|
Konsep desain rumah ini tampak memperlihatkan semangat dan
ciri khas rumah asli di kawasan Menteng, Jakarta Pusat dengan wujud bergaya
tropis kontemporer. Dominasi material alami, bukaan yang lebar dan
kesinambungan antara ruang dalam dan lingkungan menjadi kekuatan rancangannya.
Menteng telah lama dikenal sebagai kawasan cagar
budaya khususnya warisan arsitektur zaman kolonial yang harus dilindungi,
dilestarikan serta dikembangkan secara hati-hati. Dahulu, kawasan ini dirancang
mengacu pada konsep kota taman bergaya Eropa tetapi disesuaikan dengan iklim
tropis. Menurut perencanaannya peruntukan lahan di kawasan ini harus didominasi
oleh ruang terbuka hijau yaitu lebih dari 30 persen dari total luas lahan harus
menjadi taman dan wujud bangunannya juga berorientasi ke arah lingkungan luar.
Hasilnya, rumah-rumah lama di Menteng ini ada yang menyerupai bungalo bergaya tropis
kolonial dan ada pula yang beratap datar, kental dengan nuansa art deco. Berbagai
keunikan inilah yang menarik minat Dewi dan Rizal Malarangeng untuk membeli
lahan dan bangunan lama di kawasan tersebut.
Kondisi awal hunian ini cukup unik yaitu bagian depannya
lebih lebar dengan bentuk memanjang ke belakang dan berbelok di bagian tengah. Bangunan
eksistingnya merupakan rumah lama yang hampir habis terbakar sehingga harus
dirobohkan sedangkan untuk membuat bangunan baru harus mengacu pada peraturan daerah
mengenai revitalisasi di kawasan cagar budaya tersebut. Berbagai keterbatasan ini
justru menjadi tantangan bagi pemilik dan arsitek D.S. Pangestuti dan Rully
Harianto dari konsultan ARD Design untuk bersama-sama menyusun konsep rancangan
rumah baru. Dalam hal ini, pemilik dan arsitek sepakat untuk “mengangkat” semangat
dan ciri khas rumah asli di Menteng yang “dikemas” dalam wujud kontemporer dan
dimodifikasi sesuai dengan gaya hidup modern pemilik rumah. Konsep desain seperti
ini dikenal dengan konsep “Menteng Revivalism”.
Hal pertama, yang dilakukan arsitek yaitu mengoptimalkan
kondisi lahan dengan menempatkan dua massa bangunan yaitu massa bangunan utama
dan massa bangunan studio. Kedua massa ini dipisahkan oleh halaman dalam yang
cukup luas dengan kolam renang yang sekaligus berfungsi sebagai reflecting pool
bagi bangunan studio. Arsitek memilih tipikal bungalo bergaya tropis kolonial sebagai
acuan dari wujud bangunan utama hunian yang ditandai dengan atap pelana yang sudut
kemiringannya cukup curam yaitu 60O. Dengan bentuk lahan yang tidak persegi dan
memanjang lebih dari 30 m ke arah belakang, pemakaian atap ini menciptakan
sosok bangunan yang menjulang dan tidak proporsional sehingga arsitek “memecah”
atap menjadi beberapa buah atap pelana di bagian muka dan belakang rumah.
Sebagai aksen, bangunan studio dirancang dengan komposisi de Stijl dalam wujud
kontemporer.
Sebagai transisi di antara dua buah atap pelana di bagian
belakang rumah, dibuat atap berupa satu bidang miring dengan void dan ruang
makan yang berada persis di bawahnya. Pemakaian atap pelana yang curam ini menciptakan ruang
loteng yang tinggi terutama pada kamar-kamar tidur yang berada di lantai atas.
Arsitek sengaja mengekspos hal ini dengan merancang plafon yang mengikuti
kemiringan atap. Setiap dinding sopi-sopinya dihias dengan jendela dan terdapat
ornamen dekoratif dari kaca patri sehingga kamar-kamar tidur tersebut tampil unik.
Pengolahan atap yang dominan dan bukaan yang lebar ini juga mengacu pada
prinsip bangunan tropis dan ramah lingkungan agar dapat beradaptasi dengan iklim
di Indonesia seperti teriknya matahari dan tingginya curah hujan serta kelembapan
udara. Upaya ini sekaligus menghemat pemakaian energi listrik.
Ciri khas lain dari rumah Menteng yang juga diadopsi adalah
bukaan lebar untuk mengoptimalkan aliran udara segar dan mengoptimalkan masuknya
cahaya alami dengan memakai lubang udara. Teras belakang yang luas dan
mengelilingi halaman dalam (inner courtyard) tetap dipertahankan dan dinaungi
oleh balkon juga teritis berupa bidang datar yang simpel. Elemen bangunan khas
kawasan Menteng yang dimodifikasi antara lain area pintu masuk yang diganti
dengan beranda mungil untuk menandai pintu masuk utama. Bagian kaki bangunan
yang biasanya ditandai oleh dinding berlapis batu alam belah (stone plinth)
juga dihilangkan. Dinding luar pada lantai dasar sengaja dicat dengan warna
yang lebih tua berbeda dengan warna cat di lantai atas sehingga tetap ada perbedaan
lantai. Sebagai aksen, satu bidang dinding sengaja dibuat lebih tinggi dan dilapisi
oleh batu alam.
