|
Arsitek selalu membuat “kejutan” baru dalam menciptakan
karya-karya mereka. Eksplorasi mereka terhadap bentuk massa, struktur, dan proporsi, didukung oleh
desain yang inovatif serta teknologi canggih semua difokuskan dalam
menghasilkan suatu karya baru. Dalam mencapai sebuah langkah kreatif eksplorasi
terhadap desain seolah-olah tidak ada batasnya. Bagi Ridwan Kamil, seorang
arsitek urban yang tengah mengeksplorasi desain-desain spektaktuler, desain
yang spontan dapat terwujud lebih unik dibandingkan dengan desain awal. Pada
desain rumahnya di Bandung Utara dia mewujudkan ide yang ekspresif dan kreatif lewat
bahasa arsitektur dengan balutan estetika dan desain yang berfungsi.
Bagi Emil, demikian sapaan sehari-harinya, mendesain adalah
ibarat melakukan sebuah ibadah. Dia mengerti betul aturan-aturan yang perlu
dipatuhi dan aturan yang masih fleksibel sehingga dapat menciptakan suatu
bahasa arsitektur dan bahasa interior yang unik pada setiap rancangannya. Kali
ini Emil berkesempatan untuk merancang rumahnya sendiri dengan menggabungkan pengalaman
kerja, pengetahuan serta impiannya untuk menciptakan sebuah hunian modern yang
menghadirkan ”semangat” desain dalam konteks kehidupan modern.
Secondary Skin yang fenomenal
Banyak ide yang ingin diwujudkan ketika mendesain rumahnya.
Dia membalut bangunan dengan kulit eksternal
(secondary skin) sebagai upaya untuk menyamarkan dinding rumah utama yang
sebagian besar terbuka dengan kaca setinggi plafon. Sang arsitek menerangkan bahwa
secondary skin ini bagaikan sebuah bidang, tirai, partisi, jendela dan juga
penghalang terhadap terik panas matahari di siang hari. Kulit ini tidak hanya
terlihat unik tetapi juga fungsional. Uniknya struktur kerangka kulit luar ini
dipadukan dengan bahan yang tidak lazim digunakan pada rumah, yaitu botol-botol
bekas yang jumlahnya mencapai 30 ribu buah. Botol-botol bekas tersebut ditempelkan
dan disusun satu sama lain untuk menghasilkan bidang-bidang partisi yang semi
transparan. Botol bekas yang dipilih adalah botol kratingdaeng yang berukuran
sedang dan berwarna oranye sehingga menghasilkan pencahayaan yang nyaman dan
alami ketika ditimpa matahari. Efek cahaya tersebut sesuai dengan tema warna
yang diterapkan pada interior rumahnya yaitu warna cokelat kayu.
Emil mengatakan bahwa pemakaian secondary skin mempunyai
falsafah tertentu seperti yang pernah dikemukakan oleh arsitek Budi Pradono
dalam rancangan beberapa bangunannya yaitu mengangkat citra tradisional dalam
bahasa modern. Jika diperhatikan secara teliti struktur kerangka secondary skin
merupakan paduan unsur modern dengan unsur tradisional yaitu botol-botol bekas
tadi.
Pada resto Kayumanis yang dikerjakan oleh Budi Pradono, efek
yang dihasilkan melalui struktur secondary skin ini memunculkan efek “dramatis”
ketika bersinggungan dengan cahaya matahari. Suasana terlihat “hangat” dan
nyaman.
Tekstur, Warna dan Unsur Melayang
Rumah ini
berdiri di atas lahan yang berbentuk trapesium, sehingga orientasi desainnya
harus disesuaikan dengan kondisi lahan. Bentuk massa utama berbentuk huruf “U” dengan bagian
depan rumah menyerong ke arah jalan sehingga menjadikan tata letak interiornya
terpisah-pisah. Namun Emil tetap mengomposisikan ruangan agar terbuka satu sama
lain melalui permainan efek tembus pandang dan dominasi garis kisi-kisi pada interiornya.
Di sini diterapkan permainan struktur split level dengan komposisi dua lantai di
massa bagian depan dan komposisi tiga lantai di massa bagian belakang. Kedua
massa ini mengapit sebuah inner-court yang difungsikan sebagai area buffer sekaligus
sebagai tempat relaksasi. Mengingat area ini sering dipergunakan sebagai tempat
berkumpul keluarga ataupun tempat pengajian maka ruang luar ini menjadi
perluasan dari ruang dalam.
Setiap
ruangan saling berhubungan dengan ruangan di sebelahnya. Misalnya ruangan tamu
di depan terhubung langsung dengan ruangan keluarga tetapi dipisahkan dengan
perbedaan lantai. Disisi lain, pada partisi yang melatarbelakangi rak TV dibuat
celah horizontal sehingga dapat terlihat aktivitas di ruang musala.
Secara menyeluruh, interior dalam dibuat nyaman dengan aksen
warna yang dominan. Contohnya terdapat ruangan keluarga yang elegan dengan
mebel dan aksesori interior yang menawan. Sebuah sofa egg chair berwarna merah
menjadi aksen yang turut menyemarakkan ruangan ini. Emil mengatakan bahwa aksen
ini dibuat untuk menampilkan pusat perhatian pada ruangan. Dari ruangan ini
terdapat akses ke arah inner courtyard melalui pintu kaca geser. Bukaan seperti
ini berfungsi untuk melancarkan sirkulasi udara dan juga melancarkan cahaya
matahari masuk ke dalam rumah sehingga rumah terasa sejuk dan terang.
Pemakaian
cat untuk tembok sengaja dibuat minim. Sebagai penggantinya dipakai material
bertekstur seperti batu alam, wallpaper, panel kayu, kisi-kisi besi dan beberapa
bahan lainnya yang memenuhi bidang-bidang interiornya. Berbagai material dipadukan
seperti batu andesit untuk pelapis lantai dan pelapis dinding yang di beri
coakan garis-garis sehingga terlihat unik. Detail-detail ini banyak yang diubah
oleh Emil saat pelaksanaan tahapan konstruksi, sehingga tercapai suasana dan
efek yang diinginkan.
Detail lain
yang turut diperhatikan oleh Emil adalah ”efek melayang” yang diterapkan pada
sebagian besar furnitur di dalam rumah. Contohnya meja dapur island berwarna putih yang mempunyai kaki meja yang
ditempatkan pada bagian tengah dalam sehingga tidak terlihat dan menimbulkan
efek melayang. Begitu pula dengan penggunaan beton yang membingkai sebuah chaise
longe berwarna merah di area courtyard. Di sini struktur betonnya ditopang oleh
kaki beton yang dibuat lebih ramping dan lebih kecil sehingga tercipta efek melayang pada struktur beton tadi.
Dengan pencahayaan dari lampu yang tersembunyi, efek visual melayang lebih
terlihat terutama menjelang malam hari.
Secara
keseluruhan semua elemen yang diciptakan berpadu harmonis penuh permainan garis
horizontal dan vertikal, serta mempunyai nilai ramah lingkungan karena menggunakan
botol-botol bekas sebagai elemen arsitekturnya.
Lokasi: Kediaman keluarga Ridwan Kamil di Bandung Utara.
Arsitek: Ridwan Kamil
Kontraktor: Azkar
Struktur: Dani Setiawan
|