Dewasa ini peran pencahayaan (lighting) tidak lagi sekadar
memberi penerangan ruangan tetapi juga dapat menonjolkan estetika dan atmosfer
ruangan, memanjakan mata serta memberi dampak pada suasana hati penghuni.
Kita mengenal pencahayaan sebagai elemen desain untuk
menerangi interior dan eksterior bangunan agar penghuni dapat beraktivitas
dengan lancar. Seiring dengan kemajuan teknologi dalam pencahayaan, peran lighting
semakin berkembang. Dengan mengatur arah jatuhnya cahaya, mengatur warna cahaya
dan letak armatur lampu, kita dapat menciptakan efek “dramatis” sesuai dengan
konsep bangunan. Salah satu desain efek pencahayaan yang inovatif dapat dilihat
pada sebuah bangunan klinik khusus kulit (medical center for dermatology) di
kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara karya desainer lighting Abdi Ahsan bekerja
sama dengan arsitek Heru M. Prasetyo dan desainer interior Joke Roos.
Sebagai gagasan awal, bangunan lima lantai ini dirancang
berupa satu kubus transparan dimana orang di luar dapat melihat sekilas
aktifitas di dalam bangunan dan hanya disekat oleh jendela lebar dari tempered
glass. Untuk menonjolkan aspek transparan pada bangunan, desainer lighting
tidak memasang lampu sorot di luar bangunan tetapi justru memasang lampu di
sepanjang koridor dalam di setiap lantai bangunan. Untuk menegaskan efek
pencahayaan pada fasada, desainer “menyembunyikan” deretan lampu dibalik grill
aluminium dari aluminium panel di setiap lantai.
Teknik
pencahayaan tidak langsung ini juga diaplikasikan pada portico yang berada di
samping bangunan. Desainer lighting memasang lampu diantara deretan
rib-rib baja yang dibungkus composit panel yang menaungi area drop off dan
pintu masuk utama. Deretan rib-rib baja yang dibungkus composit panel dan lampu
tersebut membentuk pola garis melengkung agar menjadi aksen diantara pola
garis-garis geometris balok dan kolom bangunan. Selain itu, deretan dan lampu
pada portico ini sejalan dengan konsep transparan sehingga tidak menghalangi
pandangan orang ke arah fasada. Untuk interior bangunan, desainer ingin
menciptakan suasana yang hangat, nyaman, tenang dan santai sehingga pasien
tidak merasa bosan ataupun tertekan.
Untuk mewujudkan suasana tersebut, desainer lighting memilih
jenis lampu yang menghasilkan cahaya warna kuning / warm light dengan
temperatur warna 3000K. Selain itu, desainer juga menghindari pemakaian lampu
yang bersifat dekoratif yang berlebihan sehingga hemat biaya. Contohnya,
koridor belakang yang menjadi sirkulias internal sengaja dibuat bernuansa redup
dengan cahaya dari deretan lampu dinding sedangkan ruang-ruang pengobatan dan ruang
operasi dirancang terang. Sebagai aksen, desainer memasang lampu dengan teknik indirect
lighting yang bentuknya unik sehingga memberi sedikit kesan gemerlap dalam
ruangan.
Bentuk lampu dengan teknik pencahayaan tidak langsung ini
disesuaikan dengan desain interior setiap ruang. Misalnya keberadaan lampu yang
berbentuk lingkaran di lobi lantai atas yang tidak terlalu terang ini
mempertegaskan area lobi sebagai pusat distribusi beberapa koridor yang menuju
ke berbagai arah. Di ruang tunggu, dirancang lampu berbentuk deretan garis
horizontal pada plafon dan diberi panel transparan yang bersifat menyebarkan
cahaya / diffuser sehingga tidak membuat silau mata orang dalam ruangan. Hal
unik adalah lampu dengan cahaya warna biru / cool light yang dipasang sebagai
aksen dekoratif di luar bangunan.
Desain pencahayaan bangunan klinik kulit ini dirancang
terpadu dengan konsep arsitektur dan interior sehingga tercipta efek cahaya
yang menjadi identitas bangunan. ( Imelda Anwar )
Foto : Ahkamul Hakim
(Lokasi : Erha Clinic di Kelapa Gading, Jakarta Utara Desainer lighting : Abdi Ahsan)
|