|
”It is my hope that we will rise as one to face this
challenge, and leave a better world for future generations”
Itulah kalimat yang pernah diucapkan Sekjen PBB Ban Ki-moon dalam
upaya memerangi perubahan iklim. Harapan itu pula yang mungkin ingin dicapai dalam
Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim dari tanggal 3-14 Desember 2007 di Nusa
Dua, Bali. Konferensi ini sangat penting karena
di dalamnya dibahas mengenai masa depan kelangsungan hidup umat manusia.
Penyelenggaraan konferensi perubahan iklim ini berawal dari peringatan
para ilmuwan di awal tahun 1990-an akan ancaman serius perubahan iklim bagi
manusia dan lingkungan. KTT PBB mengenai bumi pada tahun 1992 di Rio de
Janeiro, Brazil, menanggapi peringatan ini dengan menyetujui dibentuknya
Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (UN Framework Convention on Climate
Change-UNFCCC). Konvensi ini bertujuan untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah
kaca di atmosfer pada tingkat tertentu. Para negara penandatangan UNFCCC
bertemu setiap tahun sekali untuk membahas dan menyepakati tindakan yang harus
dilakukan, dalam pertemuan Conference of Parties (COP) atau sering disebut
konferensi perubahan iklim.
Pada COP ke-3 di Kyoto Jepang tahun 1997 telah dicapai sebuah kesepakatan yang disebut
Protokol Kyoto. Di sini tercapai konsensus bahwa negara maju (kecuali Amerika
Serikat) yang selama ini menjadi pembuang karbondioksida (CO2) terbanyak
bersedia menurunkan emisi gas rumah kaca minimal 5 % dari tingkat emisi tahun
1990 pada periode tahun 2008-2012. Kini 4 tahun menjelang berakhirnya protokol Kyoto, COP ke 13 di Bali
menjadi sangat penting untuk menjadi landasan tercapainya kesepakatan baru
setelah tahun 2012.
Sekitar 10.000 orang hadir dalam konferensi perubahan iklim
di Bali yang terdiri dari delegasi resmi 187 negara, para pengamat dari
organisasi internasional dan non pemerintah serta media massa. Acara dalam
konferensi ini bukan hanya sekadar membuat negosiasi saja. Terdapat lebih dari
200 acara pendamping (side event), yang semuanya mengusung beragam isu dalam
bentuk seminar, diskusi, sharing experience atau peluncuran program. Di samping itu, ada lebih dari 100 stan
mengisi ruang pameran yang disediakan di lokasi konferensi. Belum lagi suguhan happening
art atau demonstrasi yang dilakukan LSM baik dari dalam negeri maupun dari luar
negeri. Di luar lokasi konferensi digelar pula kegiatan-kegiatan lain (parallel
event) yang jumlahnya sekitar 50 macam acara.
Dalam konferensi ini terungkap fakta bahwa perubahan iklim
telah terjadi sekarang, bahkan cenderung lebih cepat terjadinya daripada yang
diduga sebelumnya. Negara-negara kepulauan kecil seperti Fiji, Samoa dan Tulavu ”berteriak”
karena pantai-pantai mereka telah mulai tenggelam. Selain itu, benua Afrika
terancam bencana kelaparan karena gagal panen akibat kemarau berkepanjangan. Di
sisi lain es di kutub utara dan kutub selatan mencair lebih cepat dari apa yang
diprediksi para ilmuwan.
Proses perundingan berjalan sangat lambat karena sikap
Amerika Serikat, Jepang dan Kanada masih enggan mengurangi emisinya. Setelah
sempat diperpanjang satu hari, akhirnya konferensi menghasilkan konsensus
bernama Bali Road Map. Di sini disetujui agenda dan jadwal yang harus diselesaikan sampai tahun 2009
guna menghasilkan perjanjian baru setelah Protokol Kyoto. Sekalipun demikian masih
terlihat masalah subtansi yaitu besarnya pengurangan emisi yang gagal
disepakati. Angka pengurangan emisi sebesar 25-40 % bagi negara maju sampai
tahun 2020, agar suhu tidak naik melampaui
20 C dan tidak menimbulkan bencana dahsyat, tidak dicantumkan pada konsensus
tersebut. Tampaknya harapan Sekjen PBB Ban Ki-moon agar kita semua menyatukan langkah
dalam menghadapi perubahan iklim masih belum dapat terwujud.
|