Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Lingkungan Hidup arrow Tahura Djuanda, Paru-Paru Kota Bandung
Tahura Djuanda, Paru-Paru Kota Bandung PDF Print E-mail
Monday, 03 September 2007

dsc_1508Dahulu kota Bandung, dikenal sebagai kota yang asri dan berudara sejuk. Bahkan Bandung dijuluki sebagai “kota Kembang” dan “Paris Van Java”. Kini kondisinya telah berubah. Bandung sekarang merupakan kota yang terlihat semrawut dan udaranya tidak sesejuk dulu. Meskipun demikian Bandung masih mempynuai “area hijau” yang dapat dibanggakan yaitu Taman Hutan Raya (Tahura) Ir, Djuanda yang dikenal sebagai Taman Djuanda. Di tempat ini kita dapat menikmati segarnya udara sekaligus tempat melepas penat sambil bersantai. Di sini kita juga dapat menggelar tikar sambil menyantap makanan yang dibawa dari rumah di bawah pohon yang rindang.

dsc_1507Bagi para pecinta alam Tahura merupakan tempat yang ideal untuk dikunjungi. Berbagai jenis flora dapat kita lihat di sini mulai dari tumbuhan khas Indonesia seperti cemara, bayur, dan kayu putih. Sampai dengan tumbuhan yang berasal dari luar negeri seperti pohon dari Afrika, Meksiko, dan Myanmar.

Di tempat ini pengunjung dapat berjalan kaki menyusuri jalan yang dikelilingi pepohonan yang rimbun serta menikmati pemandangan indah di sekitarnya.

Taman yang berfungsi sebagai hutan lindung dan kebun raya ini memiliki luas sekitar 590 hektare dan berada di sebelah utara kota Bandung yaitu sekitar 7 km dari terminal Dago. Hutan wisata ini telah diresmikan Presiden Soeharto pada 14 Januari 1985 dan  dikelola oleh Perum Perhutani  Unit III  Jawa Barat.  Saat ini, dalam taman tersebut terdapat tidak kurang dari 2500 jenis pohon yang terdiri atas 40 famili dan 108 spesies.

dsc_1462Keberadaan taman ini sangat diperlukan terutama setelah flora Indonesia banyak yang terancam punah. Selain dihuni oleh berbagai jenis tumbuhan di Tahura terdapat pula berbagai jenis binatang di antaranya musang, tupai, kera dan berbagai jenis burung. Sebagai kawasan yang kaya akan flora dan fauna, tak heran jika tempat ini juga berfungsi sebagai tempat penelitian bagi mereka yang tertarik mempelajari ilmu kehutanan, botani, ekologi dan zoologi.

Untuk menyamanan pengunjung, pengelola Tahura Djuanda menyediakan fasilitas pelengkap seperti jalan masuk beraspal, shelter, warung, pos jaga, MCK, jalan setapak dan juga tempat memperoleh informasi.

Hal menarik lain yang terdapat di taman ini yaitu adanya peninggalan berupa gua Belanda dan gua Jepang, sisa peninggalan perang dunia ke-2  yang hingga kini masih ada. Gua-gua ini terletak di lembah yang dialiri anak sungai Cikapundung. Gua Belanda dibangun oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1920-an yang berfungsi sebagai terowongan irigasi PLTA Belanda. Namun, saat suasana perang mulai memuncak terowongan tersebut dialih fungsikan menjadi pusat komunikasi radio. Pada zaman revolusi gua ini juga pernah dijadikan sebagai tempat penyimpanan amunisi. Terowongan yang berhubungan lansgung dengan lorong-lorong lainnya ini, juga merupakan objek wisata dan sering dikunjungi oleh para wisatawan.

dsc_1570Goa Jepang juga pernah dijadikan tempat penyimpanan senjata dan mesiu bala tentara Jepang selama perang dunia kedua. Sebelum digunakan tentara Jepang, gua ini awalnya merupakan terowongan  irigasi PLTA Belanda yang kemudian  dijadikan  benteng markas tentara Jepang di Priangan Di samping terdapat gua dan kawasan berjalan kaki yang nyaman, di Taman Djuanda ini teradpat juga air terjun yang turut memperindah dan menyemarakkan Taman Djuanda. (didan) ft : Didan

 
< Prev   Next >