|
Pulau Jawa tidaklah memiliki danau-danau besar seperti danau
Toba, Maninjau dan Singkarak di Sumatra, danau Sentarum di Kalimantan dan danau
Sentani di Papua. Namun. di pulau ini tersebar danau-danau berukuran kecil berpenampilan indah dan menarik. Danau kecil
ini di daerah Jawa Barat biasa disebut situ. Kadang-kadang lokasi situ ini
terletak di daerah tersembunyi di lereng gunung.
Situ tidak memiliki batasan ukuran tetapi biasanya dianggap badan
air kecil yang memiliki luas antara puluhan hectare sampai ratusan hektare,
tidak sampai ribuan hektare seperti danau-danau besar. Situ dapat terbentuk
secara alami dari suatu cekungan di tanah atau dapat berasal dari bekas kawah gunung berapi. Cekungan
ini terisi oleh air yang bersumber dari sungai kecil atau aliran air yang
terdapat di sekelilingnya. Kadang-kadang sumber air ini juga dapat muncul di
dasar situ dalam bentuk mata air. Situ seperti ini biasanya terdapat di
lereng-lereng gunung berhutan lebat, tempat sumber air masih melimpah. Di
samping itu, terdapat juga situ yang merupakan hasil karya manusia, dibuat untuk
fungsi tertentu dengan cara membendung aliran sungai atau memperdalam permukaan
tanahnya. Jadi baik situ alami maupun situ
buatan memiliki manfaat tak ternilai baik bagi manusia maupun bagi makhluk
hidup lainnya.
Situ merupakan sumber air minum bagi berbagai jenis binatang
baik besar maupun kecil yang tinggal di sekitarnya. Aliran air dari situ sering
dimanfaatkan untuk mengairi lahan-lahan pertanian milik penduduk desa dapat
pula atau digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci. Saat kemarau panjang
terjadi, biasanya situ menjadi harapan terakhir dalam upaya mendapatkan air. Selain
sebagai penyedia dan penyimpan air, situ juga memiliki fungsi untuk menanggulangi
banjir. Situ-situ yang terdapat di kawasan Jakarta, Tangerang, Bogor dan Depok-
Jawa Barat, misalnya menjadi tempat untuk menampung curahan air saat musim
hujan, untuk mencegah meluapnya air sungai. Selain itu banyak situ yang berlokasi
di tempat-tempat indah seperti di dataran tinggi atau pegunungan sehingga dapat
dijadikan sebagai tempat untuk berekreasi, sekadar melepas penat atau bahkan
mencari inspirasi.
Walaupun manfaat situ ini sudah terlihat jelas tetapi banyak
orang yang masih belum menghargai keberadaannya. Banyak diantara mereka yang
membiarkan situ-situ ini lenyap. Bahkan menurut data dari Direktorat Jenderal
sumber Daya Air -Departemen Pekerjaan Umum, situ yang tersisa di Jakarta saat ini hanya
tinggal 30% saja. Faktor penyebabnya antara lain terjadinya penimbunan situ yang
dialih fungsikan sebagai kawasan permukiman, untuk industri dan tanah garapan.
Selain itu, pendangkalan dan penyempitan juga merupakan masalah utama yang
harus pula diperhatikan. Rusaknya vegetasi pada daerah aliran sungai
menyebabkan air hujan tidak dapat diserap oleh tumbuhan, membuat tanah terkikis
dan air mengalir menuju situ dengan membawa lumpur. Tidak sedikit pula pendangkalan yang disebabkan oleh
pembuangan limbah atau sampah langsung ke situ. Minimnya pasokan air dari sungai dan mata air
juga menyebabkan banyak situ mulai kekurangan air. Hutan yang berfungsi untuk menyerap
air hujan kini semakin berkurang. Hal ini menjadikan debit air sungai dan mata
air mengecil atau bahkan mengering. Selain itu, terbatasnya upaya pengelolaan
situ oleh pemerintah akibat minimnya anggaran juga turut memperparah keadaan. Di
sisi lain kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam melestarikan situ, juga
dirasakan masih kurang. Kondisi demikian jika terus dibiarkan akan
mengakibatkan banyak situ yang lenyap dalam ebberapa tahun mendatang. Ini
berarti hilang pula cadangan air bagi kita semua.
-Rifki Sungkar-
|