|
Tampilan hunian ini memang menginspirasi. Penampilannya yang
merupakan perpaduan eksotik antara bangunan tropis, furnitur dan benda seni
dari beragam budaya (multikulturalisme) berani melawan arus tren minimalis
modern yang sedang digemari saat ini.
Dewasa ini rumah dinilai tidak hanya menjadi tempat tinggal tetapi
juga mencerminkan gaya hidup dan kepribadian pemiliknya. Inilah hal yang
diyakini oleh Atmadja Tjiptobiantoro pada kediaman keluarganya. Rumah ini
dibangun atas kerja sama dengan tim arsitek Bagoes S. Brotodiwirjo dari konsultan
Morposa Grya Cipta. Dulu, hunian yang berlokasi di kawasan Kemang Timur,
Jakarta Selatan ini merupakan rumah tua yang berdiri tahun 70-an. Bangunan
utamanya didominasi oleh struktur dari kayu jati dan dirancang bergaya tropis
asimetris dengan bukaan pada seluruh sisi hunian sehingga masuknya udara segar
dan cahaya alami ke dalam ruang terasa optimal. Kemudian tahun 80-an, keluarga
Tjiptobiantoro membeli properti ini sekaligus kaveling yang ditumbuhi kebun
rambutan di belakangnya sehingga total lahan mencapai 8000 m2. Selanjutnya, hunian
ini diperbaiki guna mengakomodasi kamar-kamar tidur pada lantai mezanin dan memisahkan
area publik pada lantai dasar serta halamannya.
KONSEP MULTIKULTURALISME
Meskipun berlatar belakang pendidikan arsitektur dan pernah
bekerja di sebuah kantor arsitek di Los Angeles Amerika Serikat, Atmadja sangat
mengerti dan menjunjung tinggi akar budaya Indonesia. Pengusaha muda yang lahir
di Surabaya, Jawa Timur ini menyadari benar bahwa arsitektur di Indonesia merupakan
hasil proses panjang sejarah bangsa dan terpengaruh oleh budaya dari berbagai negara
lain seperti India, Cina, Jepang, Arab dan Eropa. Koleganya, Bagoes yang juga
arsitek alumnus American InterContinental University di Los Angeles, Amerika Serikat,
memiliki falsafah yang sama dengan Atmadja. Saat kembali ke Jakarta tahun 90-an,
mereka berdua ingin mewujudkan sebuah hunian yang mencerminkan
multikulturalisme melalui proses revitalisasi rumah di kawasan Kemang Timur
Tujuh. Dengan lokasi yang tersembunyi di antara pohon-pohon tua dan besar serta
kontur lahan yang menurun ke arah belakang, rumah tua seluas 3000 m2 ini
berubah secara total.
Sebagai tahap awal, Atmadja dan Bagoes ingin menegaskan
perpaduan antara arsitektur vernakular dan arsitektur yang dipengaruhi budaya Asia
dan Eropa. Untuk tata ruang hunian, arsitek mengadopsi konsep hunian di Cina
yaitu terdiri dari gerbang masuk utama, pagar tinggi yang mengelilingi lahan
dan massa bangunan yang berorientasi ke arah taman dalam / inner courtyard di
bagian tengah rumah. Alur antarruang mulai dari pagar muka sampai dengan halaman
belakang ditata ulang. Selanjutnya alur tersebut dibagi menjadi beberapa babak dengan menonjolkan
keunikan setiap bagian hunian. Mula-mula, gerbang utamanya difungsikan sebagai
garasi dan pos satpam dengan nuansa Jawa kolonial yang di beri nama Lalijiwo.
Panel jati berukir di atas pintu gerbang ini merupakan hasil bongkaran sebuah hotel tua di Batavia pada zaman Belanda yang
menjadi acuan bagi setiap ukiran dalam bangunan utama.
Tahap berikutnya adalah pengolahan bangunan utama dan sayap
tambahan pada bagian selatan yang kini berfungsi sebagai kantor konsultan. Namun,
sosok bangunan tropis asimetris dengan focal point berupa konstruksi mezanin dan
plafon kayu serta beranda lebar di setiap sisi rumah tetap dipertahankan. Taman
dalamnya ditumbuhi oleh pohon peneduh seperti kecapi dan rambutan dan tanaman perdu
berupa pandan. Saat melangkah masuk, kita akan menemui ruangan luas yang terdiri
dari area foyer, area duduk dan tangga. Ruang ini memiliki ketinggian plafon yang
berbeda dengan langit-langit area duduk dan tangga yang tingginya sekitar 5 m
sehingga dapat dimanfaatkan menjadi mezanin untuk dua buah kamar tidur di
lantai atas. Ciri khas ruangan ini adalah berupa konstruksi mezanin dan plafon
kayu jati ekspos, penutup lantai berupa ubin terakota tua, deretan pintu
berkisi-kisi dan koleksi benda seni khas Asia sehingga ruangan ini dinamakan
ruang Ganesha.
