Hunian menggambarkan gaya hidup pemiliknya. Ungkapan ini
berlaku pula pada apartemen John Chang, seorang desainer interior yang baru
selesai merenovasi kediamannya yang berlokasi di kawasan Kuningan, Jakarta
Selatan.
Cozy living. Demikianlah kira-kira John menggambarkan gaya
hidup dan desain tempat tinggalnya. Latar belakangnya adalah di bidang imigrasi
dan bisnis tetapi ia juga banyak mendesain dan mengembangkan properti di
Sydney, Australia bersama dengan para arsitek di sana. Untuk kediamannya di
Jakarta, John lebih memilih tinggal di apartemen di pusat kota yang strategis,
efisien, aman dan cukup memberi privasi sekaligus mudah dicapai. Dengan luas
ruang yang terbatas, John menyadari betul bahwa desainnya harus menekankan pada
aspek fungsi dan aspek simplicity sehingga tercipta suasana yang nyaman.
Baginya, tinggal di apartemen itu tidak bisa sekadar mengubah kebiasaan tinggal
di rumah biasa. “Di apartemen, setiap ruang menjadi satu kesatuan utuh, tempat
setiap orang bisa merasa nyaman untuk beraktivitas apa saja dan dimana saja,”
demikian tutur John. Adapun renovasi apartemen ini dikerjakan oleh Grahacitra
Aditama ( Gracia ).
Pertama, John ingin memberi kesan hangat dan welcoming saat
membuka pintu dan masuk ke area foyer. Karena itu ia memasang elemen dekoratif
dinding berupa bingkai antik dari kayu jati yang dikombinasikan dengan pelapis
dinding dari tinted glass warna merah pada bidang dinding lainnya. Kedua, John
ingin menciptakan kesan lapang pada unit apartemen yang seluasnya 133 m2 ini
dengan merancang open plan living. Caranya, pintu, kusen serta dinding yang
awalnya menyekat ruang makan, dapur, ruang keluarga dan area servis dibongkar.
Beberapa bagian dari dinding lama dan dinding baru dirancang menjadi ambalan
terbuka untuk menampilkan koleksi pernik dekoratif. Ada pula bagian dari
dinding yang menjadi built-in wardrobe / lemari tanam untuk tempat penyimpanan
barang yang penampilannya dirancang serupa dengan dinding lainnya. Seluruh
dinding dan plafon area ini dicat putih, tanpa memakai profil dekoratif dan
lantainya ditutup oleh parket laminat cokelat muda.
 |
 |
Agar detail ruang terlihat bersih / clean look, antara
dinding dan plinth lantai ditutup dengan aluminium tebal 12 mm sedangkan pada
plafon dibuat shadow line selebar 10 mm. Bagian atas dinding penyekat antara
ruang keluarga dan dapur dibongkar menjadi ambalan kaca. Bagian tengah plafon
juga dibongkar dan dinaikkan agar berkesan lebih tinggi sedangkan bagian
pinggir yang menyerupai langit-langit gantung (dropped ceiling) digunakan untuk
menyembunyikan unit AC dan dilengkapi dengan grill aluminium dan lampu halogen
yang dilengkapi oleh dimmer. Teknik desain ini juga diterapkan pada seluruh
plafon ruangan lain di apartemen ini. Dengan demikian, living area ini tampil
ringan, terbuka dan menyatu. Ada kesinambungan visual antarruang sekaligus
memaksimalkan masuknya cahaya alami ke dalam apartemen.
Untuk pengisi ruang, John memilih sofa berlapis kulit warna
hitam yang unik, coffee table karya arsitek kenamaan Isamu Noguchi, standing
lamp klasik Arco karya Achille Castiglioni, lemari built-in dan aksesori berupa
bantal kursi berwarna cerah dan karpet dari bahan alami. Di ruang makan, John
memilih kursi makan yang simpel berlapis kulit warna hitam dengan meja makan dari kaca dan metal karya Rolf Benz
dari Jerman serta dekorasi dinding berupa kain dengan motif eksotik dan lampu
gantung yang menjadi eye catcher area ini. Di samping itu dapur yang menjadi
“jantung” hunian sengaja ditata bersisian dengan ruang makan tanpa sekat
sehingga John dan kerabat yang datang dapat leluasa memasak, makan, minum dan
bercengkrama santai. John mengubah lay-out dengan cara memanfaatkan sebagian
koridor untuk memperluas dapur yang mendapat tambahan berupa jendela.
Bagian atas dinding penyekat antara dapur dan kamar pembantu
juga dibongkar untuk slit opening sehingga cahaya matahari dapat masuk ke area
tersebut. Seluruh kitchen set dilapisi oleh laminat warna putih sedangkan
lantai ditutup keramik warna abu-abu sehingga serasi dengan ruangan lainnya.
Kamar tidur pembantu diubah menjadi ruang multifungsi yang antara lain dimana
saat ini dimanfaatkan sebagai ruang studi. Namun sewaktu-waktu dapat kembali
berfungsi sebagai kamar pembantu dengan dibuatnya pintu geser. John bukan saja mempertahankan
layout kamar-kamar tidur tetapi juga menerapkan teknik desain yang serupa
dengan ruang lain dalam mengolah plafon, dinding dan lantai termasuk built-in
wardrobe. Hasilnya suasana apartemen menjadi nyaman dan eazy living. (Imelda Anwar)
|