|
Batu Alam di Ruangan Keluarga |
|
|
|
|
Friday, 10 November 2006 |
Dewasa ini penggunaan batu alam untuk penghias taman atau
untuk penghias dinding pada salah satu bagian teras masih sering dijadikan
unsur dekoratif. Pemakaian batu alam tersebut bukan terbatas pada dinding atau
teras saja tetapi juga pada ruangan keluarga.
Indonesia merupaka negara yang kaya akan potensi alam dan
sumber berbagai bahan alam untuk kebutuhan manusia. Salah satu bahan alam yang
dapat dimanfaatkan sebagai bahan dekorasi adalah batu alam yang banyak
jenisnya. Misalnya batu pualam atau marmer dari Tulungagung ini dapat dibentuk
menjadi berbagai benda hias selain untuk bahan bangunan. Warna dan tesktur
serta alur-alur yang terdapat pada batu alam tersebut menjadi hal yang menarik
untuk ditonjolkan.
Batu alam
lainnya adalah batu paras yang berasal dari Yogyakarta, biasanya dipakai untuk
hiasan dengan cara dipahat dan dibentuk relief atau patung. Adapun penampilan
fisik dari batu paras ini yaitu ada yang berwarna krem, putih kecoklatan, putih
kekuningan, beralur-alur dengan warna lebih gelap atau lebih terang serta
bertekstur indah. Batu jenis ini merupakan batu alam yang sering digunakan oleh
para perajin karena batu ini tidak keras sehingga mudah dibentuk.
Dewasa ini
ada pula batu yang dikenal dengan batu sintetis. Batu sintetis ini merupakan
batu buatan yang terbuat dari tepung batu yang dicampur dengan semen atau pasir
putih dicampur dengan bahan pengikat lain. Secara fisik batu ini memang
menyerupai batu alam, hanya saja kebih ringan. Selain itu, benda kerajinan
seperti patung ataupun bentuk dekorasi lain dapat diperbanyak dengan
dicetak. Karena itulah harganya bisa
lebih rendah daripada benda kerajinan batu yang dipahat satu persatu. Namun, tetap saja keindahan alami berupa
tekstur dan alur-alur pada batu tidak dapat ditiru oleh manusia. Penemuan bahan
yang penampilannya hampir sama dengan batu yang asli ini memberikan kebebasan
kepada konsumen untuk memilih jenis batu yang dikehendaki. Untuk dekorasi ruang, batu artifisial
sama-sama terlihat indah.
Batu alam berbentuk relief kuno pada candi merupakan hasil
karya dari seniman-seniman masa lalu. Serpihan dari ornamen candi tersebut
masih terlihat manis bila dipadupadankan dengan furnitur atau pernak-pernik
modern lainnya dalam ruangan. Salah satu
contohnya adalah dari zaman Majapahit berumur ratusan tahun yang ditempatkan
pada salah satu sudut ruang di samping lampu duduk dari metal yang berkilat. Koleksi
yang berharap ini tidak hanya disimpan di ruang khusus atau di museum, tetapi
juga dapat menjadi aksen yang unik pada ruangan keluarga.
Patung-patung replika berupa kepala arca zaman Majapahit
dari batu paras dengan bentuk wajah yang diperhalus dan dipercantik ditempatkan
pada tiang-tiang besi dengan ketinggian
yang berbeda. Penataan tinggi rendahnya dua atau tiga kepala patung menjadi
aksen yang indah pada satu sudut ruang tamu atau pada ruang keluarga.
Batu granit atau batu marmer yang lebih keras dari batu
paras dapat dibentuk sesuai dengan keinginan dengan bantuan alat bubut mesin
sehingga dapat dibuat bentuk persegi atau bentuk bulat. Dalam hal ini yang
ingin diekpos adalah keunikan warna, tekstur dan alur-alur dari batu alam
tersebut. Kehadiran vas bunga dan berbagai wadah serta pernak-pernik berwarna
abu-abu, krem, broken white dengan bentuk simpel, ikut membantu menciptakan
suasana alami di ruang-ruang tamu atau di sudut-sudut ruang keluarga.
Hal-hal tersebut di atas menunjukkan bahwa batu alam
yang keras dan alami masih dapat menyatu dengan elegan pada gaya interior
etnik, eklektik ataupun modern. Asalkan kita pandai memadumadankan batu alam
dengan benda-benda di sekitarnya.
(Anur
Mulhadiono)
|