| Program Estetika Dan Konsep |
|
|
|
| Thursday, 01 June 2006 | |
|
Estetika bukanlah prioritas yang ditawarkan oleh
Ilmansyah, M.Arch dalam karyanya kali ini. Baginya, konsep dan program yang
benar jauh lebih penting dan bila tercapai bahkan dapat menampilkan estetika
Dilihat dari sudut pandang tersebut keberhasilan sebuah rancangan bangunan harus bisa dilihat dari betapa lancarnya aktivitas yang berlangsung di situ. Pada waktu menyusun konsep dan rencana aktivitas, Ilman dihadapkan pada dilema, apakah konsep dan program tersebut mampu melahirkan suatu kesan arsitektur atau justru larut dalam realitas? Padahal tujuan Ilman sebetulnya sederhana saja, yaitu menanamkan kecintaan membaca pada segala usia melalui praktik edukasi yang menyeluruh. Kebetulan tema materi yang diangkatnya adalah Islam sebagai landasan konsep dan program pendidikan jangka panjang. Ilman menyadari bahwa setiap unsur edukasi harus didukung program yang jelas dan terarah untuk setiap lapisan masyarakat dalam rangka mencapai tujuan yang lebih hakiki. Itulah sebabnya penerapannya berupa sebuah ruang yang komperehensif. Di situ para pengguna bangunan harus dapat mengalir dengan bebas. Pintu masuknya dibuat di sudut bangunan untuk memanfaatkan lahan sudut yang terletak di pinggir jalan raya sedangkan kedua sisinya diolah sesuai dengan konsep dan program yang dicanangkan, tidak melulu mengandalkan polesan estetik. Sebagai ruangan utama, lantai dasar diolah untuk menampung beragam aktivitas mulai dari kegiatan membaca, makan dan minum, berinteraksi di dunia maya melalui fasilitas internet dan beribadah. Program ruangannya dirancang dengan pola grid sehingga satu sama lain tampak saling berhubungan dengan wajar dan tidak berlebihan. Satu ruangan membaca dan pajang buku dapat menampung sekitar 30 orang. Kapasitas tersebut pada saat-saat tertentu dapat meluap ketika diadakan dialog antara nara-sumber dan pengunjung. Solusinya, kapasitas diperluas dengan ruangan tengah yang mirip sebuah “kedai” karena ukurannya tidak terlalu besar. “Kedai” ini dibuat semi transparan karena atapnya dibuka sehingga cahaya matahari cukup berlimpah. Disini, siapapun dapat melakukan kegiatan membaca, makan dan minum bahkan sambil mengikuti acara dialog di ruangan membaca melalui dinding kaca tembus pandang. Disamping “kedai” tadi ada ruangan panjang dengan lantai yang lebih tinggi untuk tempat makan dan minum. Di sini pengunjung duduk lesehan tanpa kursi, namun kenyamanan tetap terjamin karena tersedia bantal-bantal besar untuk alas duduk dan senderan punggung yang empuk di dinding. Di sekeliling dinding dibuat rak untuk memajang bermacam-macam judul buku yang dapat dibaca di tempat. Bila ingin mengeksplorasi dunia Islam lebih jauh tersedia fasilitas internet. Disamping ruangan utama yang bersifat umum, lantai dasar juga dilengkapi musala kecil yang stylish. Jajaran batang pohon bambu dipasang sebagai pemisah antara tempat wudu dan salat sehingga sekilas ruangan ini tampak seperti ruang tatami ala Jepang. Pemisahan antara area ibadah dan area umum dilakukan dengan pintu masuk yang terpisah. Lantai atas, di lain pihak, dirancang Ilman untuk beragam kegiatan bersama yang lebih spesifik. Ruangan terbuka di tengah bangunan diolah sebagai sebuah taman kering dengan finishing sederhana dan mudah perawatannya, yaitu hanya menggunakan plesteran kasar. Dinding-dinding plesteran tersebut ditumbuhi tanaman rambat liar yang memang direncanakan sebagai penghijauan interior pengganti pohon sekaligus untuk mengurangi panas di situ. Pada saatnya nanti tanaman rambat tersebut akan rimbun dan menyegarkan ruangan terbuka itu Jika difungsikan secara maksimal oleh pengelola bangunan, ruangan terbuka tersebut akan memberi manfaat untuk kepentingan bersama. Dalam karya ini penilaian arsitektur dan estetika lebih tertuju ke kualitas ruang Pusat perhatian diarahkan ke elemen-elemen penunjang aktivitas daripada sekadar estetika material. Kini sebuah sarana edukatif tampil mengikuti konsep dan program arsitektur yang insidental. Yuli Andyono |
| < Prev |
|---|


















