|
Tahun 2006 ditandai dengan melambungnya harga minyak bumi
mencapai titik tertinggi US$ 78 per barrel. Dunia pun tersentak, harga tersebut
jika bertahan lama- dapat membuat perekonomian
global kolaps. Berfluktuasinya harga minyak bumi dunia dengan kecenderungan
naik terus dan sangat dipengaruhi situasi politik negara produsen, akhirnya membuat
kita tersadar untuk tidak hanya bergantung pada satu macam sumber energi saja.
Mahalnya harga minyak menyebabkan orang mulai menengok ke
sumber energi alternatif. Tidak mengherankan jika saat ini pada tingkat global
terjadi investasi besar-besaran pada sektor energi alternatif dan inovasi
teknologi energi. Pengembangan kebanyakan diarahkan ke sumber energi bersih dan
dapat diperbaharui (renewable energy). Hal ini dilakukan mengingat bahan bakar
fosil berupa minyak bumi bersama gas dan batu bara telah diketahui menghasilkan
buangan gas karbondioksida (CO2) , salah satu gas rumah kaca yang ”menghancurkan” atmosfer mengakibatkan meningkatnya
suhu bumi (pemanasan global). Perubahan iklim global pun terjadi dan dampaknya
sekarang mulai dirasakan oleh seluruh manusia di berbagai belahan dunia. Oleh
sebab itu sumber energi di masa depan selain mengarah kepada pemakaian beragam
jenis energi juga harus bersih dan tidak mencemari lingkungan.
Diantara berbagai macam energi bersih dan dapat
diperbarui–air, angin, gelombang, biomassa, panas bumi- , sinar matahari
merupakan sumber energi paling menjanjikan. Jumlah energi yang di pancarkan
oleh sinar matahari di permukaan bumi melimpah, setara dengan 10.000 kali
konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Karena matahari menyinari seluruh
bumi, sumber energi ini dapat diakses
bebas oleh siapa saja, tidak ada batas negara, tidak ada diskriminasi dan tidak
ada monopoli suplai. Penggunaan energi surya juga tidak menghasilkan buangan
membahayakan atmosfer dan tidak memerlukan air sama sekali.
Prinsip kerja dari energi surya atau dikenal dengan istilah solar
cell atau photovoltaic cell, sederhana saja: sinar matahari ditangkap oleh
sel-sel berlapis semikonduktor untuk diubah menjadi listrik. Energi listrik ini
lalu disimpan dalam baterai agar dapat juga digunakan pada malam hari saat
sinar matahari menghilang. Sel-sel ini termuat
dalam panel-panel dengan ukuran yang bisa disesuaikan dengan keperluannya, apakah
untuk rumah, bangunan perkantoran, atau pembangkit listrik skala besar.
Dewasa ini energi surya merupakan salah satu industri paling
menguntungkan di dunia dengan pertumbuhan tinggi yaitu mencapai 60% per tahun. Seiring
dengan berkembangnya teknologi, harganya pun semakin murah dan terjangkau untuk
dapat di pasang di rumah-rumah. Sekitar 400.000 rumah di Jepang, Jerman dan
Amerika telah memasang panel surya pada atapnya. Di Eropa, pembangkit listrik
tenaga matahari skala besar telah dibangun untuk menerangi perkotaan sedangkan di
daerah-daerah terpencil di Afrika dan India, panel surya membantu menyediakan
listrik bagi penduduknya. Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk mengembangkan
energi surya karena posisinya pada garis ekuator sehingga sinar matahari dapat
diterima secara optimal. Namun sayangnya, disaat banyak negara lain berupaya
mencegah perubahan iklim melalui pemanfaatan energi bersih, pemerintah
Indonesia justru lebih tertarik menggunakan sumber energi batu bara yang jelas-jelas
buangannya mencemari udara bahkan lebih parah dari minyak bumi.
-Rifki Sungkar-
|