Hari anak-anak Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 23 Juli selalu
diperingati di seluruh Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan
tanggal tersebut sebagai hari anak nasional, karena anak-anak adalah
calon penerus bangsa. Untuk membangun bangsa yang unggul, harus pula
dipersiapkan anak-anak yang unggul melalui perhatian terhadap
kesehatan, pendidikan dan akhlaknya. Dengan ditentukannya hari yang
istimewa tersebut diharapkan kepada para orang tua dan seluruh orang
dewasa agar lebih memperhatikan kesejahteraan anak-anak kita.
Anak-anak bukanlah manusia yang berbentuk kecil
atau orang yang masih kecil. Secara garis besar hal tersebut memanglah benar
namun tidaklah seluruhnya benar. Anak-anak bebas untuk berkhayal dan bermain.
Bahkan di balik itu anak-anak bereksperimen dan ingin menjangkau sesuatu untuk
membentuk dirinya menuju ke dunia orang dewasa. Sambil bermain anak-anak
mengembangkan kreativitasnya yang merupakan motor penggerak menuju kepribadian
yang baik. Karena itu adalah tugas orang tua, para pendidik dan guru untuk
melatih keseimbangan kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dan kecerdasan
intelektual anak. Dengan demikian orang tua haruslah mempunyai kualitas dan
kreativitas yang lebih baik dari pada anak-anak
untuk mengantarkannya ke dunia luas yang penuh tantangan.
Para seniman lukis menggambarkan bentuk fisik dan ekspresi kelucuan,
kegembiraan, serta kejujuran yang terdapat pada anak-anak. Hal ini diekpresikan
meraka secara naturalis dan realis. Bagaimana kita bisa menangkap karakter
anak-anak melalui media abstrak?
Salah satu pelukis yang mampu menangkap karakter
anak-anak melalui media abstrak tersebut adalah Pratomo Sugeng. Pelukis Pratomo
Sugeng lahir di Ponorogo, 1946 mempunyai 6 orang anak yang sudah dewasa dan
3 anak angkat yang diantaranya ada yang masih duduk dibangku SD. Bagi Pratmo
ekspresi anak-anak selalu memikatnya dan menjadi sumber ide dalam karyanya. Kelucuan
dan kepolosan anak-anak terpancar dari lukisan cat minyak yang rata-rata
berukuran di atas satu meter. Memang tema anak anak menjadi favorit pelukis
ini. Di samping itu bentuk figur yang dikaitkan dengan masalah sosial juga
sering dilukisnya. Dari awal Pratomo memang memilih jalur realis naturalis,
seperti gurunya pelukis R.Hadi dan Dullah. Sejak tahun 1990 hijrah ke Jakarta.
pelukis yang belajar dari berbagai sanggar dan studio ini, pada akhirnya ia
meyakini bahwa karier sebagai pelukis ada di ibu kota. Kini Pratomo mulai
diperhitungkan di dunia seni lukis modern .
Adapun pelukis Suprobo ( lahir di Pati, tahun
1958) berpendapat bahwa anak-anak objek lukisan sumber yang dapat
diekspresikan secara polos, karena kejujuran dan keluguannya. Bahkan
tanpa diarahkan model
anak-anak ini selalu dapat berpose wajar dan mudah untuk “ditangkap”
mata hati Suprobo. Dalam pameran tunggalnya yang ke 10 beberapa waktu
yang lalu, Suprobo
memilih objek pra-remaja dengan aneka tingkahnya. Kanvas ukuran sangat
lebar (lebih dari 2 meter) tanpa pigura memberikan kebebasan baginya
untuk berkarya. Dengan
demikian memberikan sudut pandang lebih luas bagi penikmatnya. Figur
anak-anak ditempatkan pada satu sisi kiri atau sisi kanan kanvas,
detail lain dibubuhkan
memanjang menyusuri bidang kanvas. Latar belakang lukisan berupa warna
tunggal berbarik menarik, kadang dengan warna ceria, kadang putih atau
warna yang
cenderung “berat” yang disesuaikan dengan warna objeknya. Gadis-gadis
yang mendekati usia remaja juga dilukis. Mereka bertingkah lebih serius
seperti
menjahit, belajar, bermain musik, bergaya dan berdandan menirukan
tingkah wanita dewasa.
Masih banyak pelukis seperti Trifena Hudijono, Yuswantoro Adi (
lahir di Semarang 1966), M Japin ( lahir di Ambarawa, 1959)dan juga
pelukis lainnya yang gemar mengabadikan anak-anak dalam karya
mereka. Pelukis-pelukis tersebut memperingatkan
kita untuk melindungi hak anak. Jangan sampai anak-anak Indonesia yang
berjumlah lebih dari 60 juta (menurut catatan Badan Perencana
dan Pembangunan Nasional, 2005) ini mendapat polusi pornografi dari
kemajuan komunikasi global.(Anur Mulhadiono)
|