Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Interior arrow Spirit Menteng Moderen
Spirit Menteng Moderen PDF Print E-mail
Monday, 03 September 2007

img_9118 Konsep desain rumah ini tampak memperlihatkan semangat dan ciri khas rumah asli di kawasan Menteng, Jakarta Pusat dengan wujud bergaya tropis kontemporer. Dominasi material alami, bukaan yang lebar dan kesinambungan antara ruang dalam dan lingkungan menjadi kekuatan rancangannya.

Menteng telah lama dikenal sebagai kawasan cagar budaya khususnya warisan arsitektur zaman kolonial yang harus dilindungi, dilestarikan serta dikembangkan secara hati-hati. Dahulu, kawasan ini dirancang mengacu pada konsep kota taman bergaya Eropa tetapi disesuaikan dengan iklim tropis. Menurut perencanaannya peruntukan lahan di kawasan ini harus didominasi oleh ruang terbuka hijau yaitu lebih dari 30 persen dari total luas lahan harus menjadi taman dan wujud bangunannya juga berorientasi ke arah lingkungan luar. Hasilnya, rumah-rumah lama di Menteng ini ada yang menyerupai bungalo bergaya tropis kolonial dan ada pula yang beratap datar, kental dengan nuansa art deco. Berbagai keunikan inilah yang menarik minat Dewi dan Rizal Malarangeng untuk membeli lahan dan bangunan lama di kawasan tersebut.

img_9069Kondisi awal hunian ini cukup unik yaitu bagian depannya lebih lebar dengan bentuk memanjang ke belakang dan berbelok di bagian tengah. Bangunan eksistingnya merupakan rumah lama yang hampir habis terbakar sehingga harus dirobohkan sedangkan untuk membuat bangunan baru harus mengacu pada peraturan daerah mengenai revitalisasi di kawasan cagar budaya tersebut. Berbagai keterbatasan ini justru menjadi tantangan bagi pemilik dan arsitek D.S. Pangestuti dan Rully Harianto dari konsultan ARD Design untuk bersama-sama menyusun konsep rancangan rumah baru. Dalam hal ini, pemilik dan arsitek sepakat untuk “mengangkat” semangat dan ciri khas rumah asli di Menteng yang “dikemas” dalam wujud kontemporer dan dimodifikasi sesuai dengan gaya hidup modern pemilik rumah. Konsep desain seperti ini dikenal dengan konsep “Menteng Revivalism”.

Hal pertama, yang dilakukan arsitek yaitu mengoptimalkan kondisi lahan dengan menempatkan dua massa bangunan yaitu massa bangunan utama dan massa bangunan studio. Kedua massa ini dipisahkan oleh halaman dalam yang cukup luas dengan kolam renang yang sekaligus berfungsi sebagai reflecting pool bagi bangunan studio. Arsitek memilih tipikal bungalo bergaya tropis kolonial sebagai acuan dari wujud bangunan utama hunian yang ditandai dengan atap pelana yang sudut kemiringannya cukup curam yaitu 60O. Dengan bentuk lahan yang tidak persegi dan memanjang lebih dari 30 m ke arah belakang, pemakaian atap ini menciptakan sosok bangunan yang menjulang dan tidak proporsional sehingga arsitek “memecah” atap menjadi beberapa buah atap pelana di bagian muka dan belakang rumah. Sebagai aksen, bangunan studio dirancang dengan komposisi de Stijl dalam wujud kontemporer.

img_9112Sebagai transisi di antara dua buah atap pelana di bagian belakang rumah, dibuat atap berupa satu bidang miring dengan void dan ruang makan yang berada persis di bawahnya. Pemakaian atap pelana yang curam ini menciptakan ruang loteng yang tinggi terutama pada kamar-kamar tidur yang berada di lantai atas. Arsitek sengaja mengekspos hal ini dengan merancang plafon yang mengikuti kemiringan atap. Setiap dinding sopi-sopinya dihias dengan jendela dan terdapat ornamen dekoratif dari kaca patri sehingga kamar-kamar tidur tersebut tampil unik. Pengolahan atap yang dominan dan bukaan yang lebar ini juga mengacu pada prinsip bangunan tropis dan ramah lingkungan agar dapat beradaptasi dengan iklim di Indonesia seperti teriknya matahari dan tingginya curah hujan serta kelembapan udara. Upaya ini sekaligus menghemat pemakaian energi listrik.   

Ciri khas lain dari rumah Menteng yang juga diadopsi adalah bukaan lebar untuk mengoptimalkan aliran udara segar dan mengoptimalkan masuknya cahaya alami dengan memakai lubang udara. Teras belakang yang luas dan mengelilingi halaman dalam (inner courtyard) tetap dipertahankan dan dinaungi oleh balkon juga teritis berupa bidang datar yang simpel. Elemen bangunan khas kawasan Menteng yang dimodifikasi antara lain area pintu masuk yang diganti dengan beranda mungil untuk menandai pintu masuk utama. Bagian kaki bangunan yang biasanya ditandai oleh dinding berlapis batu alam belah (stone plinth) juga dihilangkan. Dinding luar pada lantai dasar sengaja dicat dengan warna yang lebih tua berbeda dengan warna cat di lantai atas sehingga tetap ada perbedaan lantai. Sebagai aksen, satu bidang dinding sengaja dibuat lebih tinggi dan dilapisi oleh batu alam.

