| Cantiknya Tenun Dalam Interior |
|
|
|
| Wednesday, 21 February 2007 | |
|
Dahulu kain tenun dibuat untuk kelengkapan upacara adat,
seperti dalam ritual merayakan kelahiran anak, perkawinan dan kematian. Selain
itu juga dipakai sebagai kain busana adat. Kini, selain untuk fungsi tersebut,
kain tenun juga dapat digunakan sebagai penunjang interior.
Seni tenun menenun sejak dulu memang dilakukan oleh nenek moyang kita. Seni kerajinan tenun ikat yang berwarna warni dan kaya akan motif hias, dikerjakan para perajin hampir di seluruh daerah di Indonesia, yang setiap tenunannya berciri khas sesuai dengan budaya setempat. Di daerah Sumatra Selatan misalnya kain tenun yang dikenal dengan tenun songket sering dibubuhkan benang emas untuk memberi kesan kemewahan. Di daerah Nusa Tenggara Timur kain tenun dikenal dengan nama tenun ikat. Selanjutnya di daerah Tenganan dan Pagringsingan di Bali menghasilkan seni tenun ikat dobel yang langka karena hanya terdapat di beberapa daerah saja termasuk di Bali. Adapula tenun Bentenan yang hanya terdapat di Minahasa. Bentenan adalah nama desa di pantai timur Minahasa tempat kain motif ini ditemukan. Sebenarnya seni tenun benang katun ini sudah hampir punah, tetapi dapat dikembangkan kembali oleh HIMSA (Himpunan Pemerhati Budaya Minahasa). Terdapat tujuh macam tenun Bentenan yaitu Tonilama yaitu tenunan tanpa motif berwarna putih, Sinoi tenun dengan benang berwarna-warni dan bergaris, Pinatikan yaitu tenun tergaris, bermotif jala dan bentuk seni enam, Tinompak Kuda, tenun dengan aneka motif berulang, Tinonton Mata tenun dengan hiasan motif manusia, Kaiwu Patola tenun dengan motif geometris seperti patola dari India, dan Kokera tenun dengan motif bunga-bunga bersulam manik-manik. Untuk pewarnaan pada kain tenun dilakukan dengan cara khusus sehingga warna tidak mudah pudar karena terpaan sinar matahari atau “dimakan” waktu. Salah satu caranya adalah direndam dalam minyak kemiri yang dicampur abu kayu serta cairan alkali. Beberapa jenis tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran juga dapat digunakan untuk menghasilkan warna tertentu, misalnya warna merah yang dihasilkan dari akar mengkudu (Morinda citrifolia). Demikianlah cara pewarnaan tradisional yang memberikan kesan lembut dan eksotik. Kini, dengan kemajuan teknologi, diciptakan warna kimia untuk pewarnaan kain tenun yang penampilannya lebih ceria dan warna bervariasi. Demikian pula alat tenun tangan dikembangkan menjadi alat tenun yang lebih canggih, seperti ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang dibuat dari kayu dan peralatan yang dapat menghasilkan tenunan lebih cepat. Cara penempatan kain tenun untuk interior ini bergantung pada selera penggunanya. Pada umumnya dalam interior modern dengan furnitur yang simpel, kain tenun dapat digunakan untuk tirai atau pelapis sofa. Untuk hal seperti ini, biasanya dipilih kain tenun polos berwarna lembut atau netral, krem atau bahkan warna ceria dengan tekstur yang agak kasar. Selain itu, dapat pula dipilih kain tenun sutra yang teksturnya lebih halus dan agak mengkilap. Untuk aksen ruangnya dapat digunakan wall hanging, kain yang dipigura berupa kain tenun bermotif garis atau geometris dengan warna tradisional ataupun warna ceria yang dikomposisikan sesuai dengan warna-warna lain yang ada di sekitarnya. Kain tenun yang bermotif flora dan fauna juga dapat digunakan sebagai taplak meja, loper atau sebagai kain pembatas dari ruang bergaya eklektik. Kain tenun dari Bali yang bermotif flora-fauna dengan benang emas mengesankan kemewahan sehingga memberi nilai tambah pada interior bergaya klasik atau etnik, ataupun sebagai aksen pada satu sudut interior modern. Kain songket antik dari Palembang juga dapat digunakan sebagai aksen ruang tamu atau ruang keluarga yang menyiratkan keanggunan karena kehalusan dan keemasan tenunannya Dengan berubahnya nilai budaya masyarakat modern saat ini mungkin saja pemakaian kain tenun tradisional mulai ditinggalkan masyarakat. Namun, berkat usaha pemerintah melalui Dep.Perindustrian beberapa waktu yang lalu di Jakarta diadakan pameran, diskusi dan juga pengenalan beragam jenis kain tenun yang berasal dari berbagai daerah dengan aplikasinya sebagai busana ataupun penunjang interior. Hal ini dapat memberi semangat kepada perajin tenun dan sekaligus menambah apresiasi masyarakat terhadap seni tenun nusantara. (Anur E.Mulhadiono) |
| < Prev | Next > |
|---|


















