam lain yang mengesankan baginya. Kecintaannya terhadap alam dan kehidupan manusia ini dibuktikannya dengan aktif bergabung dengan LSM dan dengan M.S.World Discover Expedition Society yang membuat ia sampai ke Alaska, Antartika, Spanyol, Prancis, Brazilia, Argentina, India, China dan Afrika Selatan. Dalam perjalanannya di mancanegara tersebut, ia sempat tinggal di Amerika, tepatnya di California dan New York sejak tahun 1986 sampai 1993.  Kecintaannya terhadap tanah airnya membuatnya mengambil keputusan untuk tinggal di Jakarta dan bergabung dengan Poros, sebuah lembaga NGO yang dipimpin Erros Djarot.  Akhirnya Baron yang bekerja sebagai wartawan bebas ini memutuskan untuk menjadi pelukis yang telah lama diidamkannya.   

Kalau kita mengamati lukisan Baron, terlihat jelas betapa bebasnya ia mengungkapkan imajinya yang mengandung berbagai pertanyaan dan suasana hatinya.  (Anur E. Mulhadiono)

 
< Prev   Next >