|
Friday, 22 September 2006 |
Bangunan rumah tinggal karya Baskoro Tedjo ini mengandung
prinsip spatial order yang dipakai sebagai titik-tolak perancangan. Prinsip ini
erat kaitannya dengan memuaskan rasa nostalgia pemilik rumah terhadap rumah
lamanya.
Rumah Nostalgia
Sebelumnya, pemilik rumah menempati bangunan ini yang
dipakai sebagai tempat tinggal dan berdagang. Masa tinggal di sana
melekat erat dalam memori pemilik, baik tata letak ruangannya maupun
detail-detail visualnya. Sewaktu tiba saatnya membangun rumah baru di lahan baru, memori yang ingin dimunculkan
tersebut terbaca oleh Baskoro. Menurutnya, pemilik sudah mempunyai spatial
order atau kebiasaan serta kenangan yang berkenaan dengan penataan ruangan.
Contohnya, saat masih tinggal di bangunan lama mereka terbiasa dengan penataan
bagian depan sebagai tempat berdagang, bagian belakang untuk tempat tinggal dan
di antaranya ada sebuah innercourt.
Pengembangan Spatial Order
Menurutnya hemat Baskoro, spatial order adalah kata kunci
untuk mengembangkan konsep bangunan rumah. “Dari sinilah saya membuat kejutan
untuk pemilik rumah. Di seluruh bagian
rumah saya munculkan kembali memori yang pernah dialami dan dilihat pemilik
rumah”, papar pria yang masih aktif mengajar di almamaternya, ITB. Penerapanya
sendidi dilakukan bertahap. Pertama merencanakan ruangan-ruangan yang tertutup
dan tidak terlihat dari jalan dengan cara merendahkan ujung atau bagian depan
sehingga tampak landai dan hampir menutupi sebagian fasada. Kemudian
dirancanglah sebuah ruangan besar di bagian depan sebagai ruang serbaguna.
Pintu masuk utama berlokasi di ruangan besar ini yang juga difungsikan sebagai
garasi. Ukurannya selebar dua mobil berjajar. Ketika pintu tersebut terbuka,
visualisasi interior terbentang lebar namun dari arah jalan sudah terlindungi
dan disamarkan oleh bentuk atapnya. Itulah analogi rumah baru ini terhadap
rumah lama yang merupakan tipe bangunan niaga rumah tinggal.
Disamping pembagian ruangan yang berlapis, spatial order
juga tampak pada detail-detail ornamen bergaya art deco. Gaya
tersebut mencirikan rumah lama yang dibangun pada masa tahun 40-an, yang kini
ditampilkan kembali melalui tonjolan dinding berbentuk kotak-kotak serta
“krepyak” pada daun pintu atau jendela.
Melihat aksen-aksen tersebut pemilik tampak antusias dan merasa tidak
asing di rumah barunya karena mereka seolah-olah menemukan “dunia”-nya yang
dulu.
Versi Perluasan
Dunia masa lalu dipakai kembali. Karakteritik hunian
terdahulu diterapkan kembali. Masa kini diwakili obyek-obyek penanda, misalnya
sebuah gentong berisi air yang ditempatkan di innercourt menandai sumur yang dulu ada dan bersifat
pembangkit energi ruang. Antara ruangan satu dengan lainnya dikendalikan dengan
bukaan udara supaya tidak lembap sedangkan sementara seluruh pelapis dinding
dibuka sehingga aliran udara tidak ada yang mengendap di dalamnya. Udara segar dan cahaya matahari menerobos
ruangan sehingga rumah baru merupakan versi rumah lama yang diperluas dan lebih
baik dari kondisi rumah sebelumnya.
Kompleksitas di ruang dalam yang diolah dengan skala, warna,
cahaya dan bayangan menjadi kejutan dalam kemasan simpel. Bangunan ini
benar-benar membawa ketenangan dan kedamaian bagi penghuninya, baik fisik
maupun rohani.
Yuli Andyono
Lokasi : Rumah tinggal di Batununggal – Bandung
Arsitek : Baskoro Tedjo
Foto : Sjahrial Iqbal
Cuplikan:
Spatial order yaitu kebiasaan atau kenangan yang menyangkut
penataan ruang.
|