Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Interior arrow Kesinambungan Antar Ruang
Kesinambungan Antar Ruang PDF Print E-mail
Thursday, 21 February 2008

13 Menikmati keindahan sebuah rumah tinggal berarti mengapresiasi kreativitas arsitek yang telah mengakomodasi kebutuhan dan gaya hidup penghuninya. Hal inilah yang terjadi pada karya arsitek Cosmas D.Gozali di kawasan Jakarta Utara.

Arsitek muda Cosmas D. Gozali dari konsultan Arya Cipta Graha ini memiliki ciri khas dalam merancang yaitu mengolah secara cerdas hubungan antarruang. Konsep desain ini terwujud berupa penempatan courtyard atau void menerus terbuka dari lantai dasar sampai ke atap rumah. Desain “rongga” yang sering disalahtafsirkan orang sebagai buang-buang saja lahan padahal desain ini efisien untuk kelancaran pengudaraan dan pencahayaan alami. Konsep ini cocok dengan keinginan pemilik yang berencana membangun rumah baru pada lahan berukuran 10m x 25m dan dikelilingi oleh rumah tetangga yang tinggi.

50 Sebagai tantangannya, arsitek diberi data acuan oleh pemilik rumah berupa penempatan beberapa ruang berdasarkan perhitungan feng shui seperti posisi ranjang di kamar tidur dan kompor di dapur. Selain itu, pemilik juga menginginkan lantai dasar yang representatif untuk garasi, area servis dan ruang multifungsi seperti untuk tempat kebaktian atau tempat arisan. Ruangan tempat berkumpul bersama berada di lantai satu sedangkan kamar-kamar tidur berada di lantai dua. Pada tahap awal, arsitek membongkar rumah lama dan menaikkan lantai dasarnya untuk mengantisipasi banjir yang kerap melanda kawasan ini.

Selanjutnya, arsitek merancang susunan ruang / layout dengan merujuk pada prinsip promenade de architektura dari arsitek ternama dunia, Le Corbusier. Arsitek menempatkan dua buah courtyard atau void menerus terbuka di dalam hunian yaitu di pojok timur di belakang lahan dan di sisi barat di tengah rumah. Ruang terbuka ini hanya disekat oleh jendela kaca dan dilengkapi oleh pagar, balkon dari kerangka baja dan jilumesh serta kisi-kisi pada skylight. Posisi courtyard yang bersilangan ini memungkinkan pertukaran udara dan masuk-nya cahaya alami ke setiap sudut ruangan sehingga rumah terasa sejuk.

25 Dengan plafon ruang yang tinggi, desain courtyard memberikan kesinambungan visual antarruang sehingga rumah terasa lapang dan nyaman. Kemudian, posisi ruang-ruang fungsional ditata berorientasi ke arah kedua courtyard tersebut yaitu pantri, ruangan makan dan ruangan keluarga di lantai satu yang ditata mengelilingi courtyard tengah. Ruangan kerja, area duduk dan kamar tidur anak di lantai dua juga mendapat bukaan dari courtyard tengah sedangkan kamar tidur utama dan kamar tidur anak lainnya menghadap ke arah courtyard belakang. Pada lantai dasar, kedua courtyard ini hanya diolah menjadi taman kering.

41 Untuk interior, arsitek bersama dengan pemilik rumah memilih furnitur dan aksesori yang tampilan bersih (clean look), didominasi oleh warna cokelat kehitaman, putih dan metalik serta penataan yang minimalis. Agar tampil kontras, hampir seluruh plafon, dinding dan lantai didominasi oleh warna putih termasuk kusen aluminium untuk jendela. Sebagai aksen dalam ruang ditambahkan future wall yang dilapisi HPL motif Zebrano dan penempatan kaca polos dilapis warna oranye sebagai pembatas ruangan makan dan tangga yang digantung dengan besi hollow. Hal ini dapat menimbulkan kesan kontemporer dan hi-tech pada ruangan. Untuk pencahayaan buatan digunakan downlight dengan lampu hemat energi, serta penempatan lampu-lampu secara tiadk langsung untuk mempertegas bentuk-bentuk geometris dalam ruang. Selain beberapa aksesori yang simpel, dipasang juga beberapa lukisan dari para seniman lokal ternama sehingga memberi “jiwa” bagi rumah yang sekaligus semigaleri ini. Diantara lukisan-lukisan tersebut teradpat karya-karya Gusti Alit Cakra, I Wayan Sudiarta, Suklu, Zam Kamil, Ericka dan Kriyono.


Permainan Warna dan Bidang

12 Untuk fasada rumah, dikombinasikan bidang-bidang dinding masif dengan jendela kaca berbentuk kotak-kotak geometris yang posisinya diatur saling maju mundur secara dinamis. Komposisi bidang ini diimbangi oleh susun silang garis-garis horizontal dan vertikal yang terbentuk oleh atap datar, teritis, kusen dan lubang jendela. Dengan demikian, hunian yang secara fisik sebenarnya lebih besar dan tinggi dari hunian tetangga sebelahnya, justru berkesan transparan, “ringan” dan high tech. Padu padan bidang - garis juga menghasilkan “permainan” bayang-bayang yang atraktif saat terkena cahaya. Garis dan bidang geometris yang kuat pada fasada ini dialirkan ke dalam ruangan sehingga membentuk permainan ketinggian ruang dengan adanya langit-langit gantung dan garis menerus ke fix furniture yang dipakai.

Bukaan pintu kaca pada ruangan kerja dengan pagar balkon dari besi hollow yang dipasang vertikal dan kanopinya dari rangka baja lapis kaca tempered laminated, menjadi “mahkota” dari fasada. Arsitek juga piawai dalam menerapkan berbagai jenis material dan finishing pada fasada. Area carport dan tangga luar menuju ke pintu masuk (entrance) didominasi oleh batu andesit yang memberikan kesan kokoh dan alami. Ada pula batu sikat pancawarna yang melapisi anak tangga dan teras dari teraso cor. Permukaan dinding di sekitar pintu masuk utama juga ditutup woodplank yang diberi finishing menyerupai kayu.

Arsitek juga merancang dinding beton berbentuk bingkai di depan pintu utama dan dicat warna kuning sebagai aksen serta membuat fasada yang tinggi dengan bidang-bidang geometris dan terkesan ringan seperti lipatan-lipatan kertas. Beberapa jenis tanaman perdu dan pohon ditanam untuk “melunakkan” kesan monoton dan kaku pada wajah hunian.
 
Next >