|
Friday, 07 July 2006 |
Tanggal 11 Agustus 1772 lewat tengah malam, masyarakat
dataran Garut Jawa Barat dikejutkan oleh suara menggelegar dan gemertak
dahsyat. Gunung Papandayan meletus ! “ …membumbung tinggi ke atas sinar-sinar
api terang yang menerangi kegelapan, memecah-mecah puncak gunung melempar dan menyebar
bongkah-bongkah ke sekitarnya”, demikian catatan F.W. Junghuhn, seorang
penjelajah gunung berkebangsaan Jerman, tentang meletusnya gunung ini (dikutip
oleh C.W. Wormser dalam bukunya Bergenweelde, 1928). Dalam sekejap sebanyak 40
desa dan kurang lebih 2.951 jiwa menemui ajalnya, tertimbun bebatuan dan
material lontaran Gunung Papandayan. Penduduk yang terhindar dari hujan batu
dan abu, pada hari berikutnya tercengang melihat sebagian gunung, tadinya
berbentuk kerucut telah lenyap, digantikan oleh celah kawah dalam, menghembuskan uap dan kehancuran.
Sebenarnya fenomena gunung meletus bukanlah hal yang aneh di Indonesia. Papandayan hanya satu dari
129 gunung api di Indonesia yang sewaktu-waktu dapat meletus. Keberadaan gunung
api dengan memiliki kekuatan merusak hebat memang mengerikan. Tetapi di sisi
lain terdapat banyak hal lain yang dapat
diberikan oleh sang gunung api. Bekas letusan dan kawah aktif selalu
menyajikan bentang alam yang sangat indah, membuat kita menahan nafas
menggaguminya. Secara perlahan-lahan alam yang hancur akibat letusan akan pulih
kembali. Tumbuhan mulai muncul dan berkembang kembali berpadu dengan hutan utuh
yang terhindar dari kerusakan, menciptakan alam nan kaya akan kehidupan. Kawah-kawah tua dan telah mati akan berubah
menjadi padang-padang terbuka mempesona,
dihiasi dengan beraneka macam bunga dari berbagai tumbuhan. Gunung ini juga
menjadi daerah wisata paling populer pada masa itu, didatangi para turis baik
melalui Garut atau Pengalengan -Bandung.
Material yang dimuntahkan saat Papandayan meletus juga
memiliki banyak manfaat. Debu-debu vulkanis menyebar ke lereng-lereng atau
dataran membuat tanah menjadi sangat subur, kaya akan nutrisi bagi tanaman. Produksi
sayur melimpah di Garut sedangkan Pengalengan terkenal dengan kebun-kebun
tehnya. Sementara sumber-sumber air mengalir dari puncak-puncak gunung, memberi
kehidupan bagi penduduk di dekatnya. Kehidupan mereka juga bergantung pada dua
sungai besar di Jawa Barat yaitu Cimanuk dan Citarum. Kedua sungai ini sebagian
besar airnya bersumber di gunung Papandayan. Selain itu perut bumi yang aktif
dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi ramah lingkungan. Terdapat dua
pembangkit listrik geothermal di sini, menyumbang terangnya kota dan desa di Jawa Barat.
|
 |
Gunung Papandayan sewaktu-waktu dapat aktif kembali. Namun
dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, para ahli sudah dapat mendeteksi
gejala akan meletusnya suatu gunung, sehingga masyarakat sekitarnya dapat
menghindar. Justru saat ini sang gununglah
memerlukan bantuan dari kerusakan
yang ditimbulkan oleh manusia. Maraknya pembukaan hutan secara illegal
menjadi lahan pertanian di gunung Papandayan menyebabkan terganggunya keseimbangan
alam yang telah ada. Suatu perlakuan yang tidak layak mengingat begitu banyak
yang telah diberikan gunung ini bagi
kehidupan menusia.
-Rifki Sungkar-
|