Issues
-
September, 2008
-
July, 2008
-
June, 2008
-
May, 2008
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
November, 2007
|
|
Hubungan Bangunan dan Perubahan Iklim |
|
|
|
|
Wednesday, 14 May 2008 |
Seperti kita ketahui berbagai bangunan seperti rumah, tempat berkerja, pusat komersial dan hiburan, tempat layanan kesehatan dan pendidikan, dan berbagai gedung lainnya sangat bermanfaat bagi manusia. Di sisi lain bangunan ternyata “bertanggung jawab” atas penggunaan sebagian besar sumber daya alam, pembuangan limbah dan konsumsi energi. Bahkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan bangunan, sangat signifikan dalam menyumbang terjadinya perubahan iklim.
Sumbangan emisi GRK dari bangunan tidak bisa dianggap remeh. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) - lembaga yang menghimpun hasil penelitian ribuan ilmuwan tentang perubahan iklim di seluruh dunia- tahun 2007, menyebutkan bahwa bangunan menyumbang 7,9% emisi global GRK. Jika faktor penggunaan listrik dimasukkan, angka ini membengkak menjadi 33% dari total emisi global pada tahun 2004. United Nations Environment Programme Sustainable Construction and Building Initiative (UNEP-SBCI) menunjukkan bahwa bangunan mengkonsumsi sekitar 30-40% dari total energi global. Sektor ini masih akan tumbuh terus, sejalan dengan ‘ledakan kontruksi’ di berbagai belahan dunia. Tidak heran jika International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan untuk bangunan akan menstimulasi 50% investasi suplai energi sampai tahun 2030.
Status bangunan sebagai pemakai energi terbesar membuat sektor ini tidak hanya berperan penting dalam memicu terjadinya perubahan iklim, tetapi sebaliknya juga berpotensi sangat besar untuk membantu menguranginya. Kuncinya adalah bagaimana cara untuk mengurangi dan menghindari emisi GRK dari bangunan. Konsumsi energi terbesar (40%), terjadi pada operasional bangunan yaitu melalui sistem pemanasan, pendinginan, pencahayaan, produksi air panas dan penggunaan peralatan berbasis listrik dan sumber tenaga lainnya di dalam rumah, kantor atau tempat komersial. Energi lainnya digunakan untuk proses memproduksi material bangunan dan konstruksi.
Sebagaimana yang dilakukan pada sektor lain, penurunan emisi GRK pada bangunan bisa dilakukan melalui tiga cara yaitu mengurangi penggunaan energi, mengganti energi bahan bakar fosil dengan energi terperbaharui dan meningkatkan efisiensi energi. Dengan menggunakan teknologi yang ada dan dalam waktu singkat, konsumsi energi bangunan baru maupun lama, dapat dipotong 30-50% tanpa peningkatan biaya investasi yang nyata. Keberhasilan meningkatkan efisiensi energi bangunan tidak harus selalu menggunakan teknologi maju dan canggih, melainkan dapat juga dilakukan melalui solusi sederhana seperti desain yang cerdas, solusi energi yang fleksibel dan penyampaian informasi yang tepat kepada pengguna bangunan.
Solusi sederhana ini antara lain penapisan sinar matahari dan penghawaan alami, meningkatkan insulasi bagian luar bangunan, mengunakan material daur ulang, penyesuaian ukuran dan bentuk bangunan sesuai fungsinya.
Hasil lebih maksimal bisa diperoleh dengan bantuan teknologi lebih maju seperti pengunaan sistem pendingin, sistem pemanas, sistem pencahayaan dan pemakaian alat rumah tangga yang hemat energi.
Potensi sektor bangunan untuk membantu menurunkan emisi GRK dengan drastis secara teknis telah terbukti. Namun sayangnya caranya masih kurang dikenal dan sering tidak memperoleh dukungan kebijakan pemerintah dan kurang mendapat perhatian dunia pasar. Studi World Business Council for Sustainable Development (WBCSS) menemukan 4 unsur kunci yang menghambat kemajuan efisiensi energi bangunan yaitu kurangnya pengetahuan, kurangnya penerimaan komunitas bisnis, kurangnya kepercayaan korporasi, dan kurangnya komitmen personal. Hal ini membuat program kampanye dan peningkatan kapasitas tentang upaya mereduksi GRK dari bangunan, menjadi sangat penting untuk seluruh kalangan seperti pemerintah, investor, arsitek, developer, kontraktor maupun penghuni. Selain itu pemerintah memiliki peran sangat vital dalam membantu upaya ini melalui kebijakan-kebijakan yang dapat menghapus hambatan dalam meningkatkan efisiensi energi. Kebijakan tersebut dapat berupa penetapan standar energi bangunan dan peralatan rumah tangga, kantor dan tempat komersial labelling, pembebasan pajak peralatan hemat energi atau rendah karbon, pembuatan proyek percontohan dan insentif bagi bangunan efisien energi.
|

|