|
Dahulu kota Bandung, dikenal sebagai kota yang asri dan
berudara sejuk. Bahkan Bandung dijuluki sebagai “kota Kembang” dan “Paris Van
Java”. Kini kondisinya telah berubah. Bandung sekarang merupakan kota yang terlihat
semrawut dan udaranya tidak sesejuk dulu. Meskipun demikian Bandung masih
mempynuai “area hijau” yang dapat dibanggakan yaitu Taman Hutan Raya (Tahura)
Ir, Djuanda yang dikenal sebagai Taman Djuanda. Di tempat ini kita dapat menikmati
segarnya udara sekaligus tempat melepas penat sambil bersantai. Di sini kita
juga dapat menggelar tikar sambil menyantap makanan yang dibawa dari rumah di
bawah pohon yang rindang.
Bagi para pecinta alam Tahura merupakan tempat yang ideal
untuk dikunjungi. Berbagai jenis flora dapat kita lihat di sini mulai dari
tumbuhan khas Indonesia seperti cemara, bayur, dan kayu putih. Sampai dengan tumbuhan
yang berasal dari luar negeri seperti pohon dari Afrika, Meksiko, dan Myanmar.
Di tempat ini pengunjung dapat berjalan kaki menyusuri jalan
yang dikelilingi pepohonan yang rimbun serta menikmati pemandangan indah di
sekitarnya.
Taman yang berfungsi sebagai hutan lindung dan kebun raya ini
memiliki luas sekitar 590 hektare dan berada di sebelah utara kota Bandung yaitu
sekitar 7 km dari terminal Dago. Hutan wisata ini telah diresmikan Presiden Soeharto
pada 14 Januari 1985 dan dikelola oleh
Perum Perhutani Unit III Jawa Barat.
Saat ini, dalam taman tersebut terdapat tidak kurang dari 2500 jenis pohon
yang terdiri atas 40 famili dan 108 spesies.
Keberadaan taman ini sangat diperlukan terutama setelah
flora Indonesia banyak yang terancam punah. Selain dihuni oleh berbagai jenis
tumbuhan di Tahura terdapat pula berbagai jenis binatang di antaranya musang,
tupai, kera dan berbagai jenis burung. Sebagai kawasan yang kaya akan flora dan
fauna, tak heran jika tempat ini juga berfungsi sebagai tempat penelitian bagi
mereka yang tertarik mempelajari ilmu kehutanan, botani, ekologi dan zoologi.
Untuk menyamanan pengunjung, pengelola Tahura Djuanda
menyediakan fasilitas pelengkap seperti jalan masuk beraspal, shelter, warung,
pos jaga, MCK, jalan setapak dan juga tempat memperoleh informasi.
Hal menarik lain yang terdapat di taman ini yaitu adanya
peninggalan berupa gua Belanda dan gua Jepang, sisa peninggalan perang dunia
ke-2 yang hingga kini masih ada. Gua-gua
ini terletak di lembah yang dialiri anak sungai Cikapundung. Gua Belanda dibangun
oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1920-an yang berfungsi sebagai terowongan irigasi
PLTA Belanda. Namun, saat suasana perang mulai memuncak terowongan tersebut
dialih fungsikan menjadi pusat komunikasi radio. Pada zaman revolusi gua ini juga pernah
dijadikan sebagai tempat penyimpanan amunisi. Terowongan yang berhubungan
lansgung dengan lorong-lorong lainnya ini, juga merupakan objek wisata dan sering
dikunjungi oleh para wisatawan.
Goa Jepang juga pernah dijadikan tempat penyimpanan senjata
dan mesiu bala tentara Jepang selama perang dunia kedua. Sebelum digunakan
tentara Jepang, gua ini awalnya merupakan terowongan irigasi PLTA Belanda yang kemudian dijadikan
benteng markas tentara Jepang di Priangan Di samping terdapat gua dan
kawasan berjalan kaki yang nyaman, di Taman Djuanda ini teradpat juga air
terjun yang turut memperindah dan menyemarakkan Taman Djuanda. (didan) ft :
Didan
|