|
Menikmati keindahan sebuah rumah tinggal berarti
mengapresiasi kreativitas arsitek yang telah mengakomodasi kebutuhan dan gaya
hidup penghuninya. Hal inilah yang terjadi pada karya arsitek Cosmas D.Gozali
di kawasan Jakarta Utara.
Arsitek muda Cosmas D. Gozali dari konsultan Arya Cipta
Graha ini memiliki ciri khas dalam merancang yaitu mengolah secara cerdas hubungan
antarruang. Konsep desain ini terwujud berupa penempatan courtyard atau void
menerus terbuka dari lantai dasar sampai ke atap rumah. Desain “rongga” yang
sering disalahtafsirkan orang sebagai buang-buang saja lahan padahal desain ini
efisien untuk kelancaran pengudaraan dan pencahayaan alami. Konsep ini cocok
dengan keinginan pemilik yang berencana membangun rumah baru pada lahan
berukuran 10m x 25m dan dikelilingi oleh rumah tetangga yang tinggi.
Sebagai tantangannya, arsitek diberi data acuan oleh pemilik
rumah berupa penempatan beberapa ruang berdasarkan perhitungan feng shui
seperti posisi ranjang di kamar tidur dan kompor di dapur. Selain itu, pemilik
juga menginginkan lantai dasar yang representatif untuk garasi, area servis dan
ruang multifungsi seperti untuk tempat kebaktian atau tempat arisan. Ruangan
tempat berkumpul bersama berada di lantai satu sedangkan kamar-kamar tidur berada
di lantai dua. Pada tahap awal, arsitek membongkar rumah lama dan menaikkan lantai
dasarnya untuk mengantisipasi banjir yang kerap melanda kawasan ini.
Selanjutnya, arsitek merancang susunan ruang / layout dengan
merujuk pada prinsip promenade de architektura dari arsitek ternama dunia, Le
Corbusier. Arsitek menempatkan dua buah courtyard atau void menerus terbuka di
dalam hunian yaitu di pojok timur di belakang lahan dan di sisi barat di tengah
rumah. Ruang terbuka ini hanya disekat oleh jendela kaca dan dilengkapi oleh
pagar, balkon dari kerangka baja dan jilumesh serta kisi-kisi pada skylight. Posisi
courtyard yang bersilangan ini memungkinkan pertukaran udara dan masuk-nya
cahaya alami ke setiap sudut ruangan sehingga rumah terasa sejuk.
Dengan plafon ruang yang tinggi, desain courtyard memberikan
kesinambungan visual antarruang sehingga rumah terasa lapang dan nyaman. Kemudian,
posisi ruang-ruang fungsional ditata berorientasi ke arah kedua courtyard
tersebut yaitu pantri, ruangan makan dan ruangan keluarga di lantai satu yang ditata
mengelilingi courtyard tengah. Ruangan kerja, area duduk dan kamar tidur anak
di lantai dua juga mendapat bukaan dari courtyard tengah sedangkan kamar tidur
utama dan kamar tidur anak lainnya menghadap ke arah courtyard belakang. Pada lantai dasar, kedua courtyard ini
hanya diolah menjadi taman kering.
Untuk interior, arsitek bersama dengan pemilik rumah memilih
furnitur dan aksesori yang tampilan bersih (clean look), didominasi oleh warna cokelat
kehitaman, putih dan metalik serta penataan yang minimalis. Agar tampil
kontras, hampir seluruh plafon, dinding dan lantai didominasi oleh warna putih
termasuk kusen aluminium untuk jendela. Sebagai aksen dalam ruang ditambahkan future
wall yang dilapisi HPL motif Zebrano dan penempatan kaca polos dilapis warna
oranye sebagai pembatas ruangan makan dan tangga yang digantung dengan besi
hollow. Hal ini dapat menimbulkan kesan kontemporer dan hi-tech pada ruangan.
Untuk pencahayaan buatan digunakan downlight dengan lampu hemat energi, serta
penempatan lampu-lampu secara tiadk langsung untuk mempertegas bentuk-bentuk
geometris dalam ruang. Selain beberapa aksesori yang simpel, dipasang juga
beberapa lukisan dari para seniman lokal ternama sehingga memberi “jiwa” bagi
rumah yang sekaligus semigaleri ini. Diantara lukisan-lukisan tersebut teradpat
karya-karya Gusti Alit Cakra, I Wayan Sudiarta, Suklu, Zam Kamil, Ericka dan
Kriyono.
Permainan Warna dan Bidang
Untuk fasada rumah, dikombinasikan bidang-bidang dinding
masif dengan jendela kaca berbentuk kotak-kotak geometris yang posisinya diatur
saling maju mundur secara dinamis. Komposisi bidang ini diimbangi oleh susun
silang garis-garis horizontal dan vertikal yang terbentuk oleh atap datar, teritis,
kusen dan lubang jendela. Dengan demikian, hunian yang secara fisik sebenarnya
lebih besar dan tinggi dari hunian tetangga sebelahnya, justru berkesan transparan,
“ringan” dan high tech. Padu padan bidang - garis juga menghasilkan “permainan”
bayang-bayang yang atraktif saat terkena cahaya. Garis dan bidang geometris
yang kuat pada fasada ini dialirkan ke dalam ruangan sehingga membentuk
permainan ketinggian ruang dengan adanya langit-langit gantung dan garis
menerus ke fix furniture yang dipakai.
Bukaan pintu kaca pada ruangan kerja dengan pagar balkon
dari besi hollow yang dipasang vertikal dan kanopinya dari rangka baja lapis
kaca tempered laminated, menjadi “mahkota” dari fasada. Arsitek juga piawai dalam
menerapkan berbagai jenis material dan finishing pada fasada. Area carport dan
tangga luar menuju ke pintu masuk (entrance) didominasi oleh batu andesit yang memberikan
kesan kokoh dan alami. Ada pula batu sikat pancawarna yang melapisi anak tangga
dan teras dari teraso cor. Permukaan dinding di sekitar pintu masuk utama juga
ditutup woodplank yang diberi finishing menyerupai kayu.
Arsitek juga merancang dinding beton berbentuk bingkai
di depan pintu utama dan dicat warna kuning sebagai aksen serta membuat fasada
yang tinggi dengan bidang-bidang geometris dan terkesan ringan seperti
lipatan-lipatan kertas. Beberapa jenis tanaman perdu dan pohon ditanam untuk
“melunakkan” kesan monoton dan kaku pada wajah hunian.
|