|
Dewasa ini, club house bukan sekadar fasilitas bersama tetapi
juga sebagai wujud representasi dari sebuah kompleks hunian eksklusif di
kota-kota besar. Tempat ini tidak hanya didukung oleh ruang-ruang fungsional tetapi
juga oleh teduhnya taman yang terpadu dengan konsep arsitektur dan interiornya.
Bangunan yang diliput ini merupakan club house dari kompleks
perumahan Grup Medco yang berlokasi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Awalnya, kompleks perumahan ini terdiri dari 10 kaveling rumah lama yang
dibangun sekitar tahun 70-an. Namun, seiring dengan perubahan gaya hidup
masyarakat, maka sebagian dari rumah lama dibongkar hingga membentuk lahan
kosong seluas 2064 m2 dan dibangun club house baru yang diberi nama Griya
Jenggala Wana Asri yang memiliki luas bangunan 7242 m2.
Sesuai dengan konsep bangunan sebuah club house, tempat ini dilengkapi
dengan fasilitas bersama untuk kepentingan perusahaan di antaranya atau aula
untuk acara standing party, galeri, ruangan rapat, area kantor, kamar tidur
pemilik, home theater, ruangan tidur tamu serta dapur dengan kapasitas yang
sangat besar seperti pada sebuah gedung pertemuan. Selain itu, club house juga
dilengkapi dengan fasilitas olah raga seperti lapangan tennis dengan jogging
track nya dan kolam renang yang menempati area innercourt. Di sekitar bangunan club
house masih dipertahankan bangunan rumah-rumah lama yang dihuni direksi.
Konsep perancangan bangunan ini ditangani oleh Retno Dewi
Arifin yang berupaya menampilkan ciri khas rumah asli di area Kebayoran lalu
“dikemas” dalam wujud kontemporer serta dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan saat
ini. Kawasan Kebayoran dikenal memiliki banyak rumah-rumah lama peninggalan arsitektur
zaman kolonial yang kini menjadi cagar budaya yang harus dilestarikan. Bangunannya
ada yang menyerupai bungalo bergaya tropis kolonial dan ada pula yang beratap
datar, kental dengan nuansa art deco. Selain itu, sekitar 30 persen dari total
luas lahan hunian harus menjadi ruang terbuka hijau sesuai dengan peraturan di kawasan ini. Ruangan dalamnya
berorientasi ke arah luar untuk mengantisipasi perubahan cuaca.
Sebagai langkah awal arsitek mengoptimalkan kondisi lahan dengan
menempatkan tiga massa bangunan yaitu satu massa bangunan utama di muka dan dua
massa bangunan pendukung di belakang. Sisi depan bangunan utama menghadap ke
kolam hias dan air mancur sedangkan sisi belakangnya menghadap ke arah kolam ikan dan lapangan tenis. Area di antara
kedua massa pendukung diolah menjadi inner courtyard dengan kolam renang dan
teras yang lebar. Arsi-tek memilih tipikal bungalo bergaya tropis kolonial
sebagai acuan wujud bangu-nan yang ditandai dengan atap perisai yang sudut kemiringannya
cukup curam yaitu 60O. Pemakaian atap ini menciptakan sosok bangunan yang
kurang propor-sional sehingga arsitek “memecah” atap menjadi beberapa buah atap.
Atap perisai yang curam ini juga menciptakan ruang loteng
yang tinggi sehingga arsitek mengolahnya menjadi void dengan mezanin di sekelilingnya
dan memanfaatkannya untuk galeri serta ruang simpan benda seni. Ciri khas lain
dari rumah Kebayoran yang juga diadopsi adalah bukaan lebar untuk
mengoptimalkan sirkulasi udara segar dan masuknya cahaya alami. Area transisi dan
area penghubung seperti teras (patio), balkon dan koridor juga dominan dan dimanfaatkan
untuk aktivitas penghuni agar dapat menikmati pemandangan ke arah luar. Area pintu
masuk dilengkapi oleh portico untuk drop off sedangkan beberapa koridor ditopang
oleh deretan kolom dan dinaungi oleh pergola kayu atau berupa teritis yang
cukup lebar.
Arsitek juga memilih material alami dan mengekspos ciri khas
warna dan tekstur asli dari bahan alami tersebut sehingga menegaskan kesan natural
sekaligus “merangkul” lanskap di luar ke dalam rumah. Hal ini sejalan dengan
keinginan pemilik agar perawatan rumah menjadi mudah dan penampilannya tetap elegan
tetapi tidak berlebihan. Contohnya, bagian kaki bangunan yang biasanya ditandai
oleh dinding berlapis batu alam belah (stone plinth) masih diterapkan pada
deretan kolom di koridor. Lantai carport dilapisi oleh batu kali belah sedangkan
penutup atapnya dari genteng tanah liat model lama. Seluruh lantai dalam rumah
dilapisi oleh marmer .