Arsitek memilih bahan yang alami dan mengekspos ciri khas warna dan tekstur asli dari bahan tersebut sehingga menegaskan nuansa natural sekaligus “merangkul” lanskap di luar ke dalam rumah. Hal ini sejalan dengan keinginan pemilik agar perawatan rumah menjadi mudah dan penampilannya tetap berkelas tetapi tidak berlebihan. Contohnya, lantai carport dilapisi oleh batu candi dan batu sabak hitam sedangkan foyer dihias dengan batu slate india warna hitam dan andesit bakar. Seluruh lantai dalam rumah dilapisi oleh keramik aneka warna dan bertekstur kasar menyerupai batu alam sehingga tampil kesan warna pudar yang eksotik. Satu dinding pada setiap ruangan merupakan dinding aksen dengan bahan yang unik misalnya, dinding foyer dilapisi oleh batu palimanan yang disusun sirih sedangkan panel di belakang televisi dibuat dari susunan potongan kayu asem.

img_9004Yang unik adalah pemakaian marmer Natiti Sysms berwarna kuning untuk pelapis permukaan meja (top table) di dapur yang dipadukan dengan dinding belakang kompor yang terdiri dari susunan potongan kaca. Seluruh kusen jendela dan daun pintu terbuat dari kayu jati sedangkan beberapa furnitur lepas (loose furniture) sengaja dibuat dari kayu utuh dan berbentuk simpel seperti meja dan “bangku warung” dari kayu trambesi di teras belakang. Selanjutnya, disusun tata letak rumah yang dirancang terbuka dengan jendela dan pintu kaca lebar serta berorientasi ke arah taman dalam (inner courtyard) dan ke arah halaman luar. Suasana lapang dan nyaman terasa dominan di ruangan keluarga, ruangan makan dan dapur yang dirancang menyatu tanpa dinding penyekat sedangkan area teras belakang, taman belakang, selasar dan kolam renang kental dengan suasana outdoor yang segar.

Secara keseluruhan, desain hunian ini mampu mencerminkan kepribadian pemilik yang hangat dan terbuka bagi keluarga dan kerabatnya. Tata letak rumah ini juga semakin istimewa dengan adanya bentuk kaveling yang menyempit ke belakang. Untuk menyiasatinya, arsitek membuat selasar dan area tangga yang cukup besar di tengah bangunan. Selasar ini menghubungkan ruang tamu yang ada di depan dengan ruang lainnya di belakang dan dilengkapi dengan taman serta kolam di salah satu sudutnya. Area tangga menuju ke lantai atas dirancang dengan void dua lantai dan menjadi “galeri” pribadi pemilik, tempat memajang koleksi lukisan. Dalam hal menata interior, pemilik dan arsitek tidak mengacu pada furnitur bergaya kolonial tetapi sesuai dengan gaya hidup masa kini yang mengutamakan kenyamanan, pemeliharan, yang mudah, bentuk yang simpel, dominasi garis-garis tegas (clean lines) dan kotak-kotak geometris.

Hal ini dapat dilihat dari adanya sofa yang besar, empuk, berlapis kulit dan berlapis kain di ruangan tamu dan di ruang keluarga. Untuk penyimpanan barang, arsitek merancang beberapa lemari built in yang dilapisi oleh laminat bermotif kayu seperti terlihat di kamar tidur anak dan kamar tidur utama. Arsitek dan pemilik juga menata lanskap dengan tanaman khas tropis seperti kamboja dan palem Bali yang dipadukan dengan tanaman dalam pot dan rangkaian bunga potong untuk mengisi ruangan dalam.

img_9018Konsep lansekap rumah tinggal ini didesain sesuai dengan kebutuhan yang berkaitan dengan fungsi ruang-ruang di sekitarnya. Secara keseluruhan ada tiga pengelompokkan ruang terbuka yang ditata untuk taman yaitu taman depan, taman tengah dan taman dalam. Taman depan diarahkan sebagai buffer terhadap lingkungan di luar rumah. Rumah yang terletak di tepi jalan raya dengan traffic yang cukup tinggi ini di’samar’kan dengan tanaman yang tinggi dan rapat sehingga mampu menahan polusi debu dan suara. Taman yang berada di tengah terletak diantara selasar yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga lebih ditujukan sebagai ruang terbuka untuk kelancaran sirkulasi udara dan cahaya agar ruangan yang sempit memanjang tersebut menjadi lebih sehat. Area ini ditata simpel berupa taman kering dengan sebuah kolam berpancuran sebagai eye cather nya.

Taman belakang lebih diarahkan sebagai area yang dimaksimalkan untuk interaksi anggota keluarga, berupa taman terbuka dengan sebuah kolam renang yang menghubungkan bangunan utama dengan  bangunan studio. Komposisi taman cenderung simpel dengan menempatkan sepasang kamboja pink yang bentuk percabangannya eksotik di sisi kiri dan kanan. Keberadaan dan bentuk pohon ini sebagai keseimbangan ruang dan bangunan yang cenderung sempit dan tinggi dengan atap-atap pelana yang tinggi dan runcing kemiringannya. Selanjutnya komposisi tanaman filler diposisikan ke tepi agar berkesan lapang dan tersedia ruang yang cukup untuk beraktivitas. Dinding kavling yang miring disamarkan dengan tanaman-tanaman dan ornamen outdoor untuk rumah lampu dari batu paras Yogya berukir untuk menunjang suasana temaram yang romantis.

 

Lokasi : Kediaman keluarga Dewi dan Rizal  Malarangeng di Menteng, Jakarta Pusat
Arsitektur dan interior : D.S. Pangestuti dan Rully Harianto dari konsultan ARD Design

 
< Prev   Next >