|
“Elegan,
nyaman dan indah”. Demikian kira-kira komentar orang saat berkunjung ke hunian
keluarga Pohan yang berlokasi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pria
yang pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia ini dikenal sebagai
sosok pribadi yang low profile, supel dan ramah. Suasana interior rumahnya
terasa akrab dan “hangat” sedangkan tampak luarnya simpel elegan. Meskipun
aktivitas sehari-harinya cukup padat, alumnis Universitas Boston, Amerika
Serikat jurusan Economics & Development ini masih mempunyai waktu menata
isi rumah dan menyempatkan diri untuk mencari benda koleksi yang unik.
“Saya dan istri mempunyai hobi mencari pernak-pernik yang
unik dan khas di pasar loak dari setiap negara yang kami datangi untuk
dijadikan koleksi,” ujar pemilik rumah. Dulu, keluarga Pohan pernah cukup lama
tinggal di New England, Amerika Serikat. Di kawasan ini banyak terdapat rumah
antik bergaya Queen Anne yang menjadi sumber inspirasi keluarga Pohan dalam menata
interior rumahnya yang baru. Demikianlah, sebagian koleksi furnitur mereka
bergaya neo klasik Eropa seperti deep buttoned Chesterfield sofa dan armchair yang
berlapis kulit. Selain sofa yang kaya akan detail ornamen, pemilik juga mempunyai
benda seni bermutu seperti lukisan karya seniman besar Renoir dan vas-vas
kristal bergaya klasik.
Benda-benda yang memiliki nilai nostalgia itu selalu ikut
“pindah” tiap kali keluarga Pohan menempati kediaman baru. Dulu saat masih
belum pensiun, pemilik tidak mempunyai banyak waktu untuk menata kediaman sesuai
dengan seleranya. Kini setelah pensiun, pemilik ingin mengekspresikan rasa
seninya pada penataan interior dan berbagi pengalaman dengan cara menulis buku.
Dengan demikian pemilik dapat lebih leluasa menata koleksi furnitur dan benda
seni kuno pada hunian barunya yang menjadi “galeri” pribadinya.
Konsep Bangunan dan Interior
Dalam merancang rumahnya, pemilik mempunyai selera yang sama
dengan arsitek Mudji Rahardjo yang mendesain rumahnya. mereka sepakat menyusun
konsep hunian bergaya modern klasik yang tidak lekang dimakan waktu tetapi
sarat dengan sentuhan pribadi. Pada tahap awal, bangunan lama dibongkar dan
dibuat desain baru sedangkan lantai dasarnya dinaikkan 1,5 m lebih tinggi dari
jalan lingkungan. Ruang basemennya dirancang untuk area servis, garasi, musala dan
ruang serba guna. Desain ini dapat memenuhi keinginan penghuni untuk memiliki tempat ibadah sekaligus sebagai
tempat pengajian yang lapang.
Fasadanya didesain sederhana dengan ornamen simpel yang didominasi
warna off white. Di sekitar rumah ditanam pohon besar yang membuat lingkungan jadi
teduh dan sejuk. Lantai dasarnya ditata untuk area semi publik seperti ruang tamu,
ruang duduk formal, ruang makan dan kamar tidur utama. Lantai atas ditata untuk
area privat seperti ruang tempat berkumpul keluarga, ruang kerja sekaligus
perpustakaan serta tiga buah kamar tidur anak. Desain interiornya, mengadopsi gaya
klasik Eropa yang didominasi furnitur bergaya Queen Anne dan koleksi benda seni
bernuansa Rococo dan Baroque.
Untuk furniturnya, ditempatkan deep buttoned Chesterfield
sofa dan armchair berlapis kulit warna cokelat tua sehingga membuat ruangan
tampil anggun dan tidak berkesan “berat” seperti terlihat pada ruang duduk
lantai dasar. Ruangan makan juga ditata dengan D end table dan kursi bergaya
Chippendale yang seluruh pelitur kayunya diubah berwarna cokelat kemerahan. Di area
privat di lantai atas, tampak pengaruh gaya Queen Anne seperti terlihat pada wing
chair Quenn Anne berlapis kulit warna hijau tua pada ruang duduk. Ruangan kerja
ditata dengan kursi kerja bersandaran tinggi dan kursi berukuran sedang dan
dilengkapi dengan roda.
Selanjutnya elemen bangunan yang menjadi ciri khas gaya
klasik tetap diterapkan seperti sistem proporsi, penataan yang serba simetris
dan pola pengulangan. Konsep ini beri kesan formal dan teratur pada interior
rumah sebagaimana terlihat pada bentuk kolom, kusen dan cornice pada plafon. Diterapkan
pula gaya klasik Eropa yang sudah dimodifikasi diantaranya penggunaan motif
garis-garis vertikal pada sebagian wallpaper yang memberi kesan dinamis pada
ruangan.
Koleksi Benda-Benda
Seni
Untuk melengkapi penataan interior rumah, pemilik memadukan
furnitur bernuansa Queen Anne dengan benda-benda seni yang serasi dengan gaya
klasik diantaranya, lukisan, patung dan aksesori yang berasal dari zaman Rococo.
Di samping itu, dipajang pula lukisan lain yang menampakkan pengaruh gaya Baroque
yang tampilannya lebih gemulai, berwarna pucat, bertema cinta yang romantis.
Penataan benda seni ini juga menegaskan suasana yang tak lekang
oleh waktu seperti lukisan karya Renoir yang menghias foyer dan ruang keluarga
rumah ini. Pierre-Auguste Renoir adalah pelukis yang hidup di abad ke-19 asal
Prancis yang sering melukis aktivitas dan detail sosok orang-orang di
lingkungan tempat dia berada. Salah satunya terlihat pada lukisan minyak pada
kanvas berjudul Luncheon of the Boating Party yang dibuat tahun 1881. ada
lukisan ini terekam Renoir bersama teman-temannya sedang bersantai di
balkon Maison Fournaise.
Sosok wanita yang cukup menarik juga terlihat pada lukisan
minyak di atas kanvas yang berjudul On the Terrace yang dipajang di dinding foyer rumah. Lukisan
lain yang dikoleksi adalah karya-karya pelukis dari Irak yang merekam keindahan
gurun pasir dan keramian di pasar. Lukisan pemandangan laut karya seniman lokal
dari Jogyakarta juga turut menghias ruangan makan sehingga lebih melengkapi
keindahan rumah tinggal ini. Terdapat pula lukisan kaligrafi Arab yang menjadi centerpoint
di ruang tamu karya Amri Yahya. Secara keseluruhan, desain bangunan yang elegan,
interior yang klasik dan benda seni di rumah ini berhasil memenuhi kebutuhan
dan mengekspresikan gaya hidup penghuninya.
|