Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Lingkungan Hidup arrow Kisah Penebang Kayu yang Berubah Menjadi Pelindung Hutan
Kisah Penebang Kayu yang Berubah Menjadi Pelindung Hutan PDF Print E-mail
Tuesday, 26 September 2006
tangkahanecolodge2Hutan di Tangkahan, merupakan surga bagi satwa liar. Empat mamalia besar Sumatra yaitu gajah, badak, harimau dan orang utan hidup bersama di sini. Di samping itu berbagai binatang lainnya seperti beruang madu, kambing hutan, kera siamang, owa, monyet kedih, burung kuau dan rangkong serta ratusan jenis burung lainnya, membuat hutan ini sangat kaya akan kehidupan.

gajah3Lokasi yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser-Sumatera Utara ini juga merupakan tempat idaman bagi para pencari kayu. Pohon-pohon meranti, damar, merbau dan keruing yang merupakan jenis kayu tebangan sangat berharga, sangat melimpah. Karena itu tidak mengherankan ketika euforia reformasi menyentuh daerah ini,  cukong-cukong kayu pun mulai berdatangan. Mereka mempengaruhi para petani jeruk dan karet dari suku Karo yang tinggal berbatasan dengan hutan untuk melakukan kegiatan penebangan kayu. Akibatnya hutan di Tangkahan pada masa itu hampir porak poranda.   

pohonbesar3 Pendapatan para petani pun meningkat drastic, hanya dengan menebang kayu. Uang sebesar 3 juta rupiah dapat mereka kantongi dalam seminggu. Namun sejalan dengan kegiatan itu ketenangan hidup mereka pun mulai terasa. Ketakutan akan ditangkap polisi akibat melakukan kegiatan ilegal selalu membayangi para petani. Konflik dalam keluarga pun sering terjadi. Ada yang ditolak oleh orang tuanya karena tidak suka melihat anaknya mencuri kayu. Ada yang ribut rumah tangganya karena ketidakmampuan mengelola pendapatan yang sedemikian besar secara bijaksana. Belum lagi risiko kecelakaan dalam melakukan penebangan. Tidak sedikit petani yang tewas akibat tertimpa pohon. Apalagi setelah mereka tahu bahwa uang yang mereka terima sangat kecil dibandingkan dengan keuntungan para cukong. Selain itu anak-anak mereka yang sering berinteraksi dengan para pencinta alam dari kota Medan, juga mulai sadar akan pentingnya melestarikan hutan. Kondisi seperti ini membuat para petani  mulai berpikir ulang. Akhirnya demi masa depan anak-anak mereka dan untuk mencegah terjadinya bencana alam, para penebang kayu liar ini sepakat untuk memanfaatkan hutan secara lebih bijaksana. 

sungai Masyarakat  kembali bertani jeruk dan menyadap karet. Jika dibandingkan dengan menebang kayu penghasilan dari kebun jeruk yaitu satu keluarga mendapatkan 30 juta per tahun memang tak ada apa-apanya. Namun kehidupan mereka sekarang sudah tenteram kembali. Kemudian masyarakat membuat peraturan desa yang isinya melarang berbagai kegiatan yang dapat merusak lingkungan baik di hutan maupun di sungai. Mereka juga membentuk Tangkahan Simalem Ranger yang bertugas menjaga keamanan hutan di taman nasional. Beberapa kali dalam sebulan, diadakan patroli hutan bersama dengan  pasukan gajah dari lembaga konservasi Flora Fauna International yang menjalankan programnya di sini. 

Sebagai upaya menfaatkan hutan secara berkelanjutan, pada tahun 2001 didirikanlah Lembaga Pariwisata Tangkahan. Dengan dibantu oleh organisasi Indonesian Ecotourim Network (INDECON), masyarakat membuat perencanaan usaha ekowisata di Tangkahan. Jalan-jalan kerbau di hutan yang dahulu digunakan untuk menarik kayu, sekarang berfungsi sebagai jalur jalan wisata. Keahlian masyarakat dalam mengarungi sungai dengan menggunakan ban untuk mengangkut hasil panen dan kayu dimanfaatkan untuk atraksi bagi wisatawan. Saat ini wisatawan dalam negeri dan luar negeri mulai berdatangan ke Tangkahan. bahkan lima tahun terakhir ini tidak ada lagi kasus pencurian kayu atau perburuan ilegal di Tangkahan. Petugas Taman Nasional Gunung Leuser pun bisa bersantai karena masyarakat juga ikut menjaganya. Tangkahan adalah secercah harapan  di tengah kerusakan hutan yang sedemikian dahsyat di Indonesia.

   

-Rifki Sungkar-

 
< Prev   Next >