Untuk interiornya, diciptakan kesan nyaman dan ele-gan
sekaligus mendukung konsep arsitektur yang bergaya kolonial. Caranya, arsitek
banyak memakai kayu sebagai pelapis dinding, lantai, plafon dan
kusen area publik seperti aula, ruang rapat sampai ruangan kerja sehingga
menghadirkan “kehangatan”. Jenis kayu yang dipakai berbeda-beda, di antaranya kayu
merbau dipakai untuk kusen dan “membungkus” kolom utama bangunan. Selain itu
adapula kayu meranti merah untuk pelapis dinding, kayu ebony untuk pelapis anak
tangga dan lantai home theater serta kayu ulin untuk balok dan kolom pergola.
Plafon yang dirancang mengikuti kemiringan atap juga dilapisi oleh kayu meranti
putih. Sofa dan kursi berlengan yang simpel dan empuk dipilih untuk di
tempatkan di area duduk di galeri lantai atas, ruang rapat dan ruang home
theater.
Arsitek menempatkan furnitur bergaya neo klasik Eropa di
area kantor agar menghadirkan citra yang berkelas seperti deep buttoned
Chesterfield sofa dan armchair berlapis kulit. Pada area ini dan juga ruangan
rapat, terdapat perpaduan furnitur berwarna hijau yang tampil segar di antara
dominasi warna-warna cokelat dan krem. Kamar tidur dan kamar mandi utama juga
ditata dengan nuansa yang serupa sedangkan area duduk di teras menggunakan
kursi dari besi ulir serta kayu yang tahan cuaca. Khusus di home theater,
seluruh dindingnya dipasang material kedap suara untuk menghasilkan akustik
ruangan yang berkualitas. Berbagai macam benda seni bermutu seperti lukisan,
patung dan aksesori modern di tata secara apik. Tata pencahayaan (lighting) mulai dari jenis downlight,
spotlight, sampai lampu berdiri juga menjadi perhatian arsitek sehingga suasana
ruangan menjadi lebih hidup.
Taman yang mengelilingi kompleks berfungsi sebagai sebagai “pagar”
yang melindungi area di dalam terhadap lingkungan di luar yang lalu lintasnya
cukup padat. Dengan upaya ini konsep hijauan dapat berfungsi untuk menjaga
kualitas udara sekaligus dapat meredam suara berisik di seputar perumahan.
Konsep taman dibuat alami menyerupai hutan dengan mempertahankan pohon-pohon
lama (existing plant) berupa pohon mahoni yang sudah tumbuh tinggi,
mengelilingi seputar area kompleks yang mencakup area seluas satu blok. Selain itu juga ditanam beberapa jenis
pohon-pohon langka yang sudah jarang ditanam di lingkungan permukiman seperti
buni, namnam, manggis dan tanaman produktif lainnya. Gambaran konsep seperti
inilah yang melahirkan penamaan Griya Jenggala Wana Asri, yaitu konsep
pemukiman yang menyerupai wana yang artinya hutan.
Agar lebih menarik lagi beberapa tanaman eksotis ditanam di beberapa
sudut yang dianggap menjadi pusat berbagai aktivitas. Misalnya sekumpulan
koleksi palem dan tanaman keras yang unik mengisi sudut di sekitar area pintu
masuk. Beberapa jenis tanaman eksotis tersebut memiliki keunikan bentuk dan
warna seperti jenis variegata dan golden dari beberapa koleksi unik
talas-talasan (sente), Philodendron, tanduk rusa dan Monstera. Ada pula yang dilengkapi
dengan tanaman hias berbunga yang menempati area-area di seputar ruang-ruang
pribadi. Tidak lupa pula ditanam pohon kelapa sawit yang menjadi simbol tanaman
tropis.
Mengelilingi lapangan tenis dibuat jogging track yang dapat
dimanfaatkan sebagai pemanasan (warming up) sebelum bermain tenis. Pola jogging
track mengikuti tepi kaveling di bawah keteduhan pohon yang rindang. Agar tidak
monoton, di sepanjang jalur jogging tersebut dibuat “kejutan” pada setiap bagian
sebagai ‘break’ yang tidak membosankan, seperti area duduk dari susunan batu
alam, patung, jajaran pohon buah langka atau bordes dengan sebuah pedestal dan
benda seni yang cantik.
Selain aspek estetika, pemilik juga peduli terhadap konsep
ramah lingkungan yang belakangan banyak menjadi bahan pembicaraan. Upaya ini tidak hanya mempertahankan pohon-pohon besar berkayu yang
efektif menyerap gas buang akibat polusi udara, juga membuat resapan air tanah pada beberapa titik yang
tersebar di area perumahan. Untuk penutupan tanah diupayakan semaksimal mungkin
menggunakan bahan-bahan yang masih memungkinkan terjadinya resapan air kembali
ke dalam tanah, seperti batu belah yang disusun seperti mozaik pada area carport
serta pemakaian rumput di antara taman.
Lokasi : Griya Jenggal
Wana Asri – Kebayoran Baru , Jakarta Selatan
Konsep Arsitektur dan interior : Retno Dewi Arifin
Konsep Dasar Lanskap : Made Wijaya
Konsep Pengembangan dan Pelaksana Lanskap : Heri Syaefudin dari Gonku Nursery
|