Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Gaya Hidup arrow Pengalaman A Walk in the Park
Pengalaman A Walk in the Park PDF Print E-mail
Wednesday, 21 February 2007
Keragaman restoran saat ini semakin menarik yang ditunjang oleh desain yang unik pula. Banyak restoran yang mengandalkan suasananya sebagai elemen penting untuk menarik tamu sekaligus menawarkan keunikan hidangannya. Sebuah restoran Jepang berlokasi di kawasan Jakarta Selatan mempunyai daya tarik sendiri di antara puluhan resto sejenisnya. Ketika memasuki Niwaki Japanese Restaurant ini kita seakan-akan berada di sebuah taman pohon penuh dengan analogi unsur alam dan kupu-kupu yang terbang melayang di sekeliling. Bertemakan a walk in the park, restoran seluas 300 m2 yang baru-baru ini melakukan launching mengangkat suasana interior yang alami dan menawarkan sebuah pengalaman fine dining yang menarik.

Arsitek James Wijaya dari Metaphor mengambil unsur daun sebagai inspirasi dan membuat pengalaman kuliner di restoran bagaikan berjalan-jalan di taman. ”Desain elemen-elemen interior resto mengacu kepada unsur daun yang diterjemahkan dalam bahasa desain kontemporer. Selain itu unsur kayu yang “panas” dan dominan, batu alam yang bertekstur, unsur kupu-kupu ditambah dengan nuansa ruangan yang remang-remang menyatu dalam nuansa yang alami nan romantis.

Sebuah walkway berlantai kaca dengan efek gambar daun menggiring tamu masuk ke dalam memisahkan dua area utama yaitu sisi kanan dengan tempat meja makan utama dan bagian kiri dengan ruangan privat. Ruang tengah restoran menjadi fokus utama para tamu. Di sini ditempatkan meja panjang serta ditunjang dengan lampu gantung yang diposisikan paralel dengan meja counter yang minimalis. Meja counter yang dilapisi oleh batu alam travertine ini terdiri dari meja kasir, persiapan hidangan serta sink yang terpadu. Daerah ini menjadi “hidup” pada saat koki hendak mempersiapkan irisan daging menu shabu-shabu yang menjadi hidangan utama resto jepang ini.

Setting lampunya lebih banyak menggunakan pencahayaan tidak langsung agar cahaya dapat terfokus terhadap sekeliling. James secara cerdas membuat desain plafon pada ruangan privat yang melengkung dan bergradasi dengan tetap mengambil unsur daun.”Celah diantara panel plafon tersebut menciptakan permainan cahaya yang lebih tegas. Di sisi lain terdapat lampu berbentuk organik yang diimpor dari Thailand. Lampu tersebut sangat unik karena bentuk dan namanya yaitu bird nest (sarang burung) sesuai dengan penunjang konsep.

James selalu mendesain elemen interior melalui proses analogi. Misalnya desain daun yang diadop bukan sekadar meniru bentukya melainkan juga diterapkan pada bidang tembok sebagai aksen garis-garis atau permainan tinggi rendahnya panel tersebut. Dalam hal ini unsur serat pada daun menjadi acuan desain yang unik.   (Yosi Wyoso)
 
< Prev   Next >