Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Seni arrow Biennale Jakarta 2006
Biennale Jakarta 2006 PDF Print E-mail
Tuesday, 01 August 2006
bienale-1Sebuah ruangan berukuran sekitar 4 x 4 meter, di dalamnya ada sebuah TV dan video yang memancarkan rangkaian gambar-gambar di dinding hasil karya seorang seniman, disertai alunan musik pengiring. Penikmat bagaikan melihat film narasi seni.

bienale-2 Ada pula sebuah ruangan yang dindingnya ditempelin foto rekaman tempat pembuangan sampah, di depannya ada bangunan dari tumpukan limbah kertas yang dimasukkan dalam bantal-bantal plastik transparan. Itulah antara lain karya dari media bebas pada Biennale Jakarta 2006. 

bienale-3Biennale Jakarta 2006 adalah sebuah kegiatan seni nasional yang tahun ini diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun kota Jakarta ke-479.  Kegiatan seni ini terdiri dari pameran karya lukisan dan patung yang diberi nama milestone, merupakan refleksi sejarah seni rupa di Indonesia. Memamerkan karya perupa dari awal pelukis modern Indonesia seperti Raden Saleh, Sudjojono, Hendra, Mochtar Apin sampai Nasirun, Heri Dono, Ipong Purnomo Sidi semuanya berjumlah 180 pelukis. Karya mereka dihimpun dari koleksi museum-museum dan koleksi pribadi, dipamerkan di Galeri Nasional dan di Museum Seni Rupa dan Keramik. Penyelenggaraan dan pemilihan karya dilakukan oleh kurator Eddy Soetriyono dan Suwarno Wisetrotomo. 

bienale-4Tema Beyond The Limits and Its Challenges, yang diusung dimaksudkan untuk memamerkan karya para seniman muda dengan media baru seperti video art, fotografi, instalasi dan media teknologi lain hasil pilihan kurator Rizki A.Zaelani dan Asikin Hassan. Hasil seni ini digelar di Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III di Taman Ismail Marzuki. 

Hasil karya 7 perupa dari Jepang, AS, Filipina, Jerman, Malaysia, Korea Finlandia dan Italia yang selama ini berkiprah, berkarya dan tinggal di Indonesia dipilih oleh Rifky Effendy, dan dipamerkan di Galeri Cemara 6 dan Galeri Lontar. Karya mereka berupa karya instalasi. 

bienale-5Keanekaragaman karya tersebut sengaja dipilih untuk memberikan informasi bagi masyarakat umum tentang kegiatan seni sekaligus menginventarisasi karya seni yang unggul baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Seni rupa baru diawali tahun 1975 sebagai “pemberontakan” terhadap ideologi estetik, dengan meniadakan batas yang tajam antara seni lukis, patung, grafis dan fotografi, sehingga para perupa dapat menggunakan secara bebas media baru pada karya mereka.  Pengaruh budaya urban juga terasa yang diperoleh melalui komunikasi bebas yang bersumber dari pertunjukan, film, TV, papan iklan, berita koran dan lain-lain. Kebebasan ekspresi dan kebebasan media bagi para perupa tanpa batas ini menghasilkan karya instalasi yang ternyata menyulitkan para pengamat. Dalam mengamati satu karya, pengamat harus banyak bertanya kepada perupa tentang karya mereka. 

bienale-6Apakah gaya seni baru ini menjadi gaya yang lebih dihargai karena lebih canggih dari karya perupa masa sebelumnya ? Bagaimana dengan nilai jual karya yang berukuran besar seperti karya instalasi ? Apakah karya ini layak ditempatkan di rumah-rumah tinggal, atau dipakai sebagai eye catcher di sudut ruang publik ? Mengapa dan berdasarkan latar belakang apa para perupa membuat karya versi baru tersebut? 

Itulah beberapa pertanyaan yang muncul lewat seminar, diskusi dan sarasehan yang digelar selama Biennale 2006, yang berlangsung dari tanggal 23 Mei sampai dengan 25 Juni 2006. 

Griya Asri menampilkan beberapa karya dari maestro pelukis masa lalu (yang sudah meninggal) dan beberapa karya seniman muda yang semunya menarik untuk disimak.  (Anur Mulhadiono)

 
< Prev   Next >