Sebuah ruangan berukuran sekitar 4 x 4 meter, di dalamnya
ada sebuah TV dan video yang memancarkan rangkaian gambar-gambar di dinding
hasil karya seorang seniman, disertai alunan musik pengiring. Penikmat bagaikan
melihat film narasi seni.
Ada pula sebuah ruangan yang dindingnya ditempelin foto
rekaman tempat pembuangan sampah, di depannya ada bangunan dari tumpukan limbah
kertas yang dimasukkan dalam bantal-bantal plastik transparan. Itulah antara
lain karya dari media bebas pada Biennale Jakarta 2006.
Biennale Jakarta 2006 adalah sebuah kegiatan seni nasional
yang tahun ini diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun kota
Jakarta ke-479. Kegiatan seni ini
terdiri dari pameran karya lukisan dan patung yang diberi nama milestone,
merupakan refleksi sejarah seni rupa di Indonesia. Memamerkan karya perupa dari
awal pelukis modern Indonesia seperti Raden Saleh, Sudjojono, Hendra, Mochtar
Apin sampai Nasirun, Heri Dono, Ipong Purnomo Sidi semuanya berjumlah 180
pelukis. Karya mereka dihimpun dari koleksi museum-museum dan koleksi pribadi,
dipamerkan di Galeri Nasional dan di Museum Seni Rupa dan Keramik. Penyelenggaraan
dan pemilihan karya dilakukan oleh kurator Eddy Soetriyono dan Suwarno
Wisetrotomo.
Tema Beyond The Limits and Its Challenges, yang diusung
dimaksudkan untuk memamerkan karya para seniman muda dengan media baru seperti
video art, fotografi, instalasi dan media teknologi lain hasil pilihan kurator
Rizki A.Zaelani dan Asikin Hassan. Hasil seni ini digelar di Galeri Cipta II
dan Galeri Cipta III di Taman Ismail Marzuki.
Hasil karya 7 perupa dari Jepang, AS, Filipina, Jerman,
Malaysia, Korea Finlandia dan Italia yang selama ini berkiprah, berkarya dan
tinggal di Indonesia dipilih oleh Rifky Effendy, dan dipamerkan di Galeri
Cemara 6 dan Galeri Lontar. Karya mereka berupa karya instalasi.
Keanekaragaman karya tersebut sengaja dipilih untuk
memberikan informasi bagi masyarakat umum tentang kegiatan seni sekaligus
menginventarisasi karya seni yang unggul baik dari dalam negeri maupun dari
luar negeri. Seni rupa baru diawali tahun 1975 sebagai “pemberontakan” terhadap
ideologi estetik, dengan meniadakan batas yang tajam antara seni lukis, patung,
grafis dan fotografi, sehingga para perupa dapat menggunakan secara bebas media
baru pada karya mereka. Pengaruh budaya
urban juga terasa yang diperoleh melalui komunikasi bebas yang bersumber dari
pertunjukan, film, TV, papan iklan, berita koran dan lain-lain. Kebebasan
ekspresi dan kebebasan media bagi para perupa tanpa batas ini menghasilkan
karya instalasi yang ternyata menyulitkan para pengamat. Dalam mengamati satu
karya, pengamat harus banyak bertanya kepada perupa tentang karya mereka.
Apakah gaya seni baru ini menjadi gaya yang lebih dihargai
karena lebih canggih dari karya perupa masa sebelumnya ? Bagaimana dengan nilai
jual karya yang berukuran besar seperti karya instalasi ? Apakah karya ini
layak ditempatkan di rumah-rumah tinggal, atau dipakai sebagai eye catcher di sudut
ruang publik ? Mengapa dan berdasarkan latar belakang apa para perupa membuat
karya versi baru tersebut?
Itulah beberapa pertanyaan yang muncul lewat seminar,
diskusi dan sarasehan yang digelar selama Biennale 2006, yang berlangsung dari
tanggal 23 Mei sampai dengan 25 Juni 2006.
Griya Asri menampilkan beberapa karya dari maestro pelukis
masa lalu (yang sudah meninggal) dan beberapa karya seniman muda yang semunya
menarik untuk disimak. (Anur Mulhadiono)
|