Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Seni arrow Anak Sebagai Objek Lukisan
Anak Sebagai Objek Lukisan PDF Print E-mail
Friday, 07 July 2006
anak_a Hari anak-anak Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 23 Juli selalu diperingati di seluruh Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan tanggal tersebut sebagai hari anak nasional, karena anak-anak adalah calon penerus bangsa. Untuk membangun bangsa yang unggul, harus pula dipersiapkan anak-anak yang unggul melalui perhatian terhadap kesehatan, pendidikan dan akhlaknya. Dengan ditentukannya hari yang istimewa tersebut diharapkan kepada para orang tua dan seluruh orang dewasa agar lebih memperhatikan kesejahteraan anak-anak kita. anak_bAnak-anak bukanlah manusia yang berbentuk kecil atau orang yang masih kecil. Secara garis besar hal tersebut memanglah benar namun tidaklah seluruhnya benar. Anak-anak bebas untuk berkhayal dan bermain. Bahkan di balik itu anak-anak bereksperimen dan ingin menjangkau sesuatu untuk membentuk dirinya menuju ke dunia orang dewasa. Sambil bermain anak-anak mengembangkan kreativitasnya yang merupakan motor penggerak menuju kepribadian yang baik. Karena itu adalah tugas orang tua, para pendidik dan guru untuk melatih keseimbangan kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual anak. Dengan demikian orang tua haruslah mempunyai kualitas dan kreativitas yang lebih baik dari pada anak-anak  untuk mengantarkannya ke dunia luas yang penuh tantangan.

Para seniman lukis menggambarkan bentuk fisik dan ekspresi kelucuan, kegembiraan, serta kejujuran yang terdapat pada anak-anak. Hal ini diekpresikan meraka secara naturalis dan realis. Bagaimana kita bisa menangkap karakter anak-anak melalui media abstrak?

anak_cSalah satu pelukis yang mampu menangkap karakter anak-anak melalui media abstrak tersebut adalah Pratomo Sugeng. Pelukis Pratomo Sugeng  lahir di Ponorogo, 1946  mempunyai 6 orang anak yang sudah dewasa dan 3 anak angkat yang diantaranya ada yang masih duduk dibangku SD. Bagi Pratmo ekspresi anak-anak selalu memikatnya dan menjadi sumber ide dalam karyanya. Kelucuan dan kepolosan anak-anak terpancar dari lukisan cat minyak yang rata-rata berukuran di atas satu meter. Memang tema anak anak menjadi favorit pelukis ini. Di samping itu bentuk figur yang dikaitkan dengan masalah sosial juga sering dilukisnya. Dari awal Pratomo memang memilih jalur realis naturalis, seperti gurunya pelukis R.Hadi dan Dullah. Sejak tahun 1990 hijrah ke Jakarta. pelukis yang belajar dari berbagai sanggar dan studio ini, pada akhirnya ia meyakini bahwa karier sebagai pelukis ada di ibu kota. Kini Pratomo mulai diperhitungkan di dunia seni lukis modern .

anak_dAdapun pelukis Suprobo ( lahir di Pati, tahun 1958) berpendapat bahwa anak-anak objek lukisan sumber yang dapat diekspresikan secara polos, karena kejujuran dan keluguannya. Bahkan tanpa diarahkan model anak-anak ini selalu dapat berpose wajar dan mudah untuk “ditangkap” mata hati Suprobo. Dalam pameran tunggalnya yang ke 10 beberapa waktu yang lalu, Suprobo memilih objek pra-remaja dengan aneka tingkahnya. Kanvas ukuran sangat lebar (lebih dari 2 meter) tanpa pigura memberikan kebebasan baginya untuk berkarya. Dengan demikian memberikan sudut pandang lebih luas bagi penikmatnya. Figur anak-anak ditempatkan pada satu sisi kiri atau sisi kanan kanvas, detail lain dibubuhkan memanjang menyusuri bidang kanvas. Latar belakang lukisan berupa warna tunggal berbarik menarik, kadang dengan warna ceria, kadang putih atau warna yang cenderung “berat” yang disesuaikan dengan warna objeknya. Gadis-gadis yang mendekati usia remaja juga dilukis. Mereka bertingkah lebih serius seperti menjahit, belajar, bermain musik, bergaya dan berdandan menirukan tingkah wanita dewasa. 

Masih banyak pelukis seperti Trifena Hudijono, Yuswantoro Adi ( lahir di Semarang 1966), M Japin ( lahir di Ambarawa, 1959)dan juga pelukis lainnya yang gemar mengabadikan anak-anak dalam karya mereka.  Pelukis-pelukis tersebut memperingatkan kita untuk melindungi hak anak. Jangan sampai anak-anak Indonesia yang berjumlah lebih dari 60 juta (menurut catatan Badan Perencana dan Pembangunan Nasional, 2005) ini mendapat polusi pornografi dari kemajuan komunikasi global.(Anur Mulhadiono)

 
< Prev   Next >