Arsitek memilih bahan yang alami dan mengekspos ciri khas
warna dan tekstur asli dari bahan tersebut sehingga menegaskan nuansa natural sekaligus
“merangkul” lanskap di luar ke dalam rumah. Hal ini sejalan dengan keinginan
pemilik agar perawatan rumah menjadi mudah dan penampilannya tetap berkelas tetapi
tidak berlebihan. Contohnya, lantai carport dilapisi oleh batu candi dan batu
sabak hitam sedangkan foyer dihias dengan batu slate india warna hitam dan
andesit bakar. Seluruh lantai dalam rumah dilapisi oleh keramik aneka warna dan
bertekstur kasar menyerupai batu alam sehingga tampil kesan warna pudar yang
eksotik. Satu dinding pada setiap ruangan merupakan dinding aksen dengan bahan
yang unik misalnya, dinding foyer dilapisi oleh batu palimanan yang disusun
sirih sedangkan panel di belakang televisi dibuat dari susunan potongan kayu
asem.
Yang unik adalah pemakaian marmer Natiti Sysms berwarna kuning
untuk pelapis permukaan meja (top table) di dapur yang dipadukan dengan dinding
belakang kompor yang terdiri dari susunan potongan kaca. Seluruh kusen jendela dan
daun pintu terbuat dari kayu jati sedangkan beberapa furnitur lepas (loose
furniture) sengaja dibuat dari kayu utuh dan berbentuk simpel seperti meja dan
“bangku warung” dari kayu trambesi di teras belakang. Selanjutnya, disusun tata
letak rumah yang dirancang terbuka dengan jendela dan pintu kaca lebar serta
berorientasi ke arah taman dalam (inner courtyard) dan ke arah halaman luar. Suasana
lapang dan nyaman terasa dominan di ruangan keluarga, ruangan makan dan dapur
yang dirancang menyatu tanpa dinding penyekat sedangkan area teras belakang,
taman belakang, selasar dan kolam renang kental dengan suasana outdoor yang
segar.
Secara keseluruhan, desain hunian ini mampu mencerminkan
kepribadian pemilik yang hangat dan terbuka bagi keluarga dan kerabatnya. Tata
letak rumah ini juga semakin istimewa dengan adanya bentuk kaveling yang
menyempit ke belakang. Untuk menyiasatinya, arsitek membuat selasar dan area tangga yang cukup
besar di tengah bangunan. Selasar ini menghubungkan ruang tamu yang ada di
depan dengan ruang lainnya di belakang dan dilengkapi dengan taman serta kolam
di salah satu sudutnya. Area tangga menuju ke lantai atas dirancang dengan void
dua lantai dan menjadi “galeri” pribadi pemilik, tempat memajang koleksi
lukisan. Dalam hal menata interior, pemilik dan arsitek tidak mengacu pada
furnitur bergaya kolonial tetapi sesuai dengan gaya hidup masa kini yang mengutamakan
kenyamanan, pemeliharan, yang mudah, bentuk yang simpel, dominasi garis-garis
tegas (clean lines) dan kotak-kotak geometris.
Hal ini dapat dilihat dari adanya sofa yang besar, empuk, berlapis
kulit dan berlapis kain di ruangan tamu dan di ruang keluarga. Untuk
penyimpanan barang, arsitek merancang beberapa lemari built in yang dilapisi oleh
laminat bermotif kayu seperti terlihat di kamar tidur anak dan kamar tidur
utama. Arsitek dan pemilik juga menata lanskap dengan tanaman khas tropis
seperti kamboja dan palem Bali yang dipadukan dengan tanaman dalam pot dan rangkaian
bunga potong untuk mengisi ruangan dalam.
Konsep lansekap rumah tinggal ini didesain sesuai dengan
kebutuhan yang berkaitan dengan fungsi ruang-ruang di sekitarnya. Secara
keseluruhan ada tiga pengelompokkan ruang terbuka yang ditata untuk taman yaitu
taman depan, taman tengah dan taman dalam. Taman depan diarahkan sebagai buffer
terhadap lingkungan di luar rumah. Rumah yang terletak di tepi jalan raya
dengan traffic yang cukup tinggi ini di’samar’kan dengan tanaman yang tinggi
dan rapat sehingga mampu menahan polusi debu dan suara. Taman yang berada di
tengah terletak diantara selasar yang menghubungkan ruang tamu dan ruang
keluarga lebih ditujukan sebagai ruang terbuka untuk kelancaran sirkulasi udara
dan cahaya agar ruangan yang sempit memanjang tersebut menjadi lebih sehat. Area
ini ditata simpel berupa taman kering dengan sebuah kolam berpancuran sebagai eye
cather nya.
Taman belakang lebih diarahkan sebagai area yang
dimaksimalkan untuk interaksi anggota keluarga, berupa taman terbuka dengan
sebuah kolam renang yang menghubungkan bangunan utama dengan bangunan studio. Komposisi taman cenderung
simpel dengan menempatkan sepasang kamboja pink yang bentuk percabangannya
eksotik di sisi kiri dan kanan. Keberadaan dan bentuk pohon ini sebagai
keseimbangan ruang dan bangunan yang cenderung sempit dan tinggi dengan
atap-atap pelana yang tinggi dan runcing kemiringannya. Selanjutnya komposisi
tanaman filler diposisikan ke tepi agar berkesan lapang dan tersedia ruang yang
cukup untuk beraktivitas. Dinding kavling yang miring disamarkan dengan
tanaman-tanaman dan ornamen outdoor untuk rumah lampu dari batu paras Yogya
berukir untuk menunjang suasana temaram yang romantis.
Lokasi : Kediaman keluarga Dewi dan Rizal Malarangeng di Menteng, Jakarta Pusat
Arsitektur dan interior : D.S. Pangestuti dan Rully Harianto
dari konsultan ARD Design
|