Beranjak ke arah belakang, kita akan menemui ruang duduk bergaya
minimalis modern dengan bukaan luas menghadap ke arah taman dan gazebo beratap joglo
di halaman samping. Ruangan yang lantai, dinding dan plafonnya berwarna putih
polos ini memang dimaksudkan untuk memberi “jeda” sekaligus kejutan / surprise
setelah kita “lelah” memperhatikan detail dan dekorasi berat pada ruang-ruang
sebelumnya. Selain furnitur berupa buit in sofa dan sepasang kursi tahun 50-an,
ruangan ini juga dilengkapi dengan bunyi gemercik air pada kolam hias dan patung
Budha yang menebarkan aura ketenangan sehingga ruang ini dinamakan ruang Avelokitesvara.
Di ruangan berikutnya, tampak sebuah ruang jamuan resmi berukuran besar dan
memiliki bukaan di semua sisi. Ruangan yang menghadap ke arah pendopo agung, ini
juga dikelilingi oleh kolam, jalan setapak dan taman tropis. Ruangan ini berhasil
menjadi pusat perhatian dan “klimaks” dari seluruh alur kegiatan dalam hunian.
Ruangan makan formal ini dinamakan ruang Mahameru karena dirancang
bergaya Jawa kolonial dengan deretan pilaster pada dinding, plafon setinggi 7
m, pintu setinggi 3 m, penutup lantai dari batu pualam poles dan furnitur
bergaya Eropa klasik (Italian baroque). Sepasang lampu gantung dari Burma,
cermin besar dan meja konsol dari Eropa dan rangkaian lilin setinggi 2,7 m (torchere)
memberikan kesan yang anggun dan magis pada ruangan tersebut. Sebagai penutup
meja makan, digunakan kain batik bercorak Naga Seba khas Cirebon. Dari ruang
ini, kita dapat menikmati taman dan pelataran terbuka yang tenang dan beraura
mistis sehingga disebut Tirta Hening. Area yang biasa dipakai untuk pesta kebun
ini menunjang konsep rumah tropis yang dikelilingi oleh lanskap hijau. Di taman
samping juga terdapat gazebo berupa rumah kudus joglo berusia sekitar 200 tahun
yang melengkapi keanggunan hunian ini.
KONSEP TAMAN
Konsep lanskap pada Rumah Kemang Timur Tujuh ini lebih
difokuskan sebagai penyeimbang ruang terbuka yang memberikan efek keteduhan
sebagai ciri utama pada rumah di lingkungan tropis. Karena itu, konsep hijauan lebih
ditata sebagai taman tropis dengan gaya yang agak “liar”. Di sini aspek keteduhan lebih diutamakan dibandingkan
dengan aspek visualnya.
Beberapa innercourt dibentuk
di antara massa bangunan yang fungsinya sebagai “kantung” untuk melancarkan
aliran udara segar ke ruang-ruang dalam. Pohon yang tinggi dengan tanaman
gantung dan semak-semak menjadi latar belakang pemandangan yang tampak dari
setiap ruang-ruang dalam yang selalu memiliki bukaan ke arah luar. Diantara komposisi hijau dihadirkan pula unsur
air dalam beragam desain.
Jalur pedestrian menghubungkan antarmassa bangunan yang
terpisah. Jalur akses dengan bahan pengerasan permanen menegaskan alur agar
pengguna tidak menjadi kehilangan arah ketika mengunjungi sudut-sudut taman
yang sangat luas ini. Sebuah gazebo berupa joglo khas dari Jawa yang terletak
di samping bangunan induk dimanfaatkan sebagai ruang duduk semi outdoor berukuran
mungil. Penempatan joglo sengaja dibuat lebih rendah dari posisi rumah
induk untuk memberikan dimensi yang
lebih baik. Kolam air rendam mengelilingi bangunan joglo dengan tanaman ginger
dan pandan khas tanaman tropis Indonesia. Hal ini menjadikan hunian ini semakin
menegaskan kesan tropis nusantara pada taman ini.
Petak-petak berupa kolam rendam yang diisi tanaman air
menjadi latar depan yang memisahkan teras bangunan induk dengan Taman Tirta
Hening yang dipakai untuk acara santai seperti pesta kebun. Suasana eksotik tercipta
di sekitar area ini, dengan bangunan joglo yang berada di seberang kolam renang
sebagai eye catcher di antara permukaan datar air yang hening. Di pagi hari
refleksi kanopi pepohonan yang terpantul dari permukaan air yang tenang menambah suasana menjadi “dramatis”.
( Imelda Anwar dan Viva Rahwidhiyasa )
Fotografer : Ahkamul Hakim dan Sjahrial Iqbal
Lokasi : Kediaman Atmadja Tjiptobiantoro atau Kemang Timur
Toedjoeh Residence,
Jakarta Selatan
Desainer : Bagoes S. Brotodiwirjo dari Morposa Grya Cipta
|