Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Seni arrow Bordir Lukisan Kontemporer
Bordir Lukisan Kontemporer PDF Print E-mail
Monday, 04 June 2007

Jarum jahit menusuk kain puring , Turun naik, ke kiri dan ke kanan mengantarkan benang sulam. Membuat garis, dan membentuk motif. Dari satu warna beralih ke warna lain membentuk bidang. Itulah kinerja mesin jahit yang menghasilkan karya bordir.

Kinerja mesin jahit bergantung pada orang yang menjalankannya. Memang media apa pun untuk berkreasi, tentulah bergantung dari yang menggunakannya.

Seni border biasanya digunakan untuk menghias busana dengan motif hias flora, fauna dan motif geometris. Hery Suhersono merupakan seorang perupa yang mengerjakan sulam birder untuk busana. Melalui karya-karyanya Hery berhasil mengangkat kerajinan tradisional bordir sebagai medium untuk menuangkan gagasan estetiknya. Alhasil, kerajinan bordir yang dikerjakan Hery kini melambung menjadi seni murni (pure art). Media ini juga menjadi sesuatu yang unik sesuai dengan kriteria seni kontemporer yang tidak lagi membatasi jenis media untuk berkreasi.  

Hery yang berhasil memadukan perpaduan seni tradisional batik dan seni rupa gaya Barat yang menjadi sumber ide untuk menciptakan lukisan modern kontemporer yang unik. Sejak kecil ia memang telah akrab dengan seni batik dan seni bordir yang biasa dilakukan ayahnya dan penduduk perajin di sekitar kampung halamannya.

Pada salah satu lukisan karya agungnya (masterpiece) yang bertajuk Memburu Naga (300 cm x 150 cm), Hery mengetengahkan tema mitologi perpaduan Timur dan Barat. Pada lukisan tersebut bidang latar belakang diisi dengan motif parang rusak, kawung, truntum, ukelan, ceplokan, dan tumpal Figur sepasang tokoh dan matahari dilukis bergaya seni Barat (Romawi /Yunani kuno).

Adapun motif batik khas Cirebon berupa mega mendung di antara tujuh burung yang melambangkan suara nyaring dari gong sampai langit ke tujuh. Motif tersebut dapat kita lihat pada lukisan yang diberinya judul Gong (84 cm x 63 cm).

Pada tahun 2007 Hery makin banyak bereksperimen, lebih bebas menggunakan garis   tegas dan kuat dan membentuk bidang yang ekspresif. Hal ini dapat kita amati dari lukisan Dunia Mulai Hancur, (2007), yang menggambarkan percikan-percikan api hasil ledakan dari poros bumi. Pada lukisan Kotaku Nyaris Tenggelam. Arus air digambarkannya berupa garis berombak berkelok-kelok di antara atap atap rumah yang hampir tenggelam. Dalam lukisan Di Kepung Banjir, digambarkan suasana panik dari orang-orang yang tertimpa bencana banjir.

Dalam karya-karya ini, Hery biasa membordir penuh kain puring (kain katun untuk melapisi busana yang tipis) yang dianggap sebagai kanvas). Pada Kuda Bercanda, 2004, Hery hanya menggunakan kontur untuk bermain-main dengan kuda-kuda yang telah distilir membentuk kuda yang lucu, sehingga warna kain dasarnya masih dominan.

Kepiawaian Hery telah mengantarkannya untuk meraih beberapa penghargaan internasional lomba desain poster, dari United Nation Population Fund, penghargaan desain perangko dari departemen pos dan telekomunikasi, dan penghargaan melukis kaligrafi dari pemerintah Malaysia.  Selain itu, ia juga telah berhasil membuat beberapa buku panduan membordir untuk busana.

Seni bordir sebagai media ekspresi merupakan terobosan kreatif untuk berkarya dan juga dapat dijadikan inspirasi bagi perupa lain untuk berkreasi. (Anur Mulhadiono)

 
< Prev   Next >