|
Kepiawaian melukis bagi AR Soedarto merupakan sebuah anugrah
luar biasa dari yang Maha Kuasa. Sebuah talenta olah rasa, olah pikir dan olah teknik
yang pantas disyukurinya. Melalui karyanya yang beraliran abstrak, ia turut
meramaikan khazanah dunia lukis di tanah air.
Banyaknya pelukis yang beraliran abstrak dewasa ini
merupakan berkah bagi para pelukis di tanah air karena mereka dapat menampilkan
karya terbaiknya. Griya Asri beberapa waktu yang lalu meliput karya AR.Sudarto,
seorang pelukis yang baru kembali berkarya. Dengan menggunakan alam sebagai
inspirasi objek lukisannya, ia menampilkan karya-karya yang berbeda dari karya
pelukis lainnya.
Bagi Soedarto, lukisan abstrak merupakan media untuk berdialog
yang mengasyikkan dan tidak akan pernah selesai. Ketika berkarya maka muncullah
makna-makna baru di dalamnya. Karya-karyanya kadang-kadang lahir dari sebuah ide
spontan, yang kadang-kadang membutuhkan jarak waktu dan ruang, serta perenungan
yang dalam sehingga diperoleh tingkat kualitas spiritual yang maksimal. Proses
pengalaman visual inilah pada akhirnya melahirkan simbol-simbol atau ikon-ikon berupa
garis, bidang, tekstur, warna dan titik.
Soedarto yang memulai kariernya sejak awal 1973 ini sempat berhenti
melukis selama sepuluh tahun. Berkat dorongan seorang teman, akhirnya ia sadar
bahwa bakat yang dimilikinya harus disalurkan kembali. Demikianlah pada tahun
1989 ia pun kembali aktif melukis dan pada tahun 1994 berpameran bersama para
seniman asal Kudus di Taman Ismail Marzuki (TIM). Setelah itu ia sering mengadakan
berbagai pameran, baik tunggal maupun bersama. Bahkan, alumni Sekolah Tinggi
Seni Rupa Nasional Indonesia ini pun membuat seri dengan tema yang selalu
berbeda untuk setiap periode lukisannya.
Tahun 2008 ini, ia membuat seri intan (diamond) dengan tema
“ dinamika kehidupan”, yang secara visual berwujud frame persegi empat yang
posisinya dibuat miring sehingga menyerupai diamond. Sebagai objek lukisannya,
ia mengambil tema sebuah delta, bila dilihat dari atas, Itulah sebabnya, pada
kanvas bagian atas dan bagian bawah penuh dengan objek sedangkan bagian tengah sengaja
dikosongkan untuk melambangkan area kehidupan. Daerah kosong ini dihubungkan
dengan titik-titik emas yang diartikan sebagai simbol dinamika kehidupan. Dari
satu titik ke titik lain itulah yang menggambarkan rentetan kehidupan yang kita
lalui. Warna emas yang menyertainya dapat diartikan sebagai rasa syukur kita
kepada Yang Maha Kuasa.
Material
yang dipakai adalah mixed-media, yaitu bahan limbah seperti karung goni, dan karung
plastik. Di sini bahan limbah tersebut ”disulap” menjadi barang seni. Untuk
komposisi warna, pelukis asal Kudus ini menerapkan warna-warna alam (natural) jadi
barang seni seperti warna tanah, warna laut dan hijau. Yang menjadi ciri khas
dari karyanya adalah selalu menerapkan warna oranye sebagai
aksen. Warna ini menurutnya dapat memberikan kesegaran dan keceriaan, sehingga
komposisi warna yang dihasilkan menjadi cantik. Ukuran bingkai yang dipakai pun
hanya dua macam, yaitu berukuran 68cm x 68cm dan 80cm x 80cm. Satu harapannya
yang sampai saat ini belum tercapai yaitu, ia ingin membuat semacam buku
panduan ( direktori pelukis Indonesia ) baik dalam bentuk buku atau website
internet, sehingga para kolektor, galeri, balai lelang, dan mereka yang
memerlukan cukup mudah untuk mendapatkan data dan informasi para pelukis.
|