Rawa masih
dianggap sebagai tempat yang misterius, tempat beragam binatang hidup. Rawa memang
merupakan tempat tinggal beberapa binatang ’menakutkan’ seperti buaya dan ular
sanca. Masih banyak rahasia tersembunyi di rawa dan sangat sulit untuk memecahkan
rahasia tersebut. Namun, banyak orang mengetahui bahwa rawa memiliki peran
penting bagi kehidupan berbagai mahluk termasuk manusia.
Pesisir pantai
barat Sumatera merupakan tempat rawa-rawa yang sangat luas masih dapat
dijumpai. Rawa Singkil misalnya, terletak di daerah Aceh bagian selatan, adalah
salah satu diantaranya. Hamparan rawa ini begitu luas, mencapai sekitar 110.000
hektare. Samudra Hindia menjadi batas sisi barat Rawa Singkil, sedangkan Sungai
Alas mengalir dari jantung kawasan Leuser- memagari bagian timur. Rawa ini
terbentuk menyusul letusan gunung Toba 75.000
tahun lalu, salah satu letusan terdahsyat yang pernah terjadi di dunia.
Abu letusan ini membendung sungai Alas, membentuk suatu danau besar untuk
selanjutnya terbelah oleh munculnya
Bukit Barisan. Limpahan endapannya lalu menyapu daerah lain melalui aliran
sungai, menciptakan kawasan rawa.
Kawasan rawa
sering dianggap lahan tidak bermanfaat dan tidak produktif. Oleh karena itu
dalam pandangan banyak pihak termasuk pemerintah, rawa lebih baik dikeringkan
melalui pembuatan saluran-saluran air, agar dapat dimanfaatkan untuk lokasi
perkebunan atau tempat menampung transmigran. Jika di dalamnya banyak terdapat
pohon-pohon besar maka dapat diserahkah dulu ke pengusaha untuk diambil
kayunya. Rawa Singkil juga tidak terlepas dari perlakuan seperti itu. Pada
tahun 1980-an mulai dilakukan ekspedisi ilmiah ke tempat ini. Para peneliti
menemukan kekayaan alam luar bisa di sini. Harimau sering muncul, buaya dan
ular sanca terdapat dimana-mana demikian pula halnya beruang madu. Burung-burung
langka ternyata didapatkan hidup sehat di sini, sedangkan ikan-ikan sangat
melimpah.
Ketika musim
panas datang, binatang-binatang dari hutan dataran rendah di sebelah utara,
bermigrasi ke rawa ini. Diketahui juga sebagian besar rawa didominasi oleh rawa
gambut dengan beberapa bagian lainnya dapat dijumpai rawa air tawar dan rawa
bakau. Pada tahun 1990-an para peneliti mengungkapkan bahwa Rawa Singkil
memiliki populasi orang utan tertinggi di dunia. Tidak hanya itu, orang utan di rawa ini telah berkembang ”teknologinya”
dalam mencari makan yaitu menggunakan alat bantu berupa batang kayu untuk
membuka buah-buahan, mengorek sarang rayap atau mengambil madu di dalam batang
pohon. Suatu fenomena yang jarang dijumpai di lokasi lainnya. Temuan-temuan ini membuat pemerintah
akhirnya pada tahun 1998 menetapkan Rawa Singkil menjadi kawasan lindung berupa
suaka margasatwa.
Sekalipun
demikian bukan berarti keutuhan Rawa Singkil sudah terjamin. Seiring dengan era
otonomi daerah, desakan untuk mengkonversi rawa menjadi peruntukan tertentu,
tetaplah mengemuka. Padahal menjaga kelestarian Rawa Singkil, tidak berarti
hanya melindungi berbagai binatang
melainkan juga melindungi manusia juga. Sekarang ini telah diketahui bahwa rawa
gambut merupakan tempat penyimpan karbon yang sangat besar. Menghancurkan rawa
berarti akan melepas jutaan ton karbon ke udara, memperparah terjadinya perubahan
iklim. Rawa ini merupakan pengatur iklim lokal dan kelembapan regional bagi
daerah sekitarnya. Disamping itu dengan
pori-pori alamiahnya, Rawa Singkil menghambat perembesan air laut ke dalam
tanah dan lahan pertanian. Rawa ini juga tempat bagi jutaan ikan dan udang untuk
bertelur dan berkembang biak di sini. Merusaknya berarti sama saja akan
menghancurkan industri perikanan lepas pantai di sekitar rawa.
|