| Desain Resto Berstruktur DNA |
|
|
|
| Monday, 26 March 2007 | |
|
Pekerjaan desain merupakan kunci awal dari sebuah proses kreasi
yang di mulai dari menggarap ide sampai ke pembuatan wujud atau fisiknya. James
Wijaya seorang arsitek yang telah menghasilkan berbagai ragam desain percaya
bahwa melalui bisnis desain kita dapat meraih penghasilan yang lumayan. Bisnis
desain inilah yang ditekuninya mulai dari pekerjaan mendesain restoran sampai desain
rumah.
Salah satu karya yang di desain James Wijaya dalah Shabu-Shabu House yang didesain untuk kedua kalinya. Konsep desain yang diangkat sang arsitek terinspirasi dari struktur deoxyribonucleic acid (DNA) dari embrio mahkluk hidup. DNA adalah bahan kimia yang terletak dalam inti sel yang berperan dalam menentukan sifat makhluk hiudp. Menurut James struktur DNA inilah yang diacu sebagai sebuah konsep struktur bangunan yang diterjemahkannya ke dalam bahasa desain untuk menghasilkan sebuah citra yang unik dan menarik. Dalam mendesain unsur analog dimasukkannya sebagai awal dari proses mendesain sehingga hasilnya dapat tampil lebih kaya dan berbobot. Salah satu contoh analog adalah bentuk tongkat silinder yang diambil dari struktur DNA. Selain itu, ada juga struktur rak botol yang juga ditiru dari bentuk interkoneksi DNA yang saling menyambung. Dalam hal ini, James ingin mengarahkan desainnya agar cocok dengan selera konsumen utamanya yaitu kaun eksekutif muda yang mendambakan hidangan shabu-shabu dan masakan Jepang lainnya. Restoran ini sebenarnya mempunyai lahan yang terbatas. Pemilik resto membuat dua ruangan sekaligus yaitu untuk area restoran dan dapur. Kedua ruangan tersebut dibuat dengan posisi tidak saling berdekatan tetapi dipisahkan oleh sebuah koridor. Awalnya, masalah ini sempat menjadi masalah tetapi sang arsitek dapat menyiasatinya dengan membuka lubang pada kedua dinding koridor untuk akses pengiriman hidangan. Selanjutnya James menyatukan tampak restoran sehingga menjadi desain yang unik. Tampak depan dibuat menarik agar para pejalan kaki yang lalu-lalang terkesan dengan desainnya. Nama restoran yang tadinya menyambung dipisahkan menjadi dua bagian, satu bagian berada di depan restoran, sedangkan bagian lainnya berada di depan dapur. Dengan demikian, secara visual konsep ini berhasil menyatukan kedua ruangan tersebut. Interior pada area utama restoran yang berukuran 8x8 m ini dibuat meriah dengan nuansa oranye yang dapat menggugah selera makan para tamu. Selain itu pada bidang tembok ruangan diberikan sentuhan unik berupa potongan bambu berbentuk silinder yang ditempelkan berjejeran dan berorientasi acak satu sama lain sehingga tercipta suatu permainan visual tiga dimensi yang unik. Penampilan tersebut mengambil konsep struktur DNA yang diterjemahkan sebagai potongan bambu-bambu tersebut. Warna off-white pada plafon yang berbentuk lingkaran menimbulkan kesan “kasual.” Nuansanya pun dibuat lebih kontemporer dari pada nuansa resto yang sebelumnya. Bahkan pemakaian painted glass, solid surface pada meja makan, dan bahan besi yang digunakan pada rak botol wine menegaskan citra yang kontemporer. Dapur yang terpisah didesain dengan konsep semi terbuka dengan slit kaca yang melintang secara horizontal sehingga aktivitas proses persiapan minuman dapat terlihat oleh tamunya. Selain itu, bagian depan area dapur juga dibuat “ramai” dengan potongan kayu silinder yang dijejerkan pada seluruh bidang tembok. “Keramaian” desain inilah yang menjadi kekuatan visual yang unik sekaligus menjadi daya tarik bagi para tamunya. |
| < Prev | Next > |
|---|

















